Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau
Launching Bahasa Banua sebagai pelajaran muatan lokal jenjang SMP tahun ajaran 2026/2027, di Aula SPNF-SKB Kabupaten Berau, Jalan Ramania, Tanjung Redeb. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus memperkuat upaya pelestarian budaya daerah melalui dunia pendidikan. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menerapkan Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal (Mulok) bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Berau.
Program tersebut resmi diluncurkan oleh Bupati Berau yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, M Said, dalam kegiatan Launching Penerapan Kurikulum Mulok Bahasa Banua jenjang SMP yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027, di Aula SPNF-SKB Kabupaten Berau, Jalan Ramania, Tanjung Redeb, Kamis (2/7/2026).
Sekda Berau, M Said, mengatakan penerapan Bahasa Banua sebagai muatan lokal merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga identitas budaya masyarakat Berau. Menurutnya, bahasa daerah tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.
"Bahasa Banua adalah identitas masyarakat asli Berau. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen menghadirkannya di lingkungan sekolah agar generasi muda mengenal, memahami, dan mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari," ujar Said.
Ia juga menyampaikan, saat ini kondisi Bahasa Banua cukup memprihatinkan. Dari sekitar 300 ribu penduduk Kabupaten Berau, hanya sekitar 11.200 orang yang masih menggunakan Bahasa Banua dalam kehidupan sehari-hari.
"Sebagian besar penutur tersebut berada di wilayah Gunung Tabur, Kampung Gurimbang, dan Gunung Sari. Kalau melihat jumlah penuturnya saat ini, tentu kita harus segera mengambil langkah nyata. Jika tidak dilakukan pelestarian secara serius, bukan tidak mungkin Bahasa Banua akan semakin ditinggalkan bahkan terancam punah," katanya.
Sementara itu, dirinya menekankan bahwa upaya pelestarian kini semakin kuat setelah Dinas Pendidikan Berau berhasil membakukan Bahasa Banua melalui penyusunan kamus bahasa daerah dan buku yang telah memiliki legalitas resmi. Sehingga, keberadaan kamus tersebut menjadi dasar penyusunan materi pembelajaran di sekolah.
"Alhamdulillah, Bahasa Banua kini sudah dibakukan dan memiliki kamus resmi. Ini menjadi tonggak penting karena sebelumnya penyusunannya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Sekarang sudah memiliki legalitas sehingga dapat dijadikan bahan ajar di sekolah," jelasnya.
Namun, Said menilai, pembelajaran Bahasa Banua tidak berarti mengesampingkan pentingnya penguasaan bahasa asing. Sebagai daerah tujuan pariwisata, masyarakat Berau tetap perlu menguasai bahasa Inggris. Namun, pelestarian bahasa daerah harus berjalan beriringan agar identitas budaya tidak hilang.
"Kita berharap anak-anak kita paling tidak memahami Bahasa Banua. Kalaupun belum bisa menggunakan bahasa halusnya, minimal mampu berkomunikasi dalam Bahasa Banua sehari-hari. Dengan begitu jumlah penuturnya akan terus bertambah dan bahasa ini tetap lestari," tuturnya. (Adv)
(Sf/Lo)
Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau

Launching Bahasa Banua sebagai pelajaran muatan lokal jenjang SMP tahun ajaran 2026/2027, di Aula SPNF-SKB Kabupaten Berau, Jalan Ramania, Tanjung Redeb. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus memperkuat upaya pelestarian budaya daerah melalui dunia pendidikan. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menerapkan Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal (Mulok) bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Berau.
Program tersebut resmi diluncurkan oleh Bupati Berau yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, M Said, dalam kegiatan Launching Penerapan Kurikulum Mulok Bahasa Banua jenjang SMP yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027, di Aula SPNF-SKB Kabupaten Berau, Jalan Ramania, Tanjung Redeb, Kamis (2/7/2026).
Sekda Berau, M Said, mengatakan penerapan Bahasa Banua sebagai muatan lokal merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga identitas budaya masyarakat Berau. Menurutnya, bahasa daerah tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.
"Bahasa Banua adalah identitas masyarakat asli Berau. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen menghadirkannya di lingkungan sekolah agar generasi muda mengenal, memahami, dan mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari," ujar Said.
Ia juga menyampaikan, saat ini kondisi Bahasa Banua cukup memprihatinkan. Dari sekitar 300 ribu penduduk Kabupaten Berau, hanya sekitar 11.200 orang yang masih menggunakan Bahasa Banua dalam kehidupan sehari-hari.
"Sebagian besar penutur tersebut berada di wilayah Gunung Tabur, Kampung Gurimbang, dan Gunung Sari. Kalau melihat jumlah penuturnya saat ini, tentu kita harus segera mengambil langkah nyata. Jika tidak dilakukan pelestarian secara serius, bukan tidak mungkin Bahasa Banua akan semakin ditinggalkan bahkan terancam punah," katanya.
Sementara itu, dirinya menekankan bahwa upaya pelestarian kini semakin kuat setelah Dinas Pendidikan Berau berhasil membakukan Bahasa Banua melalui penyusunan kamus bahasa daerah dan buku yang telah memiliki legalitas resmi. Sehingga, keberadaan kamus tersebut menjadi dasar penyusunan materi pembelajaran di sekolah.
"Alhamdulillah, Bahasa Banua kini sudah dibakukan dan memiliki kamus resmi. Ini menjadi tonggak penting karena sebelumnya penyusunannya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Sekarang sudah memiliki legalitas sehingga dapat dijadikan bahan ajar di sekolah," jelasnya.
Namun, Said menilai, pembelajaran Bahasa Banua tidak berarti mengesampingkan pentingnya penguasaan bahasa asing. Sebagai daerah tujuan pariwisata, masyarakat Berau tetap perlu menguasai bahasa Inggris. Namun, pelestarian bahasa daerah harus berjalan beriringan agar identitas budaya tidak hilang.
"Kita berharap anak-anak kita paling tidak memahami Bahasa Banua. Kalaupun belum bisa menggunakan bahasa halusnya, minimal mampu berkomunikasi dalam Bahasa Banua sehari-hari. Dengan begitu jumlah penuturnya akan terus bertambah dan bahasa ini tetap lestari," tuturnya. (Adv)
(Sf/Lo)