Opini

    Nostalgia 2016: Menyongsong Sensus Ekonomi Menuju Indonesia Emas

    05 Februari 2026 pukul 11:12 WITA

    Kolase Seputarfakta.com

    Media sosial tengah diramaikan dengan tren kilas balik ke masa 2016, masa ketika foto buram tidak menjadi persoalan karena standar fotografi belum sejernih saat ini. Di Sangatta, kondisi usaha pada 2016 pun jauh berbeda dibandingkan sekarang. Sepuluh tahun silam, Toko Bandi Raya masih Berjaya sebagai ikon perdagangan di Jalan Yos Sudarso 2. Namun kini, lokasinya telah digantikan Toko Nuansa. Begitulah dunia usaha—pergerakannya tak selalu mulus. Kadang harus melalui jalan terjal demi bertahan dan berkembang. Namun, yang pasti, setiap usaha layak untuk dicatat.


    Tapak Tilas Sensus Ekonomi 2016

    Setiap tahun yang berakhiran angka enam, Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan sensus bertema dunia usaha yang dikenal sebagai Sensus Ekonomi, termasuk di Kutai Timur tempat lahir tercinta. Pada tahun 2016, Sensus Ekonomi dilakukan dengan rumah tangga sebagai unit penelitian. Petugas mendatangi setiap rumah, dari pintu ke pintu, mewawancarai, dan memastikan setiap usaha yang dilakukan anggota rumah tangga tercatat tanpa terkecuali.

    Hasil Sensus Ekonomi 2016, tercatat 307.238 usaha di Provinsi Kalimantan Timur, hampir 300.000 di antaranya merupakan usaha mikro dan kecil (UMK) yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah, sementara sisanya adalah usaha menengah dan besar (UMB). Saat itu, total tenaga kerja yang dilaporkan mencapai lebih dari 1 juta orang dengan dominasi pekerja di sektor UMK. Hal ini menunjukkan peran penting usaha kecil dalam menyediakan peluang kerja bagi masyarakat lokal.

    Selaras dengan kondisi provinsi saat itu, hasil Sensus Ekonomi 2016 di Kabupaten Kutai Timur juga menunjukkan dominasi UMK sebesar 98,21 persen. Sementara kehadiran UMB di Kabupaten Kutai Timur hanya sebanyak 436 usaha. Meski begitu, balas jasa atau upah tenaga kerja di UMB Kabupaten Kutai Timur mencapai 3 triliun per tahun sementara total upah tenaga kerja di UMK Kabupaten Kutai Timur hanya mencapai sekitar 690 miliar rupiah per tahun.

    Pada tahun 2016, Kabupaten Kutai Timur memberikan kontribusi hingga 18 persen terhadap total perekonomian Provinsi Kalimantan Timur, menjadikan Kabupaten Kutai Timur sebagai wilayah dengan nilai perekonomian tertinggi ke-2 di Bumi Etam. Dikutip dari laman berita ANTARA Kaltim tahun 2016, saat itu Kabupaten Kutai Timur mengalami pertumbuhan usaha ekonomi nonpertanian tertinggi di Provinsi Kalimantan Timur yakni mencapai 104 persen dibandingkan tahun 2006.


    Kondisi Perekonomian Kabupaten Kutai Timur Masa Kini

    

    Satu dekade kemudian, Badan Pusat Statistik masih mencatat kontribusi Kutai Timur terhadap perekonomian Provinsi Kalimantan Timur sebesar 18 persen; tepatnya 18,60 persen; dengan dominasi masih ada pada sektor pertambangan dan penggalian. Meski begitu, telah terjadi banyak perubahan pada perekonomian Kabupaten Kutai Timur. Modernisasi perlahan masuk dan mengubah wajah wilayah ini, ditandai dengan hadirnya ritel usaha berskala nasional di berbagai sudut kota dan kawasan permukiman. Perkembangan teknologi informasi dan media sosial turut mempercepat arus perubahan. Data BPS 2025 mencatat, sebanyak 83,40 persen anak usia lima tahun ke atas di Kabupaten Kutai Timur telah terhubung ke internet, membuat masyarakat lokal semakin mudah mengenali usaha-usaha yang viral hingga ke tingkat nasional. Fenomena kopi kekinian dan minimarket modern yang kian menjamur, serta layanan pembayaran berbasis digital yang kian akrab di tengah masyarakat, menjadi penanda pergeseran pola konsumsi dan usaha di Kabupaten Kutai Timur.

    Rentang waktu antara 2016 hingga 2026 memang bukanlah satu dekade yang biasa. Adanya hantaman peristiwa global pandemi COVID-19 pada tahun 2020-2023 membuat masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan cara dunia bekerja, termasuk cara masyarakat menjalankan usaha. Masyarakat Kutai Timur kian adaptif mengikuti perkembangan zaman. Dominasi usaha mikro dan kecil sejak tahun 2016 turut membantu masyarakat bergerak fleksibel untuk dapat menyesuaikan diri, mulai dari pengalihan penjualan ke kanal digital, menyesuaikan jenis produk, hingga memanfaatkan media sosial untuk memasarkannya. Perubahan ini menjadikan Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar pendataan rutin, melainkan catatan penting tentang daya lenting ekonomi masyarakat setelah melewati masa krisis.


    Menyongsong Sensus Ekonomi 2026 Kabupaten Kutai Timur


    Momentum Sensus Ekonomi 2026 menjadi pengingat bahwa geliat usaha di Kutai Timur terus bergerak. Dari usaha rumahan, kios kecil di sudut gang, hingga toko dan jasa yang kini memanfaatkan platform digital, semuanya menjadi bagian penting dari denyut perekonomian. Data yang dihimpun melalui sensus ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata kerja keras pelaku usaha lokal yang menopang kehidupan ekonomi masyarakat Sangatta dan sekitarnya.

    Menyongsong Sensus Ekonomi 2026, partisipasi aktif masyarakat Kutai Timur menjadi kunci keberhasilan pendataan. Di era digital, pelaku usaha kini dapat berperan mandiri dengan mengisi kuesioner sensus secara online, sekaligus tetap membuka diri ketika petugas BPS hadir dari pintu ke pintu untuk melakukan wawancara. Setiap data yang diberikan—sekecil apa pun usahanya—adalah kontribusi penting dalam memotret kondisi ekonomi daerah secara utuh. Dari pengalaman satu dekade yang diwarnai perubahan besar, termasuk pandemi COVID-19, Sensus Ekonomi 2026 menjadi kesempatan bersama untuk memastikan bahwa arah pembangunan ekonomi daerah benar-benar berpijak pada realitas di lapangan.(Sf/Rs)


    Artikel ini ditulis oleh


    Opini

    Nostalgia 2016: Menyongsong Sensus Ekonomi Menuju Indonesia Emas

    05 Februari 2026 pukul 11:12 WITA

    Kolase Seputarfakta.com

    Media sosial tengah diramaikan dengan tren kilas balik ke masa 2016, masa ketika foto buram tidak menjadi persoalan karena standar fotografi belum sejernih saat ini. Di Sangatta, kondisi usaha pada 2016 pun jauh berbeda dibandingkan sekarang. Sepuluh tahun silam, Toko Bandi Raya masih Berjaya sebagai ikon perdagangan di Jalan Yos Sudarso 2. Namun kini, lokasinya telah digantikan Toko Nuansa. Begitulah dunia usaha—pergerakannya tak selalu mulus. Kadang harus melalui jalan terjal demi bertahan dan berkembang. Namun, yang pasti, setiap usaha layak untuk dicatat.


    Tapak Tilas Sensus Ekonomi 2016

    Setiap tahun yang berakhiran angka enam, Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan sensus bertema dunia usaha yang dikenal sebagai Sensus Ekonomi, termasuk di Kutai Timur tempat lahir tercinta. Pada tahun 2016, Sensus Ekonomi dilakukan dengan rumah tangga sebagai unit penelitian. Petugas mendatangi setiap rumah, dari pintu ke pintu, mewawancarai, dan memastikan setiap usaha yang dilakukan anggota rumah tangga tercatat tanpa terkecuali.

    Hasil Sensus Ekonomi 2016, tercatat 307.238 usaha di Provinsi Kalimantan Timur, hampir 300.000 di antaranya merupakan usaha mikro dan kecil (UMK) yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah, sementara sisanya adalah usaha menengah dan besar (UMB). Saat itu, total tenaga kerja yang dilaporkan mencapai lebih dari 1 juta orang dengan dominasi pekerja di sektor UMK. Hal ini menunjukkan peran penting usaha kecil dalam menyediakan peluang kerja bagi masyarakat lokal.

    Selaras dengan kondisi provinsi saat itu, hasil Sensus Ekonomi 2016 di Kabupaten Kutai Timur juga menunjukkan dominasi UMK sebesar 98,21 persen. Sementara kehadiran UMB di Kabupaten Kutai Timur hanya sebanyak 436 usaha. Meski begitu, balas jasa atau upah tenaga kerja di UMB Kabupaten Kutai Timur mencapai 3 triliun per tahun sementara total upah tenaga kerja di UMK Kabupaten Kutai Timur hanya mencapai sekitar 690 miliar rupiah per tahun.

    Pada tahun 2016, Kabupaten Kutai Timur memberikan kontribusi hingga 18 persen terhadap total perekonomian Provinsi Kalimantan Timur, menjadikan Kabupaten Kutai Timur sebagai wilayah dengan nilai perekonomian tertinggi ke-2 di Bumi Etam. Dikutip dari laman berita ANTARA Kaltim tahun 2016, saat itu Kabupaten Kutai Timur mengalami pertumbuhan usaha ekonomi nonpertanian tertinggi di Provinsi Kalimantan Timur yakni mencapai 104 persen dibandingkan tahun 2006.


    Kondisi Perekonomian Kabupaten Kutai Timur Masa Kini

    

    Satu dekade kemudian, Badan Pusat Statistik masih mencatat kontribusi Kutai Timur terhadap perekonomian Provinsi Kalimantan Timur sebesar 18 persen; tepatnya 18,60 persen; dengan dominasi masih ada pada sektor pertambangan dan penggalian. Meski begitu, telah terjadi banyak perubahan pada perekonomian Kabupaten Kutai Timur. Modernisasi perlahan masuk dan mengubah wajah wilayah ini, ditandai dengan hadirnya ritel usaha berskala nasional di berbagai sudut kota dan kawasan permukiman. Perkembangan teknologi informasi dan media sosial turut mempercepat arus perubahan. Data BPS 2025 mencatat, sebanyak 83,40 persen anak usia lima tahun ke atas di Kabupaten Kutai Timur telah terhubung ke internet, membuat masyarakat lokal semakin mudah mengenali usaha-usaha yang viral hingga ke tingkat nasional. Fenomena kopi kekinian dan minimarket modern yang kian menjamur, serta layanan pembayaran berbasis digital yang kian akrab di tengah masyarakat, menjadi penanda pergeseran pola konsumsi dan usaha di Kabupaten Kutai Timur.

    Rentang waktu antara 2016 hingga 2026 memang bukanlah satu dekade yang biasa. Adanya hantaman peristiwa global pandemi COVID-19 pada tahun 2020-2023 membuat masyarakat menyesuaikan diri terhadap perubahan cara dunia bekerja, termasuk cara masyarakat menjalankan usaha. Masyarakat Kutai Timur kian adaptif mengikuti perkembangan zaman. Dominasi usaha mikro dan kecil sejak tahun 2016 turut membantu masyarakat bergerak fleksibel untuk dapat menyesuaikan diri, mulai dari pengalihan penjualan ke kanal digital, menyesuaikan jenis produk, hingga memanfaatkan media sosial untuk memasarkannya. Perubahan ini menjadikan Sensus Ekonomi 2026 bukan sekadar pendataan rutin, melainkan catatan penting tentang daya lenting ekonomi masyarakat setelah melewati masa krisis.


    Menyongsong Sensus Ekonomi 2026 Kabupaten Kutai Timur


    Momentum Sensus Ekonomi 2026 menjadi pengingat bahwa geliat usaha di Kutai Timur terus bergerak. Dari usaha rumahan, kios kecil di sudut gang, hingga toko dan jasa yang kini memanfaatkan platform digital, semuanya menjadi bagian penting dari denyut perekonomian. Data yang dihimpun melalui sensus ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata kerja keras pelaku usaha lokal yang menopang kehidupan ekonomi masyarakat Sangatta dan sekitarnya.

    Menyongsong Sensus Ekonomi 2026, partisipasi aktif masyarakat Kutai Timur menjadi kunci keberhasilan pendataan. Di era digital, pelaku usaha kini dapat berperan mandiri dengan mengisi kuesioner sensus secara online, sekaligus tetap membuka diri ketika petugas BPS hadir dari pintu ke pintu untuk melakukan wawancara. Setiap data yang diberikan—sekecil apa pun usahanya—adalah kontribusi penting dalam memotret kondisi ekonomi daerah secara utuh. Dari pengalaman satu dekade yang diwarnai perubahan besar, termasuk pandemi COVID-19, Sensus Ekonomi 2026 menjadi kesempatan bersama untuk memastikan bahwa arah pembangunan ekonomi daerah benar-benar berpijak pada realitas di lapangan.(Sf/Rs)


    Artikel ini ditulis oleh