Cari disini...
Olahraga
Skuad Timnas Spanyol ditahan imbang oleh Timnas Tanjung Verde. (Foto: Instagram Official Sefutbol-Federasi Sepak Bola Spanyol)
Samarinda - Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko baru saja menyelesaikan 16 pertandingan pertamanya.
Meski belum menjadi rekapan sepenuhnya untuk fase grup, ada satu anomali statistik yang langsung mencuri perhatian para penikmat sepak bola di seluruh dunia, yakni tingginya angka hasil imbang di fase awal turnamen ini.
Dari 16 laga pembuka yang telah bergulir, tercatat hampir separuhnya atau sebanyak tujuh pertandingan berakhir tanpa pemenang.
Angka ini bukan sekadar kebetulan, melainkan menjadi rekor tertinggi jika dibandingkan dengan tiga edisi Piala Dunia sebelumnya.
Tren hujan hasil imbang di awal kompetisi ini seolah mengonfirmasi bahwa kekuatan timnas sepak bola di seluruh dunia kini semakin merata.
Jika ditarik ke belakang berdasarkan perbandingan 16 laga pertama, jumlah hasil seri pada fase pembukaan Piala Dunia memang terus mengalami peningkatan yang signifikan dari edisi ke edisi.
Pada ajang Piala Dunia 2014 di Brasil, tercatat hanya ada satu pertandingan yang berakhir imbang di fase pembuka ini.
Tren tersebut kemudian mulai menunjukkan eskalasi pada Piala Dunia 2018 di Rusia, di mana terdapat tiga laga yang berakhir sama kuat.
Lonjakan kembali terjadi pada Piala Dunia 2022 di Qatar yang mencatatkan lima pertandingan imbang.
Puncaknya, pada Piala Dunia 2026 di kawasan Amerika Utara ini, angkanya melonjak drastis dengan tujuh laga imbang hanya dari 16 pertandingan pertama.
Fakta ini menunjukkan bahwa tim-tim berstatus underdog atau debutan kini datang dengan persiapan taktik yang jauh lebih matang untuk meredam permainan tim-tim raksasa sejak awal turnamen bergulir.
Bukan hanya tim gurem yang saling berbagi angka. Tim-tim favorit juara dari benua Eropa dan Amerika Selatan secara mengejutkan harus puas berbagi satu poin setelah ditahan imbang lawan-lawannya. Berikut adalah sorotan dari beberapa pertandingan sengit tersebut.
Datang sebagai salah satu kandidat kuat juara, skuad Seleção justru direpotkan oleh ketangguhan wakil Afrika, Maroko. Vinicius Junior dan kolega sempat membalas gol cepat Ismael Saibari, namun gagal mencari gol penentu kemenangan hingga peluit panjang dibunyikan.
"Kami mengontrol jalannya pertandingan, tetapi Maroko bertahan dengan blok yang sangat disiplin dan rapat. Ini adalah Piala Dunia, sudah tidak ada lagi pertandingan yang mudah. Kami harus lebih klinis memanfaatkan celah sekecil apa pun di laga berikutnya," ungkap perwakilan tim pelatih Brasil dalam sesi konferensi pers pasca-laga.
Laga sengit penuh jual-beli serangan terjadi saat Tim Oranye ditahan imbang oleh tim Samurai Biru. Jepang memberikan perlawanan luar biasa melalui kecepatan transisi mereka yang sukses menghukum barisan pertahanan Belanda.
"Jepang bermain sangat spartan dan menghukum setiap kelengahan transisi kami. Kebobolan dua gol tentu bukan awal yang kami harapkan. Hasil 2-2 ini adalah tamparan dan peringatan keras bagi tim untuk lebih fokus menutup ruang," keluh staf pelatih Timnas Belanda di hadapan para wartawan.
Kejutan terbesar mungkin datang dari Grup H. Timnas Spanyol yang tampil dominan dengan penguasaan bola khas tiki-taka dan melepaskan puluhan tembakan, dibuat frustrasi oleh tim debutan Tanjung Verde.
Pertahanan berlapis wakil Afrika tersebut sukses memaksa laga berakhir kacamata 0-0.
"Secara statistik, kami menciptakan 27 peluang dan mendominasi 65 persen penguasaan bola. Sayangnya, penyelesaian akhir kami sedang tumpul hari ini. Tanjung Verde layak mendapat pujian atas kegigihan dan organisasi pertahanan mereka malam ini," tegas pelatih Spanyol, Luis de la Fuente.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Olahraga

Skuad Timnas Spanyol ditahan imbang oleh Timnas Tanjung Verde. (Foto: Instagram Official Sefutbol-Federasi Sepak Bola Spanyol)
Samarinda - Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko baru saja menyelesaikan 16 pertandingan pertamanya.
Meski belum menjadi rekapan sepenuhnya untuk fase grup, ada satu anomali statistik yang langsung mencuri perhatian para penikmat sepak bola di seluruh dunia, yakni tingginya angka hasil imbang di fase awal turnamen ini.
Dari 16 laga pembuka yang telah bergulir, tercatat hampir separuhnya atau sebanyak tujuh pertandingan berakhir tanpa pemenang.
Angka ini bukan sekadar kebetulan, melainkan menjadi rekor tertinggi jika dibandingkan dengan tiga edisi Piala Dunia sebelumnya.
Tren hujan hasil imbang di awal kompetisi ini seolah mengonfirmasi bahwa kekuatan timnas sepak bola di seluruh dunia kini semakin merata.
Jika ditarik ke belakang berdasarkan perbandingan 16 laga pertama, jumlah hasil seri pada fase pembukaan Piala Dunia memang terus mengalami peningkatan yang signifikan dari edisi ke edisi.
Pada ajang Piala Dunia 2014 di Brasil, tercatat hanya ada satu pertandingan yang berakhir imbang di fase pembuka ini.
Tren tersebut kemudian mulai menunjukkan eskalasi pada Piala Dunia 2018 di Rusia, di mana terdapat tiga laga yang berakhir sama kuat.
Lonjakan kembali terjadi pada Piala Dunia 2022 di Qatar yang mencatatkan lima pertandingan imbang.
Puncaknya, pada Piala Dunia 2026 di kawasan Amerika Utara ini, angkanya melonjak drastis dengan tujuh laga imbang hanya dari 16 pertandingan pertama.
Fakta ini menunjukkan bahwa tim-tim berstatus underdog atau debutan kini datang dengan persiapan taktik yang jauh lebih matang untuk meredam permainan tim-tim raksasa sejak awal turnamen bergulir.
Bukan hanya tim gurem yang saling berbagi angka. Tim-tim favorit juara dari benua Eropa dan Amerika Selatan secara mengejutkan harus puas berbagi satu poin setelah ditahan imbang lawan-lawannya. Berikut adalah sorotan dari beberapa pertandingan sengit tersebut.
Datang sebagai salah satu kandidat kuat juara, skuad Seleção justru direpotkan oleh ketangguhan wakil Afrika, Maroko. Vinicius Junior dan kolega sempat membalas gol cepat Ismael Saibari, namun gagal mencari gol penentu kemenangan hingga peluit panjang dibunyikan.
"Kami mengontrol jalannya pertandingan, tetapi Maroko bertahan dengan blok yang sangat disiplin dan rapat. Ini adalah Piala Dunia, sudah tidak ada lagi pertandingan yang mudah. Kami harus lebih klinis memanfaatkan celah sekecil apa pun di laga berikutnya," ungkap perwakilan tim pelatih Brasil dalam sesi konferensi pers pasca-laga.
Laga sengit penuh jual-beli serangan terjadi saat Tim Oranye ditahan imbang oleh tim Samurai Biru. Jepang memberikan perlawanan luar biasa melalui kecepatan transisi mereka yang sukses menghukum barisan pertahanan Belanda.
"Jepang bermain sangat spartan dan menghukum setiap kelengahan transisi kami. Kebobolan dua gol tentu bukan awal yang kami harapkan. Hasil 2-2 ini adalah tamparan dan peringatan keras bagi tim untuk lebih fokus menutup ruang," keluh staf pelatih Timnas Belanda di hadapan para wartawan.
Kejutan terbesar mungkin datang dari Grup H. Timnas Spanyol yang tampil dominan dengan penguasaan bola khas tiki-taka dan melepaskan puluhan tembakan, dibuat frustrasi oleh tim debutan Tanjung Verde.
Pertahanan berlapis wakil Afrika tersebut sukses memaksa laga berakhir kacamata 0-0.
"Secara statistik, kami menciptakan 27 peluang dan mendominasi 65 persen penguasaan bola. Sayangnya, penyelesaian akhir kami sedang tumpul hari ini. Tanjung Verde layak mendapat pujian atas kegigihan dan organisasi pertahanan mereka malam ini," tegas pelatih Spanyol, Luis de la Fuente.
(Sf/Rs)