Pemerintah Kabupaten Berau

    Pemerintah Kabupaten Berau

    Karhutla Makin Ekstrem, Wabup Berau Dorong Peralatan Pemadam Segera Dimanfaatkan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    11 September 2026 pukul 18:49 WITA

    Wabup Berau, Gamalis saat meninjau gudang logistik BPBD Berau serta Posko Damkar Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai semakin ekstrem mendorong Pemerintah Kabupaten Berau untuk mengoptimalkan seluruh sarana dan prasarana pemadaman yang tersedia. 

    Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis meminta peralatan yang masih tersimpan di gudang segera diturunkan untuk mendukung penanganan di lapangan.

    Hal itu disampaikannya saat meninjau gudang logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau serta Posko Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Berau, Jumat (11/9/2026).

    Dalam peninjauan tersebut, Gamalis melihat langsung berbagai perlengkapan pemadam yang tersedia. Ia menemukan pompa portable apung yang kondisinya masih baru namun belum dimanfaatkan. 

    "Saya melihat ada pompa portable apung yang masih baru dan berdebu. Itu bagus sekali untuk kondisi sungai kita, harus segera diturunkan," ujar Gamalis.

    Selain itu, ia juga menyoroti kondisi selang pemadam yang digunakan di lapangan. Sejumlah selang disebut sudah mengalami kebocoran, kurang panjang, bahkan terdapat yang menggunakan ikatan karet.

    Dirinya menilai kebutuhan peralatan untuk penanganan karhutla berbeda dengan pemadaman kebakaran di kawasan permukiman. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan dan kembali memunculkan api sehingga membutuhkan peralatan yang memadai.

    "Begitu juga selang, di lapangan banyak yang bocor, kurang panjang, bahkan diikat karet. Sementara karhutla ini lahannya gambut dan berbara yang dapat bertahan dan kembali memunculkan api sehingga membutuhkan peralatan yang memadai," katanya.

    Oleh karena itu, ia meminta seluruh sarana dan prasarana yang tersedia di gudang BPBD segera didistribusikan kepada personel yang bertugas. Menurutnya, peralatan tersebut memang disediakan untuk mendukung pelayanan dan penanganan bencana di tengah masyarakat.

    "Kapan lagi mau diturunkan kalau bukan sekarang? Barang-barang itu dibeli untuk melayani masyarakat, bukan untuk ditumpuk di gudang," tegasnya.

    Dirinya juga meminta seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla menghilangkan ego sektoral. Menurutnya, kondisi kebakaran yang terjadi di Berau membutuhkan kerja bersama antara BPBD, Damkar, Manggala Agni, KPH, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran (Redkar), TNI, Polri dan masyarakat.

    "Kalimantan Timur khususnya Berau sedang terbakar. Jangan sibuk mencari penyebabnya dulu, dibakar atau tidak dibakar, yang jelas api harus mati," ujarnya.

    Ia menegaskan pemadaman tidak akan berjalan maksimal jika setiap instansi bergerak sendiri. Kolaborasi dan koordinasi antarunsur menjadi kunci untuk mempercepat penanganan di lapangan.

    "Untuk memadamkan api, kita harus berkolaborasi. Kalau bergerak masing-masing, yakinlah itu tidak akan selesai di lapangan," katanya.

    Selain itu, Gamalis mengakui armada dan peralatan pemadam yang dimiliki pemerintah daerah masih terbatas jika dibandingkan dengan kondisi karhutla saat ini. Karena itu, dukungan perusahaan swasta juga diperlukan untuk membantu pengerahan armada dan peralatan ke lokasi kebakaran.

    "Armada Damkar sendiri juga masih belum dapat mencukupi, terutama alat infrastruktur seperti selang, mesin dan lain sebagainya. Kita sangat membutuhkan bantuan dari pihak perusahaan untuk mengirimkan armadanya," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)

    Pemerintah Kabupaten Berau

    Pemerintah Kabupaten Berau

    Karhutla Makin Ekstrem, Wabup Berau Dorong Peralatan Pemadam Segera Dimanfaatkan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    11 September 2026 pukul 18:49 WITA

    Wabup Berau, Gamalis saat meninjau gudang logistik BPBD Berau serta Posko Damkar Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai semakin ekstrem mendorong Pemerintah Kabupaten Berau untuk mengoptimalkan seluruh sarana dan prasarana pemadaman yang tersedia. 

    Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis meminta peralatan yang masih tersimpan di gudang segera diturunkan untuk mendukung penanganan di lapangan.

    Hal itu disampaikannya saat meninjau gudang logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau serta Posko Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Berau, Jumat (11/9/2026).

    Dalam peninjauan tersebut, Gamalis melihat langsung berbagai perlengkapan pemadam yang tersedia. Ia menemukan pompa portable apung yang kondisinya masih baru namun belum dimanfaatkan. 

    "Saya melihat ada pompa portable apung yang masih baru dan berdebu. Itu bagus sekali untuk kondisi sungai kita, harus segera diturunkan," ujar Gamalis.

    Selain itu, ia juga menyoroti kondisi selang pemadam yang digunakan di lapangan. Sejumlah selang disebut sudah mengalami kebocoran, kurang panjang, bahkan terdapat yang menggunakan ikatan karet.

    Dirinya menilai kebutuhan peralatan untuk penanganan karhutla berbeda dengan pemadaman kebakaran di kawasan permukiman. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan dan kembali memunculkan api sehingga membutuhkan peralatan yang memadai.

    "Begitu juga selang, di lapangan banyak yang bocor, kurang panjang, bahkan diikat karet. Sementara karhutla ini lahannya gambut dan berbara yang dapat bertahan dan kembali memunculkan api sehingga membutuhkan peralatan yang memadai," katanya.

    Oleh karena itu, ia meminta seluruh sarana dan prasarana yang tersedia di gudang BPBD segera didistribusikan kepada personel yang bertugas. Menurutnya, peralatan tersebut memang disediakan untuk mendukung pelayanan dan penanganan bencana di tengah masyarakat.

    "Kapan lagi mau diturunkan kalau bukan sekarang? Barang-barang itu dibeli untuk melayani masyarakat, bukan untuk ditumpuk di gudang," tegasnya.

    Dirinya juga meminta seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla menghilangkan ego sektoral. Menurutnya, kondisi kebakaran yang terjadi di Berau membutuhkan kerja bersama antara BPBD, Damkar, Manggala Agni, KPH, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran (Redkar), TNI, Polri dan masyarakat.

    "Kalimantan Timur khususnya Berau sedang terbakar. Jangan sibuk mencari penyebabnya dulu, dibakar atau tidak dibakar, yang jelas api harus mati," ujarnya.

    Ia menegaskan pemadaman tidak akan berjalan maksimal jika setiap instansi bergerak sendiri. Kolaborasi dan koordinasi antarunsur menjadi kunci untuk mempercepat penanganan di lapangan.

    "Untuk memadamkan api, kita harus berkolaborasi. Kalau bergerak masing-masing, yakinlah itu tidak akan selesai di lapangan," katanya.

    Selain itu, Gamalis mengakui armada dan peralatan pemadam yang dimiliki pemerintah daerah masih terbatas jika dibandingkan dengan kondisi karhutla saat ini. Karena itu, dukungan perusahaan swasta juga diperlukan untuk membantu pengerahan armada dan peralatan ke lokasi kebakaran.

    "Armada Damkar sendiri juga masih belum dapat mencukupi, terutama alat infrastruktur seperti selang, mesin dan lain sebagainya. Kita sangat membutuhkan bantuan dari pihak perusahaan untuk mengirimkan armadanya," pungkasnya. (Adv)

    (Sf/Lo)