Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/Seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Guna menekan permasalahan sampah dan meningkatkan daya serap air tanah, Bupati Berau, Sri Juniarsih mengajak seluruh masyarakat untuk mulai memanfaatkan Lubang Resapan Biopori (LRB) di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
"Metode ini sebenarnya sangat sederhana tapi memberikan dampak yang besar bagi lingkungan," ujar Sri.
Ia pun menjelaskan, Lubang biopori sendiri merupakan teknik pengolahan sampah organik dengan cara membuat lubang di dalam tanah, lalu mengisinya dengan limbah organik rumah tangga. Sampah tersebut kemudian diuraikan secara alami oleh mikroorganisme tanah, sehingga menciptakan saluran yang membantu penyerapan air dan menyuburkan tanah.
"Banyak manfaat dari biopori. Bukan hanya membantu penyerapan air, tetapi juga mampu mengubah sampah organik menjadi pupuk," tuturnya.
dirinya pun menilai bahwa penggunaan biopori dapat membantu mengurangi resiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, sekaligus menghasilkan kompos yang berguna bagi tanaman.
Selain itu, dirinya pun menyampaikan berdasarkan Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) mencatat bahwa pada tahun 2024, jumlah timbulan sampah mencapai 54.568,41 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 32,33 persen belum tertangani dengan baik.
"Ini bukan hal yang bisa kita anggap sepele. Kalau tidak segera ditangani, sampah bisa menjadi masalah serius," tegasnya.
Sementara itu, ia juga menyebut bahwa sosialisasi mengenai biopori sudah dilakukan, termasuk dalam forum Musrenbang di berbagai kecamatan. oleh karena itu, ia pun mendorong pemerintah kampung untuk menjadi motor penggerak di lapangan dalam mengajak warga menerapkan biopori secara luas.
"Beberapa kampung sudah ditetapkan sebagai wilayah rawan banjir. Maka, penerapan biopori bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi genangan air," ujarnya.
Dirinya juga menyoroti perlunya perubahan pola pikir masyarakat soal pengelolaan sampah. Menurutnya, masyarakat masih terlalu bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) untuk penanganan limbah.
"TPA bukan tempat untuk memilah sampah. Sampah harus sudah dipilah dari rumah tangga. Di TPA hanya diproses lebih lanjut, seperti mencacah plastik menjadi bijih untuk didaur ulang," tuturnya.
Oleh karena itu, Sri berharap program biopori dapat menjadi gerakan bersama yang melibatkan semua pihak. Kepada mereka yang sudah lebih dulu menerapkannya, Sri meminta agar bisa menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.
"Ini bukan pekerjaan yang sulit. Yang kita butuhkan hanya kesadaran dan kerja kolektif. Kalau kita semua bergerak, lingkungan bersih dan sehat bisa tercapai," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. (Foto: Baiq Eliana/Seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Guna menekan permasalahan sampah dan meningkatkan daya serap air tanah, Bupati Berau, Sri Juniarsih mengajak seluruh masyarakat untuk mulai memanfaatkan Lubang Resapan Biopori (LRB) di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
"Metode ini sebenarnya sangat sederhana tapi memberikan dampak yang besar bagi lingkungan," ujar Sri.
Ia pun menjelaskan, Lubang biopori sendiri merupakan teknik pengolahan sampah organik dengan cara membuat lubang di dalam tanah, lalu mengisinya dengan limbah organik rumah tangga. Sampah tersebut kemudian diuraikan secara alami oleh mikroorganisme tanah, sehingga menciptakan saluran yang membantu penyerapan air dan menyuburkan tanah.
"Banyak manfaat dari biopori. Bukan hanya membantu penyerapan air, tetapi juga mampu mengubah sampah organik menjadi pupuk," tuturnya.
dirinya pun menilai bahwa penggunaan biopori dapat membantu mengurangi resiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, sekaligus menghasilkan kompos yang berguna bagi tanaman.
Selain itu, dirinya pun menyampaikan berdasarkan Data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) mencatat bahwa pada tahun 2024, jumlah timbulan sampah mencapai 54.568,41 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 32,33 persen belum tertangani dengan baik.
"Ini bukan hal yang bisa kita anggap sepele. Kalau tidak segera ditangani, sampah bisa menjadi masalah serius," tegasnya.
Sementara itu, ia juga menyebut bahwa sosialisasi mengenai biopori sudah dilakukan, termasuk dalam forum Musrenbang di berbagai kecamatan. oleh karena itu, ia pun mendorong pemerintah kampung untuk menjadi motor penggerak di lapangan dalam mengajak warga menerapkan biopori secara luas.
"Beberapa kampung sudah ditetapkan sebagai wilayah rawan banjir. Maka, penerapan biopori bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi genangan air," ujarnya.
Dirinya juga menyoroti perlunya perubahan pola pikir masyarakat soal pengelolaan sampah. Menurutnya, masyarakat masih terlalu bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) untuk penanganan limbah.
"TPA bukan tempat untuk memilah sampah. Sampah harus sudah dipilah dari rumah tangga. Di TPA hanya diproses lebih lanjut, seperti mencacah plastik menjadi bijih untuk didaur ulang," tuturnya.
Oleh karena itu, Sri berharap program biopori dapat menjadi gerakan bersama yang melibatkan semua pihak. Kepada mereka yang sudah lebih dulu menerapkannya, Sri meminta agar bisa menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.
"Ini bukan pekerjaan yang sulit. Yang kita butuhkan hanya kesadaran dan kerja kolektif. Kalau kita semua bergerak, lingkungan bersih dan sehat bisa tercapai," tandasnya. (Adv)
(Sf/Rs)