Pemerintah Kabupaten Berau

    Pemerintah Kabupaten Berau

    Antisipasi Risiko Tinggi Karhutla, Pemkab Berau Gelar Apel Kesiapsiagaan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    08 Agustus 2025 pukul 11:24 WITA

    Foto bersama saat Apel Gabungan Pasukan dalam rangka penanggulangan Karhutla tahun 2025, Kamis (7/8/2025). (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menggelar Apel Gabungan Gelar Pasukan dalam rangka penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tahun 2025, Kamis (7/8/2025).

    Apel yang berlangsung di Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0902/Berau ini dipimpin langsung oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih. Kegiatan ini pun melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI/Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Berau, serta sejumlah organisasi dan relawan peduli bencana lainnya.

    Bupati Berau, Sri Juniarsih menyampaikan bahwa Kabupaten Berau termasuk dalam kategori risiko tinggi terhadap bencana Karhutla. Hal ini didasarkan pada data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dengan angka 173,37, serta hasil kajian risiko bencana daerah.

    "Apel hari ini kita laksanakan sebagai bentuk penguatan komitmen dan sinergitas bersama, serta memastikan kesiapsiagaan seluruh perangkat terkait dalam mencegah sekaligus menanggulangi Karhutla, baik dari sisi personel maupun sarana-prasarana pendukungnya," ujar Sri.

    Sementara itu, ia pun menyoroti bahwa penyebab utama Karhutla adalah aktivitas manusia, baik secara sengaja maupun karena kelalaian. Selain itu, faktor alam seperti musim kemarau dan fenomena El Nino memperparah kondisi. Ia pun menyebut beberapa waktu terakhir, Berau dilanda cuaca ekstrem, bahkan sempat menyentuh suhu hingga 37 derajat Celsius. 

    "Kondisi ini sangat rawan terhadap potensi terjadinya kebakaran," tambahnya.

    Oleh sebab itu, dirinya memerintahkan sejumlah upaya mitigasi kepada seluruh jajaran terkait. Langkah tersebut meliputi sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat, patroli dan groundcheck rutin di titik-titik rawan api, penyediaan sarana dan prasarana pemadam, pembentukan pos pengendalian Karhutla di tingkat kecamatan, serta penguatan kapasitas relawan dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

    "Langkah-langkah ini harus menjadi fokus kita bersama agar dampak kerugian secara ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan dapat kita minimalisir," tuturnya.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam penanganan Karhutla, sebagaimana diatur dalam Permen LHK Nomor 32 Tahun 2016. Regulasi ini mencakup enam aspek utama yakni perencanaan, pencegahan, penanggulangan, pasca-kebakaran, koordinasi kerja, dan kesiapsiagaan.

    Dirinya pun mendorong kepada seluruh unsur Forkopimda, TNI, Polri, BPBD, Satpol PP, OPD, camat, lurah, dan seluruh relawan untuk bersatu dalam semangat multi-helix, menghadirkan kesiapsiagaan kolektif yang kuat.

    Terakhir, Sri Juniarsih mengajak seluruh masyarakat Berau untuk lebih peduli terhadap lingkungan, serta berperan aktif dalam pencegahan Karhutla.

    "Saya mengajak semua pihak, termasuk masyarakat, untuk bersama-sama menjaga hutan dan lingkungan kita dari bahaya kebakaran," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)

    Pemerintah Kabupaten Berau

    Pemerintah Kabupaten Berau

    Antisipasi Risiko Tinggi Karhutla, Pemkab Berau Gelar Apel Kesiapsiagaan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    08 Agustus 2025 pukul 11:24 WITA

    Foto bersama saat Apel Gabungan Pasukan dalam rangka penanggulangan Karhutla tahun 2025, Kamis (7/8/2025). (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menggelar Apel Gabungan Gelar Pasukan dalam rangka penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tahun 2025, Kamis (7/8/2025).

    Apel yang berlangsung di Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0902/Berau ini dipimpin langsung oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih. Kegiatan ini pun melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI/Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Berau, serta sejumlah organisasi dan relawan peduli bencana lainnya.

    Bupati Berau, Sri Juniarsih menyampaikan bahwa Kabupaten Berau termasuk dalam kategori risiko tinggi terhadap bencana Karhutla. Hal ini didasarkan pada data Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dengan angka 173,37, serta hasil kajian risiko bencana daerah.

    "Apel hari ini kita laksanakan sebagai bentuk penguatan komitmen dan sinergitas bersama, serta memastikan kesiapsiagaan seluruh perangkat terkait dalam mencegah sekaligus menanggulangi Karhutla, baik dari sisi personel maupun sarana-prasarana pendukungnya," ujar Sri.

    Sementara itu, ia pun menyoroti bahwa penyebab utama Karhutla adalah aktivitas manusia, baik secara sengaja maupun karena kelalaian. Selain itu, faktor alam seperti musim kemarau dan fenomena El Nino memperparah kondisi. Ia pun menyebut beberapa waktu terakhir, Berau dilanda cuaca ekstrem, bahkan sempat menyentuh suhu hingga 37 derajat Celsius. 

    "Kondisi ini sangat rawan terhadap potensi terjadinya kebakaran," tambahnya.

    Oleh sebab itu, dirinya memerintahkan sejumlah upaya mitigasi kepada seluruh jajaran terkait. Langkah tersebut meliputi sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat, patroli dan groundcheck rutin di titik-titik rawan api, penyediaan sarana dan prasarana pemadam, pembentukan pos pengendalian Karhutla di tingkat kecamatan, serta penguatan kapasitas relawan dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

    "Langkah-langkah ini harus menjadi fokus kita bersama agar dampak kerugian secara ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan dapat kita minimalisir," tuturnya.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam penanganan Karhutla, sebagaimana diatur dalam Permen LHK Nomor 32 Tahun 2016. Regulasi ini mencakup enam aspek utama yakni perencanaan, pencegahan, penanggulangan, pasca-kebakaran, koordinasi kerja, dan kesiapsiagaan.

    Dirinya pun mendorong kepada seluruh unsur Forkopimda, TNI, Polri, BPBD, Satpol PP, OPD, camat, lurah, dan seluruh relawan untuk bersatu dalam semangat multi-helix, menghadirkan kesiapsiagaan kolektif yang kuat.

    Terakhir, Sri Juniarsih mengajak seluruh masyarakat Berau untuk lebih peduli terhadap lingkungan, serta berperan aktif dalam pencegahan Karhutla.

    "Saya mengajak semua pihak, termasuk masyarakat, untuk bersama-sama menjaga hutan dan lingkungan kita dari bahaya kebakaran," tutupnya. (Adv)

    (Sf/Rs)