Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau
Plt Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kekeringan yang melanda Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau, mulai mengancam hasil pertanian masyarakat. Sekitar 20 hektare lahan pertanian berpotensi mengalami puso akibat minimnya pasokan air selama musim kering.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Pangan Kabupaten Berau menyalurkan bantuan melalui program Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Sebanyak 1,76 ton beras diberikan kepada masyarakat terdampak untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan selama masa pemulihan.
Plt Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan bantuan tersebut diberikan setelah pemerintah menerima laporan mengenai kondisi gagal panen di Kampung Semurut dan melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
"Untuk Kampung Semurut kita salurkan bantuan CPPD sebanyak 1.760 kilogram (kg) untuk 21 KK dengan total 88 jiwa," ujar Tenteram.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi kekeringan di wilayah tersebut cukup parah. Berdasarkan hasil survei, sejumlah tanaman padi sudah mati, sedangkan tanaman yang masih bertahan juga berisiko mengalami puso apabila hujan tidak segera turun.
"Kami sudah melakukan survei ke lokasi. Lahan di sana hancur, ada tanaman padi yang sudah mati dan ada yang baru mulai berbuah, tetapi dipastikan puso jika hujan tak kunjung turun," terangnya.
Dirinya pun menyebut, potensi lahan yang mengalami puso diperkirakan mencapai 20 hektare. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mengambil langkah cepat melalui bantuan pangan sembari melakukan penanganan terhadap dampak kekeringan di sektor pertanian.
Sementara itu, ia menegaskan bahwa penyaluran bantuan tidak dilakukan tanpa proses verifikasi. Pemerintah Kampung Semurut sebelumnya telah menyampaikan laporan resmi mengenai kondisi gagal panen. Setelah itu, Dinas Pangan bersama DTPHP, Dinas Sosial dan BPBD turun ke lapangan untuk memastikan kondisi serta tingkat kerusakan lahan.
"Penyaluran bantuan berbasis data riil, by name by address, dan dihitung secara perorangan, bukan per KK," katanya.
Dirinya menjelaskan, alokasi bantuan beras untuk masyarakat terdampak juga dinaikkan dari 10 kg menjadi 15 kg per jiwa. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan masa pemulihan dan produksi padi di daerah rawa yang membutuhkan waktu cukup panjang.
"Mengingat masa pemulihan dan produksi padi di daerah rawa memakan waktu cukup lama, maka alokasi bantuan kita naik dari 10 kg menjadi 15 kg per jiwa," terangnya.
Tenteram juga memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras bantuan. Cadangan pangan daerah yang dikelola pemerintah bersama Bulog masih berada dalam kondisi memadai dan siap digunakan untuk menghadapi kondisi darurat.
"Stok cadangan pangan daerah yang dikelola bersama Bulog masih sangat memadai. Stok ini tersimpan aman di gudang Bulog dan siap digunakan kapan saja untuk kondisi darurat, bahkan masih bisa dimanfaatkan hingga tahun depan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...

Pemerintah Kabupaten Berau

Plt Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kekeringan yang melanda Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau, mulai mengancam hasil pertanian masyarakat. Sekitar 20 hektare lahan pertanian berpotensi mengalami puso akibat minimnya pasokan air selama musim kering.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Pangan Kabupaten Berau menyalurkan bantuan melalui program Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Sebanyak 1,76 ton beras diberikan kepada masyarakat terdampak untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan selama masa pemulihan.
Plt Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan bantuan tersebut diberikan setelah pemerintah menerima laporan mengenai kondisi gagal panen di Kampung Semurut dan melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
"Untuk Kampung Semurut kita salurkan bantuan CPPD sebanyak 1.760 kilogram (kg) untuk 21 KK dengan total 88 jiwa," ujar Tenteram.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi kekeringan di wilayah tersebut cukup parah. Berdasarkan hasil survei, sejumlah tanaman padi sudah mati, sedangkan tanaman yang masih bertahan juga berisiko mengalami puso apabila hujan tidak segera turun.
"Kami sudah melakukan survei ke lokasi. Lahan di sana hancur, ada tanaman padi yang sudah mati dan ada yang baru mulai berbuah, tetapi dipastikan puso jika hujan tak kunjung turun," terangnya.
Dirinya pun menyebut, potensi lahan yang mengalami puso diperkirakan mencapai 20 hektare. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mengambil langkah cepat melalui bantuan pangan sembari melakukan penanganan terhadap dampak kekeringan di sektor pertanian.
Sementara itu, ia menegaskan bahwa penyaluran bantuan tidak dilakukan tanpa proses verifikasi. Pemerintah Kampung Semurut sebelumnya telah menyampaikan laporan resmi mengenai kondisi gagal panen. Setelah itu, Dinas Pangan bersama DTPHP, Dinas Sosial dan BPBD turun ke lapangan untuk memastikan kondisi serta tingkat kerusakan lahan.
"Penyaluran bantuan berbasis data riil, by name by address, dan dihitung secara perorangan, bukan per KK," katanya.
Dirinya menjelaskan, alokasi bantuan beras untuk masyarakat terdampak juga dinaikkan dari 10 kg menjadi 15 kg per jiwa. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan masa pemulihan dan produksi padi di daerah rawa yang membutuhkan waktu cukup panjang.
"Mengingat masa pemulihan dan produksi padi di daerah rawa memakan waktu cukup lama, maka alokasi bantuan kita naik dari 10 kg menjadi 15 kg per jiwa," terangnya.
Tenteram juga memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras bantuan. Cadangan pangan daerah yang dikelola pemerintah bersama Bulog masih berada dalam kondisi memadai dan siap digunakan untuk menghadapi kondisi darurat.
"Stok cadangan pangan daerah yang dikelola bersama Bulog masih sangat memadai. Stok ini tersimpan aman di gudang Bulog dan siap digunakan kapan saja untuk kondisi darurat, bahkan masih bisa dimanfaatkan hingga tahun depan," pungkasnya. (Adv)
(Sf/Rs)