Opini

    Pemakaman Tanpa Air Mata

    Redaktur:Rusdianto
    07 April 2026 pukul 10:05 WITA

    Ilustrasi pemakaman

    Suhu ruangan sebuah petak kecil di sudut gang Jalan Pangeran Suryanata siang itu, cukup untuk memicu kata; alhamdulilah. Sebabnya, di luar sana, siang hari Kota Samarinda merupa gurun tandus. Entah ke mana perginya gumpalan awan yang seringkali menjadi pelindung dan naungan itu.

    Terik seolah turut merangsek masuk, seiring bunyi dering telepon yang tak mau kalah nyaring dari suara azan zuhur musala di seberang jalan. Dari ujung sambungan, tersampaikan kabar duka. Hanya butuh 12 menit, sampai nama dan bin si almarhum terbaca dengan jelas.

    Sebuah gang di tengah arogannya pembangunan urban di Jalan Pangeran Antasari jadi saksi. Orang-orang berpeci. Ada yang putih ada yang hitam, mereka berduyun memasuki rumah yang halaman depannya ditutupi terpal biru, persis mengangkangi jalan. Kursi-kursi plastik yang berjajar menutup jalan, dijejali pria-pria berusia setengah abad.

    Si almarhum memang bukanlah sosok yang bisa atau boleh menyandang sapaan kerabat. Wajahnyapun demikian asing. Satu-satunya alasan mengapa badan ini ikut hadir di bawah terpal biru itu adalah karena anak si almarhum, adalah orang yang kami hormati.

    Sebagaimana layaknya suasana kepayahan, dengan tergopoh mata ini menuntun dengan mengedarkan pandangan. Berjalan pelan menyingkap sekumpulan remaja dengan pakaian gamis yang baru saja usai membacakan Yasin.

    Wajah yang dengan mudah dikenali itu pun tertangkap. Setelah jabat tangan yang agak kikuk, naluri kemanusiaan membimbing kalimat turut berduka terlontar. Tangan kanan seperti digerakkan kekuatan ilahiah reflek menepuk sosok berkemeja putih ini. Ya, itu adalah tabiat paling standar sebagai bentuk kepedulian sesama manusia. Sampai akhirnya, kesadaran itu datang.

    Simpati yang hadir sejak awal dering telepon berbunyi, hingga suasana kebatinan di rumah kayu berlantai dua itu yang terasa sangat ganjil baru bisa dipahami. Ganjil, setidaknya menurut pandangan umum. Bahwa ditinggal pergi bapak, sudahlah pasti kepayahan yang tiada terkira sakitnya. Tapi sedari awal, nyaris tak satu gestur pun yang terlihat mengarah pada paling tidak gambaran umum akan rasa kehilangan.

    Semakin menjadi lagi, ketika sosok yang sangat kami hormati itu, memboyong belasan atau bahkan mungkin puluhan kotak berisi potongan ayam goreng dari merek lokal, lengkap dengan nasi dan saus sambalnya. Di tengah kerepotan itu, ia sempat-sempatnya menoleh dan berkata.

    "Makan dulu, Rus!!"

    Tiga kata yang, rasanya tidak mungkin bisa diucapkan oleh orang yang sedang berduka manapun, jika bukan manusia sembarangan. Terlebih, setelah itu adegan berikutnya adalah diletakkannya susunan kotak makanan itu persis di atas meja yang di bawahnya ada keranda berisi jenazah si almarhum.

    Bermodal sok tahu dan tebak menebak. Pikiran dan hati berkecamuk, mendiskusikan hal paling mungkin dan logis untuk semua pemandangan ganjil ini.

    Apakah mereka benar-benar sudah selesai dengan urusan keduniawian yang fana ini, sehingga sejak awal, bahkan hingga sore itu akhirnya si mayit kembali ke pangkuan Pertiwi, tak ada satu tetes pun air mata yang jatuh?

    Mungkin saja, ada proses panjang nan berliku yang telah terlewati sehingga hari ini, adalah hari yang ditunggu belaka. Hari di mana keluarga hanya perlu mengantar seorang hamba kembali kepada Rabb-Nya. Mungkin saja. Tapi sepanjang proses pemakaman, otak berkelana. Menyigi setiap sudut probabilitas yang paling rasional.

    Sebuah pemakaman, tanpa air mata. Tanpa raungan tangis, tanpa ekspresi duka. Mungkin benar bahwa tangis tak selalu berarti sedih. Bahwa amarah adalah serendah-rendahnya kemampuan kontrol diri. Tapi, ini benar-benar sebuah anomali.

    Di antara pohon kamboja yang cukup rindang, dan sebuah nisan dari kayu Ulin yang sudah agak rapuh, dengan sedikit berjongkok pikiran terus menampilkan hal-hal. Pembicaraan tentang kematian, pemakaman dan koleganya seringkali masuk dalam kategori tabu.

    Diskursus mengenai hal-hal itu menuntut pemahaman mendalam tentang bagaimana kesadaran manusia menghadapi kefanaan melalui lensa rasionalitas, alam, dan struktur sosial.

    Ketika masuk pada bab pemakaman tanpa emosi, tanpa air mata, maka ini bukan sekadar manifestasi dari ketidakhadiran emosi, melainkan sebuah reorientasi intelektual terhadap kematian sebagai fenomena transisional yang tidak seharusnya memicu teror atau keputusasaan yang melumpuhkan. Dalam tradisi filsafat barat, terutama yang berakar pada periode Helenistik dan kemudian bertransformasi dalam lanskap intelektual modern kematian telah diposisikan ulang dari sebuah tragedi metafisika menjadi sebuah proses naturalistik yang dapat dihadapi dengan ketenangan jiwa atau ataraxia. Literatur yang mencatat evolusi pemikiran ini membentang dari risalah penghiburan Seneca di Romawi kuno hingga gerakan Death Positive yang radikal di Amerika modern, yang secara kolektif menawarkan kerangka kerja bagi penulisan yang mengeksplorasi kematian tanpa beban air mata yang berlebihan.

    Tahun 2011, ketika domain YouTube Indonesia bahkan belum ada, karena baru setahun setelahnya, yakni 2012, situs berbagi video itu resmi meluncurkan ekstensi .co.id. Sebuah serial bertema kematian positif sudah hadir.

    Seorang wanita bernama Caitlin Doughty mendirikan sebuah gerakan yang ia sebut Kematian Positif (Death Positive).

    Lewat kanal YouTubenya, Caitlin mengajak untuk membicarakan kematian dengan perspektif yang berbeda. Melalui program Ask a Mortician, ia mengedukasi masyarakat tentang topik kematian dengan pendekatan yang humoris namun jujur.

    Gerakan ini secara terbuka disebut Caitlin bertujuan untuk meruntuhkan tabu seputar kematian, mendorong percakapan terbuka tentang kematian, serta mempromosikan pilihan pemakaman yang lebih alami dan ramah lingkungan.

    Secara intelektual, filsafat Stoikisme menyediakan fondasi paling kokoh bagi gagasan pemakaman yang tenang melalui konsep regulasi emosional yang ketat. Bagi kaum Stoik, emosi negatif seperti kesedihan yang merusak (grief) adalah hasil dari "persetujuan" (assent) terhadap kesan (impression) yang keliru bahwa kematian adalah sesuatu yang buruk. Perspektif ini mendorong individu untuk menghadapi tantangan hidup dengan resiliensi dan mencari kebijaksanaan yang melampaui batas-batas budaya dan era.

    Salah satu tokoh utama Stoik, Seneca, dalam karyanya De Consolatione ad Marciam, memberikan panduan bagi Marcia, seorang wanita Romawi yang berduka selama tiga tahun atas kematian putranya. Tentu saja, tanpa bermaksud mengukur tingkat intelegensi orang-orang yang sedang menjalani proses pemakaman ini, yakin belaka bahwa apalah pentingnya bagi mereka terpapar nasihat Seneca, menonton Ask a Morticiannya Caitlin Doughty apalah lagi menjadi Stoik.

    Tapi faktanya, mereka tengah menjalani ritus paling inti dari paradigma Epikurean, yakni meyakini bahwa ketiadaan sensasi adalah upaya bebas dari teror.

    Pada budaya paling umum di Nusantara. Kematian adalah peristiwa paling sah yang langsung membuka pintu luapan emosi. Tangis bahkan dianggap salah satu ritual paling utama.

    Tetapi apakah benar, pemakaman tanpa air mata adalah sebentuk kedewasaan pikir seorang manusia? Atau justru ekspresi paling tak acuh?

    Bukankah kematian adalah hari bahagia bagi si almarhum, karena sebagai hamba, akhirnya bisa bertemu dengan pencipta-Nya?

    Rusdianto

    Pemimpin Redaksi Seputarfakta.com

    Opini

    Pemakaman Tanpa Air Mata

    Redaktur:Rusdianto
    07 April 2026 pukul 10:05 WITA

    Ilustrasi pemakaman

    Suhu ruangan sebuah petak kecil di sudut gang Jalan Pangeran Suryanata siang itu, cukup untuk memicu kata; alhamdulilah. Sebabnya, di luar sana, siang hari Kota Samarinda merupa gurun tandus. Entah ke mana perginya gumpalan awan yang seringkali menjadi pelindung dan naungan itu.

    Terik seolah turut merangsek masuk, seiring bunyi dering telepon yang tak mau kalah nyaring dari suara azan zuhur musala di seberang jalan. Dari ujung sambungan, tersampaikan kabar duka. Hanya butuh 12 menit, sampai nama dan bin si almarhum terbaca dengan jelas.

    Sebuah gang di tengah arogannya pembangunan urban di Jalan Pangeran Antasari jadi saksi. Orang-orang berpeci. Ada yang putih ada yang hitam, mereka berduyun memasuki rumah yang halaman depannya ditutupi terpal biru, persis mengangkangi jalan. Kursi-kursi plastik yang berjajar menutup jalan, dijejali pria-pria berusia setengah abad.

    Si almarhum memang bukanlah sosok yang bisa atau boleh menyandang sapaan kerabat. Wajahnyapun demikian asing. Satu-satunya alasan mengapa badan ini ikut hadir di bawah terpal biru itu adalah karena anak si almarhum, adalah orang yang kami hormati.

    Sebagaimana layaknya suasana kepayahan, dengan tergopoh mata ini menuntun dengan mengedarkan pandangan. Berjalan pelan menyingkap sekumpulan remaja dengan pakaian gamis yang baru saja usai membacakan Yasin.

    Wajah yang dengan mudah dikenali itu pun tertangkap. Setelah jabat tangan yang agak kikuk, naluri kemanusiaan membimbing kalimat turut berduka terlontar. Tangan kanan seperti digerakkan kekuatan ilahiah reflek menepuk sosok berkemeja putih ini. Ya, itu adalah tabiat paling standar sebagai bentuk kepedulian sesama manusia. Sampai akhirnya, kesadaran itu datang.

    Simpati yang hadir sejak awal dering telepon berbunyi, hingga suasana kebatinan di rumah kayu berlantai dua itu yang terasa sangat ganjil baru bisa dipahami. Ganjil, setidaknya menurut pandangan umum. Bahwa ditinggal pergi bapak, sudahlah pasti kepayahan yang tiada terkira sakitnya. Tapi sedari awal, nyaris tak satu gestur pun yang terlihat mengarah pada paling tidak gambaran umum akan rasa kehilangan.

    Semakin menjadi lagi, ketika sosok yang sangat kami hormati itu, memboyong belasan atau bahkan mungkin puluhan kotak berisi potongan ayam goreng dari merek lokal, lengkap dengan nasi dan saus sambalnya. Di tengah kerepotan itu, ia sempat-sempatnya menoleh dan berkata.

    "Makan dulu, Rus!!"

    Tiga kata yang, rasanya tidak mungkin bisa diucapkan oleh orang yang sedang berduka manapun, jika bukan manusia sembarangan. Terlebih, setelah itu adegan berikutnya adalah diletakkannya susunan kotak makanan itu persis di atas meja yang di bawahnya ada keranda berisi jenazah si almarhum.

    Bermodal sok tahu dan tebak menebak. Pikiran dan hati berkecamuk, mendiskusikan hal paling mungkin dan logis untuk semua pemandangan ganjil ini.

    Apakah mereka benar-benar sudah selesai dengan urusan keduniawian yang fana ini, sehingga sejak awal, bahkan hingga sore itu akhirnya si mayit kembali ke pangkuan Pertiwi, tak ada satu tetes pun air mata yang jatuh?

    Mungkin saja, ada proses panjang nan berliku yang telah terlewati sehingga hari ini, adalah hari yang ditunggu belaka. Hari di mana keluarga hanya perlu mengantar seorang hamba kembali kepada Rabb-Nya. Mungkin saja. Tapi sepanjang proses pemakaman, otak berkelana. Menyigi setiap sudut probabilitas yang paling rasional.

    Sebuah pemakaman, tanpa air mata. Tanpa raungan tangis, tanpa ekspresi duka. Mungkin benar bahwa tangis tak selalu berarti sedih. Bahwa amarah adalah serendah-rendahnya kemampuan kontrol diri. Tapi, ini benar-benar sebuah anomali.

    Di antara pohon kamboja yang cukup rindang, dan sebuah nisan dari kayu Ulin yang sudah agak rapuh, dengan sedikit berjongkok pikiran terus menampilkan hal-hal. Pembicaraan tentang kematian, pemakaman dan koleganya seringkali masuk dalam kategori tabu.

    Diskursus mengenai hal-hal itu menuntut pemahaman mendalam tentang bagaimana kesadaran manusia menghadapi kefanaan melalui lensa rasionalitas, alam, dan struktur sosial.

    Ketika masuk pada bab pemakaman tanpa emosi, tanpa air mata, maka ini bukan sekadar manifestasi dari ketidakhadiran emosi, melainkan sebuah reorientasi intelektual terhadap kematian sebagai fenomena transisional yang tidak seharusnya memicu teror atau keputusasaan yang melumpuhkan. Dalam tradisi filsafat barat, terutama yang berakar pada periode Helenistik dan kemudian bertransformasi dalam lanskap intelektual modern kematian telah diposisikan ulang dari sebuah tragedi metafisika menjadi sebuah proses naturalistik yang dapat dihadapi dengan ketenangan jiwa atau ataraxia. Literatur yang mencatat evolusi pemikiran ini membentang dari risalah penghiburan Seneca di Romawi kuno hingga gerakan Death Positive yang radikal di Amerika modern, yang secara kolektif menawarkan kerangka kerja bagi penulisan yang mengeksplorasi kematian tanpa beban air mata yang berlebihan.

    Tahun 2011, ketika domain YouTube Indonesia bahkan belum ada, karena baru setahun setelahnya, yakni 2012, situs berbagi video itu resmi meluncurkan ekstensi .co.id. Sebuah serial bertema kematian positif sudah hadir.

    Seorang wanita bernama Caitlin Doughty mendirikan sebuah gerakan yang ia sebut Kematian Positif (Death Positive).

    Lewat kanal YouTubenya, Caitlin mengajak untuk membicarakan kematian dengan perspektif yang berbeda. Melalui program Ask a Mortician, ia mengedukasi masyarakat tentang topik kematian dengan pendekatan yang humoris namun jujur.

    Gerakan ini secara terbuka disebut Caitlin bertujuan untuk meruntuhkan tabu seputar kematian, mendorong percakapan terbuka tentang kematian, serta mempromosikan pilihan pemakaman yang lebih alami dan ramah lingkungan.

    Secara intelektual, filsafat Stoikisme menyediakan fondasi paling kokoh bagi gagasan pemakaman yang tenang melalui konsep regulasi emosional yang ketat. Bagi kaum Stoik, emosi negatif seperti kesedihan yang merusak (grief) adalah hasil dari "persetujuan" (assent) terhadap kesan (impression) yang keliru bahwa kematian adalah sesuatu yang buruk. Perspektif ini mendorong individu untuk menghadapi tantangan hidup dengan resiliensi dan mencari kebijaksanaan yang melampaui batas-batas budaya dan era.

    Salah satu tokoh utama Stoik, Seneca, dalam karyanya De Consolatione ad Marciam, memberikan panduan bagi Marcia, seorang wanita Romawi yang berduka selama tiga tahun atas kematian putranya. Tentu saja, tanpa bermaksud mengukur tingkat intelegensi orang-orang yang sedang menjalani proses pemakaman ini, yakin belaka bahwa apalah pentingnya bagi mereka terpapar nasihat Seneca, menonton Ask a Morticiannya Caitlin Doughty apalah lagi menjadi Stoik.

    Tapi faktanya, mereka tengah menjalani ritus paling inti dari paradigma Epikurean, yakni meyakini bahwa ketiadaan sensasi adalah upaya bebas dari teror.

    Pada budaya paling umum di Nusantara. Kematian adalah peristiwa paling sah yang langsung membuka pintu luapan emosi. Tangis bahkan dianggap salah satu ritual paling utama.

    Tetapi apakah benar, pemakaman tanpa air mata adalah sebentuk kedewasaan pikir seorang manusia? Atau justru ekspresi paling tak acuh?

    Bukankah kematian adalah hari bahagia bagi si almarhum, karena sebagai hamba, akhirnya bisa bertemu dengan pencipta-Nya?

    Rusdianto

    Pemimpin Redaksi Seputarfakta.com