Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Olahraga
Dua stadion yang tengah bersiap menjadi tuan rumah perhelatan internasional. (Foto: Kolase oleh seputarfakta.com)
Samarinda - Kalimantan Timur (Kaltim) kembali masuk dalam radar perhelatan olahraga internasional. Kali ini pesona wilayah yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) dilirik sebagai salah satu kandidat kuat tuan rumah ajang sepak bola kelompok umur tingkat Asia Tenggara, AFF U-17.
Kabar ini terus menghangat pada Minggu (1/3/2026) seiring dengan ambisi federasi sepak bola nasional untuk terus melakukan pemerataan lokasi pertandingan bergengsi di luar Pulau Jawa.
Stadion Batakan di Balikpapan dan Stadion Segiri di Samarinda diproyeksikan menjadi dua panggung utama arena pertarungan.
Namun ambisi besar ini tentu tidak serta merta berjalan mulus tanpa tantangan. Federasi Sepak Bola ASEAN memiliki buku panduan infrastruktur yang sangat kaku dan tidak bisa ditawar.
Rencana penunjukan Kaltim akan memicu proses verifikasi fisik yang ketat, mulai dari standar rumput lapangan hingga skema mitigasi bencana di dalam area stadion.
Berikut adalah lima fakta seputar kesiapan dan syarat berat infrastruktur yang harus dipenuhi Kaltim di mata pengawas AFF.
Pertama, satu hal yang tidak pernah luput dari pantauan tim inspeksi adalah jenis dan kualitas rumput lapangan beserta sistem resapannya. Stadion Batakan memang sudah terbiasa menggelar laga internasional dan memiliki sistem drainase yang baik.
Sementara itu Stadion Segiri baru saja rampung bersolek dan menanam rumput baru yang diklaim setara dengan standar kelayakan dunia.
Keduanya harus memastikan tingkat kelembapan dan pantulan bola berada pada angka ideal mengingat turnamen kelompok umur menuntut lapangan yang meminimalisasi risiko cedera pemain muda.
Kedua, bagi Peserta Turnamen sekelas AFF U-17 tidak melulu hanya mengandalkan kemegahan stadion utama. Syarat mutlak yang kerap menggugurkan daerah kandidat adalah ketersediaan lapangan latihan yang representatif.
Sedikitnya dibutuhkan empat hingga enam lapangan latihan rumput alami yang kualitasnya harus identik dengan stadion utama.
Tuan rumah harus bekerja ekstra keras untuk menyiapkan fasilitas pendamping ini di sekitar Balikpapan dan Samarinda agar tim tamu tidak terkuras staminanya hanya untuk menjalani sesi latihan taktik.
Ketiga, aspek mobilitas menjadi salah satu poin penilaian tertinggi dalam buku pedoman penyelenggaraan laga.
Jarak dari bandara menuju hotel penginapan serta dari hotel menuju stadion utama maupun tempat latihan memiliki batas waktu maksimal perjalanan yang tidak boleh dilanggar.
Kehadiran infrastruktur jalan tol yang menghubungkan Balikpapan dan Samarinda menjadi nilai tambah yang sangat krusial.
Kendati demikian panitia lokal wajib memastikan rekayasa lalu lintas berjalan sempurna agar rombongan atlet dan official terbebas dari risiko kemacetan lalu lintas perkotaan.
Keempat, rentetan tragedi di masa lalu membuat pengawas pertandingan kini membedah cetak biru tata ruang stadion secara mendetail.
Lebar pintu keluar kapasitas lorong dan titik kumpul darurat menjadi sorotan utama demi memastikan keamanan publik dan kelancaran evakuasi.
Dalam kajian tata kelola infrastruktur olahraga yang dipublikasikan pada Jurnal Ilmu Keolahragaan peneliti tata ruang fasilitas olahraga Muhammad Purnomo menegaskan aspek terpenting dari stadion bukan hanya soal kapasitas tribun melainkan efisiensi jalur keselamatan penonton.
Purnomo menyoroti banyak pengelola stadion megah di Tanah Air yang masih menyepelekan simulasi penanganan krisis saat terjadi penumpukan penonton di pintu keluar usai laga berakhir.
"Masih menyepelekan simulasi penanganan krisis saat terjadi penumpukan penonton," dalam jurnalnya.
Kelima, menjamu delegasi dari berbagai negara peserta berarti menuntut kesiapan ribuan kamar penginapan dengan spesifikasi khusus.
Pihak penyelenggara biasanya menyaratkan jaringan penginapan berbintang empat atau lima yang mampu memfasilitasi kebutuhan nutrisi atlet penjagaan privasi dan area pertemuan eksklusif tim.
Balikpapan memiliki deretan hotel pesisir yang sangat mumpuni untuk standar kelayakan ini. Sementara wilayah Samarinda juga perlu mengoptimalkan fasilitas penginapan terbaiknya guna memastikan seluruh ofisial wasit dan tamu kehormatan mendapatkan pelayanan paripurna selama turnamen berlangsung.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Olahraga

Dua stadion yang tengah bersiap menjadi tuan rumah perhelatan internasional. (Foto: Kolase oleh seputarfakta.com)
Samarinda - Kalimantan Timur (Kaltim) kembali masuk dalam radar perhelatan olahraga internasional. Kali ini pesona wilayah yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) dilirik sebagai salah satu kandidat kuat tuan rumah ajang sepak bola kelompok umur tingkat Asia Tenggara, AFF U-17.
Kabar ini terus menghangat pada Minggu (1/3/2026) seiring dengan ambisi federasi sepak bola nasional untuk terus melakukan pemerataan lokasi pertandingan bergengsi di luar Pulau Jawa.
Stadion Batakan di Balikpapan dan Stadion Segiri di Samarinda diproyeksikan menjadi dua panggung utama arena pertarungan.
Namun ambisi besar ini tentu tidak serta merta berjalan mulus tanpa tantangan. Federasi Sepak Bola ASEAN memiliki buku panduan infrastruktur yang sangat kaku dan tidak bisa ditawar.
Rencana penunjukan Kaltim akan memicu proses verifikasi fisik yang ketat, mulai dari standar rumput lapangan hingga skema mitigasi bencana di dalam area stadion.
Berikut adalah lima fakta seputar kesiapan dan syarat berat infrastruktur yang harus dipenuhi Kaltim di mata pengawas AFF.
Pertama, satu hal yang tidak pernah luput dari pantauan tim inspeksi adalah jenis dan kualitas rumput lapangan beserta sistem resapannya. Stadion Batakan memang sudah terbiasa menggelar laga internasional dan memiliki sistem drainase yang baik.
Sementara itu Stadion Segiri baru saja rampung bersolek dan menanam rumput baru yang diklaim setara dengan standar kelayakan dunia.
Keduanya harus memastikan tingkat kelembapan dan pantulan bola berada pada angka ideal mengingat turnamen kelompok umur menuntut lapangan yang meminimalisasi risiko cedera pemain muda.
Kedua, bagi Peserta Turnamen sekelas AFF U-17 tidak melulu hanya mengandalkan kemegahan stadion utama. Syarat mutlak yang kerap menggugurkan daerah kandidat adalah ketersediaan lapangan latihan yang representatif.
Sedikitnya dibutuhkan empat hingga enam lapangan latihan rumput alami yang kualitasnya harus identik dengan stadion utama.
Tuan rumah harus bekerja ekstra keras untuk menyiapkan fasilitas pendamping ini di sekitar Balikpapan dan Samarinda agar tim tamu tidak terkuras staminanya hanya untuk menjalani sesi latihan taktik.
Ketiga, aspek mobilitas menjadi salah satu poin penilaian tertinggi dalam buku pedoman penyelenggaraan laga.
Jarak dari bandara menuju hotel penginapan serta dari hotel menuju stadion utama maupun tempat latihan memiliki batas waktu maksimal perjalanan yang tidak boleh dilanggar.
Kehadiran infrastruktur jalan tol yang menghubungkan Balikpapan dan Samarinda menjadi nilai tambah yang sangat krusial.
Kendati demikian panitia lokal wajib memastikan rekayasa lalu lintas berjalan sempurna agar rombongan atlet dan official terbebas dari risiko kemacetan lalu lintas perkotaan.
Keempat, rentetan tragedi di masa lalu membuat pengawas pertandingan kini membedah cetak biru tata ruang stadion secara mendetail.
Lebar pintu keluar kapasitas lorong dan titik kumpul darurat menjadi sorotan utama demi memastikan keamanan publik dan kelancaran evakuasi.
Dalam kajian tata kelola infrastruktur olahraga yang dipublikasikan pada Jurnal Ilmu Keolahragaan peneliti tata ruang fasilitas olahraga Muhammad Purnomo menegaskan aspek terpenting dari stadion bukan hanya soal kapasitas tribun melainkan efisiensi jalur keselamatan penonton.
Purnomo menyoroti banyak pengelola stadion megah di Tanah Air yang masih menyepelekan simulasi penanganan krisis saat terjadi penumpukan penonton di pintu keluar usai laga berakhir.
"Masih menyepelekan simulasi penanganan krisis saat terjadi penumpukan penonton," dalam jurnalnya.
Kelima, menjamu delegasi dari berbagai negara peserta berarti menuntut kesiapan ribuan kamar penginapan dengan spesifikasi khusus.
Pihak penyelenggara biasanya menyaratkan jaringan penginapan berbintang empat atau lima yang mampu memfasilitasi kebutuhan nutrisi atlet penjagaan privasi dan area pertemuan eksklusif tim.
Balikpapan memiliki deretan hotel pesisir yang sangat mumpuni untuk standar kelayakan ini. Sementara wilayah Samarinda juga perlu mengoptimalkan fasilitas penginapan terbaiknya guna memastikan seluruh ofisial wasit dan tamu kehormatan mendapatkan pelayanan paripurna selama turnamen berlangsung.
(Sf/Lo)