Simulakra di Balik Ijazah, Kado Pahit May Day dan Ilusi Kebutuhan Industri

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Opini

    01 Mei 2026 12:43 WIB

    Jurnalis Seputarfakta.com, Maulana Farizi. (Foto: Dok. Pribadi)

    Jujur saja, setiap kali peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tiba, rasanya hati ini tak keruan. Apalagi kalau kita melihat realitas di lapangan sekarang yang lagi berdarah-darah. 

    Coba deh tengok data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang bikin geleng-geleng kepala: sepanjang tahun 2025 kemarin, ada 88.519 pekerja yang terkena PHK. Angka ini naik lumayan drastis dibandingkan dengan 2024 yang tercatat 77.965 pekerja. 

    Itu bukan sekadar deretan angka statistik di atas kertas, tapi puluhan ribu kepala keluarga dan anak muda yang tiba-tiba kehilangan periuk nasinya.

    Nah, di tengah badai PHK yang belum kelar ini, tiba-tiba muncul wacana dari Kementerian Pendidikan yang mau menghapus jurusan-jurusan di kampus kalau dianggap "tidak sesuai kebutuhan industri". 

    Kebijakan ini seolah menuding pengangguran dan PHK massal itu terjadi murni karena salah kita yang memilih jurusan yang disebut kurang laku. 

    Kampus dan mahasiswa seolah dijadikan kambing hitam, padahal industrinya sendiri yang memang lagi lesu atau sibuk melakukan efisiensi besar-besaran.

    Sebagai seseorang yang ditempa menjadi sarjana ekonomi, dari dulu aku selalu diajarkan satu hukum dasar yang mutlak, yakni supply dan demand. 

    Penawaran dan permintaan. Kalau wacana ini benar-benar direalisasikan, bayangkan betapa ngerinya masa depan kita. Semua kampus dipaksa seragam mencetak lulusan demi memuaskan dahaga satu atau dua sektor industri saja.

    Akibatnya? Pasar tenaga kerja bakal kebanjiran pasokan secara ugal-ugalan. Ketika pasokan sarjana dengan keahlian yang persis sama itu melimpah ruah, nilai tawar kita sebagai pekerja otomatis hancur lebur. 

    Perusahaan bisa seenaknya menekan standar gaji semurah mungkin dan menawarkan sistem kerja rentan. Logika bos-bos korporat bakal sesederhana ini: "Kalau kamu nggak mau nerima gaji pas-pasan dan kontrak tanpa kepastian ini, ya silakan pergi. Toh masih ada ribuan lulusan lain di depan pagar yang rela ngantre gantiin posisimu." 

    Alih-alih sejahtera, kita cuma dipersiapkan jadi tenaga kerja murah yang siap pakai, lebih parahnya, siap dibuang.

    Melihat fenomena aneh ini, aku jadi teringat sama bukunya Jean Baudrillard soal Simulakra. Kalau dipikir-pikir, jargon manis link and match atau jurusan sesuai industri ini jangan-jangan cuma ilusi tingkat tinggi yang terus-menerus disuapkan ke kita sampai kita percaya itu kebenaran mutlak.

    Baudrillard pernah bilang soal bagaimana masyarakat modern mengonsumsi sebuah nilai tanda. Nah, kita seolah dipaksa mengonsumsi jurusan-jurusan pesanan industri itu bukan demi kedalaman ilmu, tapi demi membeli ilusi rasa aman. 

    Kita dijejali dengan janji palsu bahwa asal jurusannya match dengan industri, hidup kita bakal terjamin. Kenyataannya? Di saat mahasiswa lagi mati-matian mengejar standar kurikulum industri tersebut, industrinya sendiri lagi asyik mem-PHK 88 ribu orang lebih dan mengganti fungsi manusia dengan kecerdasan buatan. Janji kesejahteraan itu cuma prank yang tidak lucu.

    Di kado pahit peringatan May Day ini, rasanya aku cuma pengen ngeluh sekencang-kencangnya sekaligus mengingatkan diri sendiri dan siapa pun yang membaca tulisan ini: kita ini manusia yang punya akal budi, bukan sekadar sekrup cadangan buat mesin kapitalis yang lagi aus. 

    Kampus itu harusnya jadi ruang inkubasi agar kita merdeka berpikir, bukan sekadar balai latihan kerja raksasa yang tugasnya cuma nunggu orderan dari korporat. 

    Kalau pendidikan kita saja sudah membebek pada ilusi industri yang sebenarnya sedang sakit, lantas ke mana lagi kita mau menggantungkan harapan soal memanusiakan manusia?

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Simulakra di Balik Ijazah, Kado Pahit May Day dan Ilusi Kebutuhan Industri

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Opini

    01 Mei 2026 12:43 WIB

    Jurnalis Seputarfakta.com, Maulana Farizi. (Foto: Dok. Pribadi)

    Jujur saja, setiap kali peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day tiba, rasanya hati ini tak keruan. Apalagi kalau kita melihat realitas di lapangan sekarang yang lagi berdarah-darah. 

    Coba deh tengok data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang bikin geleng-geleng kepala: sepanjang tahun 2025 kemarin, ada 88.519 pekerja yang terkena PHK. Angka ini naik lumayan drastis dibandingkan dengan 2024 yang tercatat 77.965 pekerja. 

    Itu bukan sekadar deretan angka statistik di atas kertas, tapi puluhan ribu kepala keluarga dan anak muda yang tiba-tiba kehilangan periuk nasinya.

    Nah, di tengah badai PHK yang belum kelar ini, tiba-tiba muncul wacana dari Kementerian Pendidikan yang mau menghapus jurusan-jurusan di kampus kalau dianggap "tidak sesuai kebutuhan industri". 

    Kebijakan ini seolah menuding pengangguran dan PHK massal itu terjadi murni karena salah kita yang memilih jurusan yang disebut kurang laku. 

    Kampus dan mahasiswa seolah dijadikan kambing hitam, padahal industrinya sendiri yang memang lagi lesu atau sibuk melakukan efisiensi besar-besaran.

    Sebagai seseorang yang ditempa menjadi sarjana ekonomi, dari dulu aku selalu diajarkan satu hukum dasar yang mutlak, yakni supply dan demand. 

    Penawaran dan permintaan. Kalau wacana ini benar-benar direalisasikan, bayangkan betapa ngerinya masa depan kita. Semua kampus dipaksa seragam mencetak lulusan demi memuaskan dahaga satu atau dua sektor industri saja.

    Akibatnya? Pasar tenaga kerja bakal kebanjiran pasokan secara ugal-ugalan. Ketika pasokan sarjana dengan keahlian yang persis sama itu melimpah ruah, nilai tawar kita sebagai pekerja otomatis hancur lebur. 

    Perusahaan bisa seenaknya menekan standar gaji semurah mungkin dan menawarkan sistem kerja rentan. Logika bos-bos korporat bakal sesederhana ini: "Kalau kamu nggak mau nerima gaji pas-pasan dan kontrak tanpa kepastian ini, ya silakan pergi. Toh masih ada ribuan lulusan lain di depan pagar yang rela ngantre gantiin posisimu." 

    Alih-alih sejahtera, kita cuma dipersiapkan jadi tenaga kerja murah yang siap pakai, lebih parahnya, siap dibuang.

    Melihat fenomena aneh ini, aku jadi teringat sama bukunya Jean Baudrillard soal Simulakra. Kalau dipikir-pikir, jargon manis link and match atau jurusan sesuai industri ini jangan-jangan cuma ilusi tingkat tinggi yang terus-menerus disuapkan ke kita sampai kita percaya itu kebenaran mutlak.

    Baudrillard pernah bilang soal bagaimana masyarakat modern mengonsumsi sebuah nilai tanda. Nah, kita seolah dipaksa mengonsumsi jurusan-jurusan pesanan industri itu bukan demi kedalaman ilmu, tapi demi membeli ilusi rasa aman. 

    Kita dijejali dengan janji palsu bahwa asal jurusannya match dengan industri, hidup kita bakal terjamin. Kenyataannya? Di saat mahasiswa lagi mati-matian mengejar standar kurikulum industri tersebut, industrinya sendiri lagi asyik mem-PHK 88 ribu orang lebih dan mengganti fungsi manusia dengan kecerdasan buatan. Janji kesejahteraan itu cuma prank yang tidak lucu.

    Di kado pahit peringatan May Day ini, rasanya aku cuma pengen ngeluh sekencang-kencangnya sekaligus mengingatkan diri sendiri dan siapa pun yang membaca tulisan ini: kita ini manusia yang punya akal budi, bukan sekadar sekrup cadangan buat mesin kapitalis yang lagi aus. 

    Kampus itu harusnya jadi ruang inkubasi agar kita merdeka berpikir, bukan sekadar balai latihan kerja raksasa yang tugasnya cuma nunggu orderan dari korporat. 

    Kalau pendidikan kita saja sudah membebek pada ilusi industri yang sebenarnya sedang sakit, lantas ke mana lagi kita mau menggantungkan harapan soal memanusiakan manusia?

    (Sf/Lo)