Opini

    Ketua KNPI Kutim Sebut STIPER Harus Cetak Pengusaha Pertanian, Bukan Pencari Kerja

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    04 Juni 2026 pukul 16:31 WITA

    Ketua DPD KNPI Kutai Timur (Kutim), Avivurahman Al-Ghazali. (Foto: Dok. Pribadi)

    Sangatta - Ketua DPD KNPI Kutai Timur (Kutim), Avivurahman Al-Ghazali menegaskan Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim seharusnya mencetak pengusaha di sektor pertanian dan peternakan, bukan sekadar pencari kerja.

    Menurutnya, hal tersebut penting untuk mendukung program swasembada pangan sekaligus meningkatkan keterlibatan generasi muda di sektor pertanian.

    "Hari ini STIPER seharusnya bukan lagi menciptakan pekerja di sektor pertanian, tetapi menciptakan pengusaha di sektor pertanian," ujar Avivurahman.

    Ia mengungkapkan, jumlah pemuda di Kutim mencapai sekitar 135 ribu orang. Namun, yang terjun langsung sebagai petani maupun peternak diperkirakan tidak lebih dari 10 ribu orang.

    Padahal program swasembada pangan nasional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi dan generasi muda.

    Avivurahman menambahkan, sebagai bentuk dukungan, KNPI Kutim telah membentuk Komite Tani Muda yang melibatkan organisasi kepemudaan, pemerintah daerah dan STIPER. 

    Program tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengembangan kolam perikanan seluas dua hektare di kawasan Km 3 dengan dukungan PT Kaltim Prima Coal (KPC).

    Kolam perikanan itu dikembangkan untuk memanfaatkan potensi ekonomi Desa Pinang Raya. Sektor perikanan dinilai dapat menjadi salah satu sumber pendapatan desa.

    "Kenapa kami lakukan itu? Karena Pinang Raya kalau nanti dimekarkan harus punya PAD. Kami melihat potensi PAD di Pinang Raya ada melalui sektor perikanan," jelasnya.

    Pengembangan kolam perikanan itu menjadi salah satu bentuk peran nyata pemuda dalam mendukung ketahanan pangan daerah.

    Ia juga menilai kampus perlu memperkuat pendidikan kewirausahaan serta menanamkan mentalitas pengusaha kepada mahasiswa agar lebih banyak generasi muda terjun ke sektor pertanian dan peternakan.

    "Kalau ingin bicara swasembada pangan, kita tidak bisa hanya berharap kepada pemerintah. Pemuda, mahasiswa, akademisi dan masyarakat harus terlibat secara nyata," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Opini

    Ketua KNPI Kutim Sebut STIPER Harus Cetak Pengusaha Pertanian, Bukan Pencari Kerja

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    04 Juni 2026 pukul 16:31 WITA

    Ketua DPD KNPI Kutai Timur (Kutim), Avivurahman Al-Ghazali. (Foto: Dok. Pribadi)

    Sangatta - Ketua DPD KNPI Kutai Timur (Kutim), Avivurahman Al-Ghazali menegaskan Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim seharusnya mencetak pengusaha di sektor pertanian dan peternakan, bukan sekadar pencari kerja.

    Menurutnya, hal tersebut penting untuk mendukung program swasembada pangan sekaligus meningkatkan keterlibatan generasi muda di sektor pertanian.

    "Hari ini STIPER seharusnya bukan lagi menciptakan pekerja di sektor pertanian, tetapi menciptakan pengusaha di sektor pertanian," ujar Avivurahman.

    Ia mengungkapkan, jumlah pemuda di Kutim mencapai sekitar 135 ribu orang. Namun, yang terjun langsung sebagai petani maupun peternak diperkirakan tidak lebih dari 10 ribu orang.

    Padahal program swasembada pangan nasional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi dan generasi muda.

    Avivurahman menambahkan, sebagai bentuk dukungan, KNPI Kutim telah membentuk Komite Tani Muda yang melibatkan organisasi kepemudaan, pemerintah daerah dan STIPER. 

    Program tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengembangan kolam perikanan seluas dua hektare di kawasan Km 3 dengan dukungan PT Kaltim Prima Coal (KPC).

    Kolam perikanan itu dikembangkan untuk memanfaatkan potensi ekonomi Desa Pinang Raya. Sektor perikanan dinilai dapat menjadi salah satu sumber pendapatan desa.

    "Kenapa kami lakukan itu? Karena Pinang Raya kalau nanti dimekarkan harus punya PAD. Kami melihat potensi PAD di Pinang Raya ada melalui sektor perikanan," jelasnya.

    Pengembangan kolam perikanan itu menjadi salah satu bentuk peran nyata pemuda dalam mendukung ketahanan pangan daerah.

    Ia juga menilai kampus perlu memperkuat pendidikan kewirausahaan serta menanamkan mentalitas pengusaha kepada mahasiswa agar lebih banyak generasi muda terjun ke sektor pertanian dan peternakan.

    "Kalau ingin bicara swasembada pangan, kita tidak bisa hanya berharap kepada pemerintah. Pemuda, mahasiswa, akademisi dan masyarakat harus terlibat secara nyata," pungkasnya.

    (Sf/Lo)