Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Olahraga
Jejak Timnas Yordania yang bisa dicontoh oleh Timnas Indonesia untuk melaju ke Piala Dunia 2026. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Timnas Yordania membuat kejutan di Piala Asia 2023. Meskipun bukan tim unggulan, mereka berhasil mencapai final dan kini membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim biasa-biasa saja dengan berhasil lolos ke Piala Dunia 2026. Perjalanan luar biasa Yordania kini menjadi inspirasi berharga bagi Timnas Indonesia yang juga memimpikan hal serupa.
Kini Indonesia memiliki peluang yang sama dengan Yordania, selangkah lagi Timnas bisa menembus panggung sepak bola global. Dengan dua pertandingan tersisa di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, yakni melawan Arab Saudi dan Irak, Indonesia bisa dijuluki sebagai tim kuda hitam.
Proyeksi dari PSSI sendiri, Indonesia bisa berbicara banyak di level dunia pada 2030. Namun, harapan dan semangat optimis masyarakat mengumbar ekspetasi lebih. Dengan menilik sejarah yang dibuat oleh Yordania, bukan tidak mungkin, Indonesia bisa mengikuti jejaknya.
Perjalanan Yordania tidaklah mulus. Di awal Kualifikasi Piala Dunia 2026, mereka sempat terseok-seok dan kesulitan bersaing. Namun, manajemen tim mengambil langkah berani dengan memecat pelatih Hussein Ammouta.
Mereka tidak hanya mengganti pelatih, tetapi juga merombak total gaya bermain dan mentalitas tim. Yordania yang sebelumnya cenderung bertahan kini bermain lebih menyerang dan berani mengambil risiko.
Perubahan ini didukung oleh keputusan federasi yang secara konsisten memberi kepercayaan pada proses jangka panjang. Menurut sebuah artikel di laman resmi FIFA, Federasi Sepak Bola Yordania (JFA) yakin bahwa membangun fondasi yang kuat membutuhkan waktu dan dukungan penuh, tidak hanya bagi pelatih, tetapi juga para pemain.
Berbeda dengan banyak negara yang mengandalkan pemain naturalisasi, Yordania lebih fokus pada pengembangan bakat-bakat lokal. Sebagian besar pemain kunci mereka seperti Musa Al-Tamari, Yazan Al-Naimat, dan Mahmoud Al-Mardi merupakan produk asli dari liga domestik. Mereka diberi panggung dan kepercayaan penuh untuk berkembang, bahkan saat berhadapan dengan tim-tim besar Asia.
Strategi ini menunjukkan bahwa kualitas individu bisa dibangun dari dalam, asalkan ada sistem pembinaan yang terstruktur dan kesempatan bermain yang memadai. Timnas Indonesia bisa belajar dari pendekatan ini untuk memaksimalkan potensi pemain muda dalam negeri.
Yordania tidak memiliki satu bintang tunggal yang menjadi tumpuan utama. Kekuatan mereka terletak pada kolektivitas tim yang luar biasa. Setiap pemain, dari penjaga gawang hingga penyerang, menjalankan perannya dengan disiplin dan penuh semangat. Hal ini menciptakan chemistry yang kuat di lapangan, membuat mereka sulit untuk ditaklukkan.
Semangat juang mereka terbukti dalam beberapa pertandingan krusial, saat Yordania bisa membalikkan keadaan meskipun tertinggal lebih dulu. Ini adalah bukti bahwa mentalitas "tidak pernah menyerah" menjadi modal penting, bukan hanya sekadar slogan.
Di bawah asuhan pelatih baru, Yordania tidak hanya bermain menyerang secara membabi buta. Mereka menganalisis setiap lawan dan menyesuaikan taktik untuk memaksimalkan kelemahan lawan.
Fleksibilitas ini membuat mereka bisa bermain efektif saat melawan tim-tim besar seperti Korea Selatan, hingga mengalahkan mereka dengan skor 2-0.
Yordania menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang bisa bermain lebih cerdas. Hal ini adalah salah satu faktor utama yang membawa mereka dari tim yang tidak diperhitungkan menjadi salah satu kekuatan baru di Asia.
Dukungan tanpa henti dari para penggemar juga menciptakan atmosfer positif yang mendorong para pemain untuk memberikan yang terbaik.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa sepak bola adalah olahraga kolektif yang melibatkan semua pihak, dari pengurus federasi, pelatih, pemain, hingga penggemar.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Olahraga

Jejak Timnas Yordania yang bisa dicontoh oleh Timnas Indonesia untuk melaju ke Piala Dunia 2026. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Timnas Yordania membuat kejutan di Piala Asia 2023. Meskipun bukan tim unggulan, mereka berhasil mencapai final dan kini membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim biasa-biasa saja dengan berhasil lolos ke Piala Dunia 2026. Perjalanan luar biasa Yordania kini menjadi inspirasi berharga bagi Timnas Indonesia yang juga memimpikan hal serupa.
Kini Indonesia memiliki peluang yang sama dengan Yordania, selangkah lagi Timnas bisa menembus panggung sepak bola global. Dengan dua pertandingan tersisa di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, yakni melawan Arab Saudi dan Irak, Indonesia bisa dijuluki sebagai tim kuda hitam.
Proyeksi dari PSSI sendiri, Indonesia bisa berbicara banyak di level dunia pada 2030. Namun, harapan dan semangat optimis masyarakat mengumbar ekspetasi lebih. Dengan menilik sejarah yang dibuat oleh Yordania, bukan tidak mungkin, Indonesia bisa mengikuti jejaknya.
Perjalanan Yordania tidaklah mulus. Di awal Kualifikasi Piala Dunia 2026, mereka sempat terseok-seok dan kesulitan bersaing. Namun, manajemen tim mengambil langkah berani dengan memecat pelatih Hussein Ammouta.
Mereka tidak hanya mengganti pelatih, tetapi juga merombak total gaya bermain dan mentalitas tim. Yordania yang sebelumnya cenderung bertahan kini bermain lebih menyerang dan berani mengambil risiko.
Perubahan ini didukung oleh keputusan federasi yang secara konsisten memberi kepercayaan pada proses jangka panjang. Menurut sebuah artikel di laman resmi FIFA, Federasi Sepak Bola Yordania (JFA) yakin bahwa membangun fondasi yang kuat membutuhkan waktu dan dukungan penuh, tidak hanya bagi pelatih, tetapi juga para pemain.
Berbeda dengan banyak negara yang mengandalkan pemain naturalisasi, Yordania lebih fokus pada pengembangan bakat-bakat lokal. Sebagian besar pemain kunci mereka seperti Musa Al-Tamari, Yazan Al-Naimat, dan Mahmoud Al-Mardi merupakan produk asli dari liga domestik. Mereka diberi panggung dan kepercayaan penuh untuk berkembang, bahkan saat berhadapan dengan tim-tim besar Asia.
Strategi ini menunjukkan bahwa kualitas individu bisa dibangun dari dalam, asalkan ada sistem pembinaan yang terstruktur dan kesempatan bermain yang memadai. Timnas Indonesia bisa belajar dari pendekatan ini untuk memaksimalkan potensi pemain muda dalam negeri.
Yordania tidak memiliki satu bintang tunggal yang menjadi tumpuan utama. Kekuatan mereka terletak pada kolektivitas tim yang luar biasa. Setiap pemain, dari penjaga gawang hingga penyerang, menjalankan perannya dengan disiplin dan penuh semangat. Hal ini menciptakan chemistry yang kuat di lapangan, membuat mereka sulit untuk ditaklukkan.
Semangat juang mereka terbukti dalam beberapa pertandingan krusial, saat Yordania bisa membalikkan keadaan meskipun tertinggal lebih dulu. Ini adalah bukti bahwa mentalitas "tidak pernah menyerah" menjadi modal penting, bukan hanya sekadar slogan.
Di bawah asuhan pelatih baru, Yordania tidak hanya bermain menyerang secara membabi buta. Mereka menganalisis setiap lawan dan menyesuaikan taktik untuk memaksimalkan kelemahan lawan.
Fleksibilitas ini membuat mereka bisa bermain efektif saat melawan tim-tim besar seperti Korea Selatan, hingga mengalahkan mereka dengan skor 2-0.
Yordania menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang bisa bermain lebih cerdas. Hal ini adalah salah satu faktor utama yang membawa mereka dari tim yang tidak diperhitungkan menjadi salah satu kekuatan baru di Asia.
Dukungan tanpa henti dari para penggemar juga menciptakan atmosfer positif yang mendorong para pemain untuk memberikan yang terbaik.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa sepak bola adalah olahraga kolektif yang melibatkan semua pihak, dari pengurus federasi, pelatih, pemain, hingga penggemar.
(Sf/Rs)