Cari disini...
Olahraga
Ketua Pelti Kabupaten Paser, Ibrahim Ahmad. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)
Tana Paser - Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Kabupaten Paser tengah bersiap melakukan regenerasi atlet secara menyeluruh guna menyongsong kejuaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kalimantan Timur (Kaltim).
Langkah tersebut diambil untuk menyesuaikan dengan batas usia maksimal atlet yang ditetapkan dalam regulasi pertandingan terbaru.
Ketua Pelti Kabupaten Paser, Ibrahim Ahmad menyatakan batasan umur untuk para atlet yang akan bertanding di porprov mendatang ditetapkan maksimal 30 tahun. Hal itu membuat deretan atlet senior yang sebelumnya sukses menyumbangkan medali emas tidak lagi dapat diturunkan sebagai pemain.
"Sekarang maksimal umur 30 yang dipertandingkan," kata Ibrahim Ahmad, Jumat (28/8/2026).
Kondisi tersebut memaksa pengurus untuk merombak komposisi tim dan berfokus penuh pada perekrutan serta pembinaan pemain-pemain baru. Keputusan untuk mematuhi regulasi tersebut juga diambil demi memastikan keberlanjutan regenerasi atlet di daerah.
Meskipun tidak dapat lagi berlaga di lapangan sebagai pemain, para mantan atlet peraih medali emas tersebut tidak lantas dilepas begitu saja. Pengurus berkomitmen untuk tetap melibatkan mereka melalui program pemberdayaan potensi lokal.
Salah satu bentuk pemberdayaan yang disiapkan adalah mentransformasi peran para atlet berbakat tersebut menjadi pelatih. Untuk menunjang peran baru ini, pihak pengurus berencana memfasilitasi para calon pelatih lokal tersebut dengan sertifikasi resmi.
"Tetap kita berdayakan. Pemain senior yang bagus kita sertifikasikan agar bisa menjadi pelatih," ucapnya.
Penggunaan pelatih lokal juga menjadi solusi strategis di tengah keterbatasan anggaran yang dihadapi pengurus. Meski diakui ada keinginan untuk mendatangkan pelatih dari luar daerah, efisiensi anggaran memaksa pengurus memprioritaskan tenaga lokal yang dinilai memiliki semangat dan rasa kebersamaan tinggi.
Peningkatan keahlian dan penguasaan teknik dasar para atlet muda nantinya akan bertumpu pada bimbingan pelatih-pelatih lokal terdaftar tersebut. Pengurus optimistis modal semangat dan penguasaan teknik dasar yang kuat sudah cukup untuk membangun fondasi awal tim baru.
Bagi atlet-atlet muda yang menunjukkan bakat luar biasa dan ketahanan bertanding, pengurus merencanakan program pembinaan lanjutan ke sekolah tenis terkemuka. Sekolah khusus tersebut nantinya bertugas mencetak mereka menjadi petenis dengan kualitas yang baik.
Namun, rencana pengiriman atlet ke lembaga pelatihan nasional tersebut masih harus menunggu ketersediaan anggaran daerah.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Olahraga

Ketua Pelti Kabupaten Paser, Ibrahim Ahmad. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)
Tana Paser - Pengurus Cabang (Pengcab) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Kabupaten Paser tengah bersiap melakukan regenerasi atlet secara menyeluruh guna menyongsong kejuaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Kalimantan Timur (Kaltim).
Langkah tersebut diambil untuk menyesuaikan dengan batas usia maksimal atlet yang ditetapkan dalam regulasi pertandingan terbaru.
Ketua Pelti Kabupaten Paser, Ibrahim Ahmad menyatakan batasan umur untuk para atlet yang akan bertanding di porprov mendatang ditetapkan maksimal 30 tahun. Hal itu membuat deretan atlet senior yang sebelumnya sukses menyumbangkan medali emas tidak lagi dapat diturunkan sebagai pemain.
"Sekarang maksimal umur 30 yang dipertandingkan," kata Ibrahim Ahmad, Jumat (28/8/2026).
Kondisi tersebut memaksa pengurus untuk merombak komposisi tim dan berfokus penuh pada perekrutan serta pembinaan pemain-pemain baru. Keputusan untuk mematuhi regulasi tersebut juga diambil demi memastikan keberlanjutan regenerasi atlet di daerah.
Meskipun tidak dapat lagi berlaga di lapangan sebagai pemain, para mantan atlet peraih medali emas tersebut tidak lantas dilepas begitu saja. Pengurus berkomitmen untuk tetap melibatkan mereka melalui program pemberdayaan potensi lokal.
Salah satu bentuk pemberdayaan yang disiapkan adalah mentransformasi peran para atlet berbakat tersebut menjadi pelatih. Untuk menunjang peran baru ini, pihak pengurus berencana memfasilitasi para calon pelatih lokal tersebut dengan sertifikasi resmi.
"Tetap kita berdayakan. Pemain senior yang bagus kita sertifikasikan agar bisa menjadi pelatih," ucapnya.
Penggunaan pelatih lokal juga menjadi solusi strategis di tengah keterbatasan anggaran yang dihadapi pengurus. Meski diakui ada keinginan untuk mendatangkan pelatih dari luar daerah, efisiensi anggaran memaksa pengurus memprioritaskan tenaga lokal yang dinilai memiliki semangat dan rasa kebersamaan tinggi.
Peningkatan keahlian dan penguasaan teknik dasar para atlet muda nantinya akan bertumpu pada bimbingan pelatih-pelatih lokal terdaftar tersebut. Pengurus optimistis modal semangat dan penguasaan teknik dasar yang kuat sudah cukup untuk membangun fondasi awal tim baru.
Bagi atlet-atlet muda yang menunjukkan bakat luar biasa dan ketahanan bertanding, pengurus merencanakan program pembinaan lanjutan ke sekolah tenis terkemuka. Sekolah khusus tersebut nantinya bertugas mencetak mereka menjadi petenis dengan kualitas yang baik.
Namun, rencana pengiriman atlet ke lembaga pelatihan nasional tersebut masih harus menunggu ketersediaan anggaran daerah.
(Sf/Lo)