Opini

    PSI Kaltim Baca Ulang Efek Jokowi, Mampukah Jadi Modal Menuju 2029?

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    28 Juni 2026 pukul 19:02 WITA

    Lawatan Presiden RI ke 7, Joko Widodo ke Samarinda pada 2023 lalu. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Suara Presiden ke-7 RI Joko Widodo pernah begitu kuat di Kalimantan Timur (Kaltim). Kini, jejak elektoral itu mulai dibaca ulang setelah PSI Kaltim menggelar Rakorwil di Samarinda.

    Agenda tersebut dihadiri Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep. Kehadirannya membuat Rakorwil PSI Kaltim memunculkan pembacaan baru soal arah politik partai itu di Benua Etam.

    Namun, kedatangan Kaesang belum menjadi tanda bahwa Jokowi akan segera hadir di Kaltim. Rencana lawatan Jokowi ke sejumlah daerah memang mulai terdengar, tetapi untuk Kaltim belum ada kepastian resmi.

    Dalam rakorwil tersebut, Kaesang sempat menyinggung banyaknya foto Jokowi di arena acara. Candaan itu memperlihatkan bahwa figur Jokowi masih menjadi magnet kuat dalam ruang politik PSI.

    "Jadi yang salah adalah foto ketua umum hanya satu, foto beliau ada dua," kata Kaesang sambil tertawa.

    Kaesang juga menggoda Ketua DPW PSI Kaltim, Andi Adi Wijaya. Ia menyinggung kemungkinan adanya pergerakan politik dengan Jokowi.

    "Saya enggak tahu ya, mungkin Ketua AW ada pergerakan dengan beliau. Kan kemarin sudah selesai tugasnya di Munas HIPMI. Jangan-jangan mau KLB saya," ujarnya.

    Di forum yang sama, Andi Adi Wijaya menegaskan PSI Kaltim sedang memperkuat struktur partai. Ia menyebut 10 DPD di kabupaten dan kota sudah terbentuk.

    Andi juga mengatakan 95 DPC di tingkat kecamatan telah terisi. Pekerjaan berikutnya ialah menuntaskan struktur sampai tingkat desa dan kelurahan.

    "Kami juga akan segera membentuk Dewan Pimpinan Ranting di tingkat desa dan kelurahan," tegas Andi dalam Rakorwil tersebut.

    Penguatan ranting ini menjadi penting bila PSI ingin mengubah efek figur menjadi suara riil. Sebab, nama besar Jokowi tidak cukup tanpa mesin politik yang bekerja sampai bawah.

    Secara historis, Jokowi memang punya modal elektoral kuat di Kaltim. Pada Pilpres 2014, berdasarkan rekapitulasi KPU, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla meraih 1.190.156 suara di Kaltim.

    Saat itu, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa memperoleh 687.734 suara. Jokowi menang dengan selisih lebih dari 500 ribu suara.

    Namun, data 2014 perlu dibaca dengan catatan administratif. Pada saat itu, rekapitulasi Kaltim masih mencakup wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). 

    Pada Pilpres 2019, Jokowi kembali menang di Kaltim. Berdasarkan data KPU, Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh 1.094.845 suara.

    Sementara itu, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 870.443 suara. Jokowi tetap unggul, meski jaraknya tidak sebesar Pilpres 2014.

    Data itu menunjukkan Jokowi pernah punya basis kuat di Kaltim. Tetapi pertanyaan politiknya apakah kekuatan personal Jokowi bisa ikut mengangkat PSI.
    Jawabannya belum sederhana. Suara untuk Jokowi tidak otomatis menjadi suara untuk PSI.

    Pada Pemilu 2024, PSI masih tertinggal jauh dari partai besar di Kaltim. Berdasarkan keputusan KPU Kaltim, PSI hanya meraih 22.531 suara sah untuk pemilihan DPRD Provinsi Kaltim.

    Angka itu jauh di bawah Golkar yang meraih 512.660 suara. Gerindra memperoleh 342.752 suara, sedangkan PDI Perjuangan mendapat 322.075 suara.

    Artinya, PSI masih punya pekerjaan besar. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan kedekatan dengan Jokowi atau Kaesang.

    Kedatangan Jokowi ke Kaltim, bila benar terjadi, bisa menaikkan perhatian publik terhadap PSI. Efeknya dapat terasa dalam pemberitaan, semangat kader dan persepsi pemilih.

    Namun, efek itu baru akan berguna jika PSI mampu menerjemahkannya menjadi kerja elektoral. Struktur ranting, saksi, caleg, relawan dan isu lokal tetap menjadi faktor penentu.

    Kaltim juga punya karakter politik yang tidak bisa disederhanakan. Isu IKN, lapangan kerja, tambang, infrastruktur dan kesejahteraan warga menjadi perhatian penting pemilih.

    Karena itu, PSI perlu hadir dengan agenda yang lebih konkret. Nama Jokowi bisa membuka pintu, tetapi kerja politik lokal yang menentukan hasil akhirnya.

    Bagi PSI Kaltim, Rakorwil ini menjadi titik uji. Mereka sedang mencoba membaca ulang suara lama Jokowi sebagai peluang baru mLawatan Presiden RI ke 7, Joko Widodo ke Samarinda pada 2023 lalu. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)enuju Pemilu 2029.

    Tetapi selama Jokowi belum benar-benar turun ke Kaltim, efek itu masih sebatas potensi. PSI masih harus membuktikan bahwa mereka bukan hanya membawa simbol, tetapi juga memiliki mesin politik yang siap bekerja.

    (Sf/Lo)

    Opini

    PSI Kaltim Baca Ulang Efek Jokowi, Mampukah Jadi Modal Menuju 2029?

    Penulis:Maulana|Redaktur:Lodya A
    28 Juni 2026 pukul 19:02 WITA

    Lawatan Presiden RI ke 7, Joko Widodo ke Samarinda pada 2023 lalu. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Suara Presiden ke-7 RI Joko Widodo pernah begitu kuat di Kalimantan Timur (Kaltim). Kini, jejak elektoral itu mulai dibaca ulang setelah PSI Kaltim menggelar Rakorwil di Samarinda.

    Agenda tersebut dihadiri Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep. Kehadirannya membuat Rakorwil PSI Kaltim memunculkan pembacaan baru soal arah politik partai itu di Benua Etam.

    Namun, kedatangan Kaesang belum menjadi tanda bahwa Jokowi akan segera hadir di Kaltim. Rencana lawatan Jokowi ke sejumlah daerah memang mulai terdengar, tetapi untuk Kaltim belum ada kepastian resmi.

    Dalam rakorwil tersebut, Kaesang sempat menyinggung banyaknya foto Jokowi di arena acara. Candaan itu memperlihatkan bahwa figur Jokowi masih menjadi magnet kuat dalam ruang politik PSI.

    "Jadi yang salah adalah foto ketua umum hanya satu, foto beliau ada dua," kata Kaesang sambil tertawa.

    Kaesang juga menggoda Ketua DPW PSI Kaltim, Andi Adi Wijaya. Ia menyinggung kemungkinan adanya pergerakan politik dengan Jokowi.

    "Saya enggak tahu ya, mungkin Ketua AW ada pergerakan dengan beliau. Kan kemarin sudah selesai tugasnya di Munas HIPMI. Jangan-jangan mau KLB saya," ujarnya.

    Di forum yang sama, Andi Adi Wijaya menegaskan PSI Kaltim sedang memperkuat struktur partai. Ia menyebut 10 DPD di kabupaten dan kota sudah terbentuk.

    Andi juga mengatakan 95 DPC di tingkat kecamatan telah terisi. Pekerjaan berikutnya ialah menuntaskan struktur sampai tingkat desa dan kelurahan.

    "Kami juga akan segera membentuk Dewan Pimpinan Ranting di tingkat desa dan kelurahan," tegas Andi dalam Rakorwil tersebut.

    Penguatan ranting ini menjadi penting bila PSI ingin mengubah efek figur menjadi suara riil. Sebab, nama besar Jokowi tidak cukup tanpa mesin politik yang bekerja sampai bawah.

    Secara historis, Jokowi memang punya modal elektoral kuat di Kaltim. Pada Pilpres 2014, berdasarkan rekapitulasi KPU, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla meraih 1.190.156 suara di Kaltim.

    Saat itu, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa memperoleh 687.734 suara. Jokowi menang dengan selisih lebih dari 500 ribu suara.

    Namun, data 2014 perlu dibaca dengan catatan administratif. Pada saat itu, rekapitulasi Kaltim masih mencakup wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). 

    Pada Pilpres 2019, Jokowi kembali menang di Kaltim. Berdasarkan data KPU, Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh 1.094.845 suara.

    Sementara itu, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 870.443 suara. Jokowi tetap unggul, meski jaraknya tidak sebesar Pilpres 2014.

    Data itu menunjukkan Jokowi pernah punya basis kuat di Kaltim. Tetapi pertanyaan politiknya apakah kekuatan personal Jokowi bisa ikut mengangkat PSI.
    Jawabannya belum sederhana. Suara untuk Jokowi tidak otomatis menjadi suara untuk PSI.

    Pada Pemilu 2024, PSI masih tertinggal jauh dari partai besar di Kaltim. Berdasarkan keputusan KPU Kaltim, PSI hanya meraih 22.531 suara sah untuk pemilihan DPRD Provinsi Kaltim.

    Angka itu jauh di bawah Golkar yang meraih 512.660 suara. Gerindra memperoleh 342.752 suara, sedangkan PDI Perjuangan mendapat 322.075 suara.

    Artinya, PSI masih punya pekerjaan besar. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan kedekatan dengan Jokowi atau Kaesang.

    Kedatangan Jokowi ke Kaltim, bila benar terjadi, bisa menaikkan perhatian publik terhadap PSI. Efeknya dapat terasa dalam pemberitaan, semangat kader dan persepsi pemilih.

    Namun, efek itu baru akan berguna jika PSI mampu menerjemahkannya menjadi kerja elektoral. Struktur ranting, saksi, caleg, relawan dan isu lokal tetap menjadi faktor penentu.

    Kaltim juga punya karakter politik yang tidak bisa disederhanakan. Isu IKN, lapangan kerja, tambang, infrastruktur dan kesejahteraan warga menjadi perhatian penting pemilih.

    Karena itu, PSI perlu hadir dengan agenda yang lebih konkret. Nama Jokowi bisa membuka pintu, tetapi kerja politik lokal yang menentukan hasil akhirnya.

    Bagi PSI Kaltim, Rakorwil ini menjadi titik uji. Mereka sedang mencoba membaca ulang suara lama Jokowi sebagai peluang baru mLawatan Presiden RI ke 7, Joko Widodo ke Samarinda pada 2023 lalu. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)enuju Pemilu 2029.

    Tetapi selama Jokowi belum benar-benar turun ke Kaltim, efek itu masih sebatas potensi. PSI masih harus membuktikan bahwa mereka bukan hanya membawa simbol, tetapi juga memiliki mesin politik yang siap bekerja.

    (Sf/Lo)