Cari disini...
Olahraga
Aditya Setiawan Pengamat Sepak Bola/Pemilik Akun Sobat Pundit. (Foto: Dok. Aditya Setiawan)
Samarinda - Euforia Piala Dunia 2026 sudah mulai memanaskan atmosfer para pecinta kulit bundar.
Sayangnya, ajang empat tahunan bergengsi ini sering kali ditunggangi oleh oknum-oknum sebagai lapak taruhan.
Niat awalnya mencari hiburan, ujung-ujungnya malah bikin dompet boncos karena jagoannya kalah telak.
Fenomena nonton bola demi cuan ini mendapat sorotan tajam dari pengamat sepak bola asal Samarinda, Aditya Setiawan.
Menurutnya, sepak bola itu sudah tercipta dengan takaran keseruan yang pas, tanpa perlu ditambah bumbu-bumbu taruhan yang justru merusak esensi olahraga itu sendiri.
Aditya mengingatkan bahwa terlalu fokus pada judi bola sering kali membuat penonton kehilangan rasa asli dari pertandingan.
Kalau mata terlalu sibuk mengecek voor-vooran atau odds taruhan, orang bakal melewatkan keindahan adu taktik di lapangan, perjuangan mati-matian para pemain, hingga kejutan-kejutan epik yang selalu menjadi ciri khas Piala Dunia.
Aditya menyarankan para pecinta bola untuk sekadar membuat prediksi skor bareng teman tongkrongan sebagai ajang seru-seruan, atau mengadakan nonton bareng (nobar) keluarga yang santai.
Ditambah lagi, di era sepak bola modern, penonton bisa mencoba menganalisis strategi tim layaknya seorang manajer profesional. Hal-hal semacam ini dinilai jauh lebih menghibur dan sehat daripada senam jantung memikirkan tebakan skor berhadiah uang.
Lebih jauh, Aditya menyoroti bahwa godaan judi kini makin gampang diakses lewat ujung jari.
Karena itu, ia mendesak aparat kepolisian untuk memberikan perhatian ekstra serius, mengingat grafik aktivitas perjudian biasanya melonjak drastis saat event sebesar Piala Dunia bergulir.
"Harapannya tentu aparat kepolisian bisa memperkuat pengawasan dan penindakan terhadap praktik judi bola, baik yang dilakukan secara konvensional maupun melalui platform digital. Sebab, judi tidak hanya merusak esensi sepak bola, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan sosial, ekonomi, hingga kriminalitas di masyarakat," tegas Aditya yang menjagokan Jerman di Piala Dunia ini.
Bahkan, ia secara terbuka mendukung penuh jika pihak kepolisian membentuk satuan tugas (satgas) atau tim cyber khusus. Tujuan yang diminta Aditya fokus melakukan pencegahan, pelacakan, dan pemberantasan mafia judi bola yang kerap meraup untung di tengah euforia masyarakat.
Pengamat ini juga menekankan betapa krusialnya edukasi, terutama bagi generasi muda.
"Sepak bola seharusnya dinikmati karena kecintaan terhadap permainan, strategi, kualitas pemain, dan semangat kompetisinya, bukan karena dorongan mencari keuntungan lewat taruhan. Jangan sampai orang menonton sepak bola hanya karena memasang uang," paparnya.
Menutup pernyataannya, Aditya menekankan pentingnya kerja sama banyak pihak. Mulai dari ketegasan aparat, pengawasan platform digital, hingga edukasi masyarakat harus sejalan agar tontonan sepak bola kembali menjadi hiburan yang sehat.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Olahraga

Aditya Setiawan Pengamat Sepak Bola/Pemilik Akun Sobat Pundit. (Foto: Dok. Aditya Setiawan)
Samarinda - Euforia Piala Dunia 2026 sudah mulai memanaskan atmosfer para pecinta kulit bundar.
Sayangnya, ajang empat tahunan bergengsi ini sering kali ditunggangi oleh oknum-oknum sebagai lapak taruhan.
Niat awalnya mencari hiburan, ujung-ujungnya malah bikin dompet boncos karena jagoannya kalah telak.
Fenomena nonton bola demi cuan ini mendapat sorotan tajam dari pengamat sepak bola asal Samarinda, Aditya Setiawan.
Menurutnya, sepak bola itu sudah tercipta dengan takaran keseruan yang pas, tanpa perlu ditambah bumbu-bumbu taruhan yang justru merusak esensi olahraga itu sendiri.
Aditya mengingatkan bahwa terlalu fokus pada judi bola sering kali membuat penonton kehilangan rasa asli dari pertandingan.
Kalau mata terlalu sibuk mengecek voor-vooran atau odds taruhan, orang bakal melewatkan keindahan adu taktik di lapangan, perjuangan mati-matian para pemain, hingga kejutan-kejutan epik yang selalu menjadi ciri khas Piala Dunia.
Aditya menyarankan para pecinta bola untuk sekadar membuat prediksi skor bareng teman tongkrongan sebagai ajang seru-seruan, atau mengadakan nonton bareng (nobar) keluarga yang santai.
Ditambah lagi, di era sepak bola modern, penonton bisa mencoba menganalisis strategi tim layaknya seorang manajer profesional. Hal-hal semacam ini dinilai jauh lebih menghibur dan sehat daripada senam jantung memikirkan tebakan skor berhadiah uang.
Lebih jauh, Aditya menyoroti bahwa godaan judi kini makin gampang diakses lewat ujung jari.
Karena itu, ia mendesak aparat kepolisian untuk memberikan perhatian ekstra serius, mengingat grafik aktivitas perjudian biasanya melonjak drastis saat event sebesar Piala Dunia bergulir.
"Harapannya tentu aparat kepolisian bisa memperkuat pengawasan dan penindakan terhadap praktik judi bola, baik yang dilakukan secara konvensional maupun melalui platform digital. Sebab, judi tidak hanya merusak esensi sepak bola, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan sosial, ekonomi, hingga kriminalitas di masyarakat," tegas Aditya yang menjagokan Jerman di Piala Dunia ini.
Bahkan, ia secara terbuka mendukung penuh jika pihak kepolisian membentuk satuan tugas (satgas) atau tim cyber khusus. Tujuan yang diminta Aditya fokus melakukan pencegahan, pelacakan, dan pemberantasan mafia judi bola yang kerap meraup untung di tengah euforia masyarakat.
Pengamat ini juga menekankan betapa krusialnya edukasi, terutama bagi generasi muda.
"Sepak bola seharusnya dinikmati karena kecintaan terhadap permainan, strategi, kualitas pemain, dan semangat kompetisinya, bukan karena dorongan mencari keuntungan lewat taruhan. Jangan sampai orang menonton sepak bola hanya karena memasang uang," paparnya.
Menutup pernyataannya, Aditya menekankan pentingnya kerja sama banyak pihak. Mulai dari ketegasan aparat, pengawasan platform digital, hingga edukasi masyarakat harus sejalan agar tontonan sepak bola kembali menjadi hiburan yang sehat.
(Sf/Lo)