Maaf Jika Aku Pernah Mengeluh, Bang Uly

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Opini

    16 April 2026 06:54 WIB

    Direktur Seputarfakta.com, Maruly Zainuddin.

    Samarinda - Dunia jurnalistik, khususnya keluarga besar redaksi SeputarFakta.com, baru saja kehilangan salah satu pilar utamanya. 

    Direktur kami, Maruly Zainuddin, yang lebih akrab dan hangat kami sapa Bang Uly, telah berpulang. 

    Di tengah duka yang menyelimuti meja redaksi hari ini, setiap dari kami pasti memiliki potongan kenangan yang kini terasa begitu mahal harganya.

    Bagi saya, kenangan paling melekat tentang Bang Uly adalah dering notifikasi yang tak pernah kenal waktu. Di antara semua jajaran pimpinan, beliau adalah sosok yang paling rajin dan sigap membagikan informasi peristiwa breaking news. 

    Entah itu amukan api kebakaran, banjir yang tiba-tiba merendam, hingga kabar penemuan mayat. Menariknya, info dari beliau tidak pernah mentah. 

    Kabar yang ia bawa selalu ringkas, cepat, dan yang terpenting, akurasinya selalu A1. Tak ada satupun dari kami yang berani meragukan keabsahan sebuah kabar jika itu sudah dikirimkan oleh Bang Uly.

    Namun, sebagai manusia biasa, ada sebuah pengakuan yang kini meninggalkan rasa haru sekaligus sesal di dada saya. 

    Dulu, setiap kali layar ponsel menyala dan menampilkan rentetan pesan dari beliau di grup redaksi, saya sering kali menahan napas. 

    Sambil menatap layar, saya bergumam pelan dalam hati, "Semoga bukan di Samarinda."

    Bukan karena lari dari tugas. Namun sebagai wartawan yang berdomisili di Samarinda, ada tanggung jawab moral dan beban urgensi yang langsung terasa berat di pundak ketika sebuah musibah terjadi di kota sendiri. 

    Kadang, ada rasa sedih dan frustrasi yang mendalam sebagai jurnalis ketika situasi atau kondisi tertentu membuat saya tidak bisa langsung meluncur ke lapangan saat itu juga.

    Di titik-titik krusial itulah saya menyadari betapa suportifnya ekosistem yang dibangun oleh Bang Uly. 

    Meja redaksi SeputarFakta tidak sekadar menuntut kecepatan dengan mata buta, melainkan memberikan ruang "relaksasi" yang kami butuhkan. 

    Ketika kaki tak bisa melangkah ke lokasi kejadian, redaksi memastikan kami tetap bisa menangkap esensi peristiwa, mengolah data, dan menyajikan fakta dari pantauan tayangan di grup, yang tentu saja, fondasi informasinya dipasok secara valid oleh Bang Uly.

    Kini, tak ada lagi notifikasi A1 yang mendadak muncul dari nomor itu. Tak ada lagi kabar sela yang membuat saya bergumam cemas sekaligus bersiap merangkai kata demi kata menjadi berita. 

    Ruang redaksi kehilangan salah satu detak jantungnya yang paling kencang.

    Maafkan aku, Bang Uly, jika di masa lalu aku pernah mengeluhkan rentetan notifikasi darurat itu. Kini aku sadar, rentetan pesan itulah yang membentuk kami menjadi jurnalis yang lebih peka dan tanggap.

    Selamat jalan, Sang Direktur. Terima kasih untuk setiap info A1, dedikasi tanpa henti, dan ruang aman yang kau ciptakan di meja redaksi ini. Karyamu abadi, Bang.

    Maulana,

    Jurnalis Seputarfakta.com

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Maaf Jika Aku Pernah Mengeluh, Bang Uly

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Opini

    16 April 2026 06:54 WIB

    Direktur Seputarfakta.com, Maruly Zainuddin.

    Samarinda - Dunia jurnalistik, khususnya keluarga besar redaksi SeputarFakta.com, baru saja kehilangan salah satu pilar utamanya. 

    Direktur kami, Maruly Zainuddin, yang lebih akrab dan hangat kami sapa Bang Uly, telah berpulang. 

    Di tengah duka yang menyelimuti meja redaksi hari ini, setiap dari kami pasti memiliki potongan kenangan yang kini terasa begitu mahal harganya.

    Bagi saya, kenangan paling melekat tentang Bang Uly adalah dering notifikasi yang tak pernah kenal waktu. Di antara semua jajaran pimpinan, beliau adalah sosok yang paling rajin dan sigap membagikan informasi peristiwa breaking news. 

    Entah itu amukan api kebakaran, banjir yang tiba-tiba merendam, hingga kabar penemuan mayat. Menariknya, info dari beliau tidak pernah mentah. 

    Kabar yang ia bawa selalu ringkas, cepat, dan yang terpenting, akurasinya selalu A1. Tak ada satupun dari kami yang berani meragukan keabsahan sebuah kabar jika itu sudah dikirimkan oleh Bang Uly.

    Namun, sebagai manusia biasa, ada sebuah pengakuan yang kini meninggalkan rasa haru sekaligus sesal di dada saya. 

    Dulu, setiap kali layar ponsel menyala dan menampilkan rentetan pesan dari beliau di grup redaksi, saya sering kali menahan napas. 

    Sambil menatap layar, saya bergumam pelan dalam hati, "Semoga bukan di Samarinda."

    Bukan karena lari dari tugas. Namun sebagai wartawan yang berdomisili di Samarinda, ada tanggung jawab moral dan beban urgensi yang langsung terasa berat di pundak ketika sebuah musibah terjadi di kota sendiri. 

    Kadang, ada rasa sedih dan frustrasi yang mendalam sebagai jurnalis ketika situasi atau kondisi tertentu membuat saya tidak bisa langsung meluncur ke lapangan saat itu juga.

    Di titik-titik krusial itulah saya menyadari betapa suportifnya ekosistem yang dibangun oleh Bang Uly. 

    Meja redaksi SeputarFakta tidak sekadar menuntut kecepatan dengan mata buta, melainkan memberikan ruang "relaksasi" yang kami butuhkan. 

    Ketika kaki tak bisa melangkah ke lokasi kejadian, redaksi memastikan kami tetap bisa menangkap esensi peristiwa, mengolah data, dan menyajikan fakta dari pantauan tayangan di grup, yang tentu saja, fondasi informasinya dipasok secara valid oleh Bang Uly.

    Kini, tak ada lagi notifikasi A1 yang mendadak muncul dari nomor itu. Tak ada lagi kabar sela yang membuat saya bergumam cemas sekaligus bersiap merangkai kata demi kata menjadi berita. 

    Ruang redaksi kehilangan salah satu detak jantungnya yang paling kencang.

    Maafkan aku, Bang Uly, jika di masa lalu aku pernah mengeluhkan rentetan notifikasi darurat itu. Kini aku sadar, rentetan pesan itulah yang membentuk kami menjadi jurnalis yang lebih peka dan tanggap.

    Selamat jalan, Sang Direktur. Terima kasih untuk setiap info A1, dedikasi tanpa henti, dan ruang aman yang kau ciptakan di meja redaksi ini. Karyamu abadi, Bang.

    Maulana,

    Jurnalis Seputarfakta.com

    (Sf/Rs)