Cari disini...
Olahraga
Turki sebagai tim yang tereliminasi di Piala Dunia lebih dini. (Foto: x.com)
Samarinda - Format baru Piala Dunia FIFA 2026 yang diperluas menjadi 48 tim sejatinya menjanjikan lebih banyak peluang untuk melaju ke fase gugur.
Namun, panggung terbesar sepak bola dunia ini tetap saja arena yang mengerikan. Banyak negara tampil bagus di kualifikasi, tapi gagal total di turnamen utama.
Hingga fase grup bergulir pada pertengahan Juni ini, sejumlah tim yang sempat diunggulkan telah resmi angkat koper lebih awal.
Salah satu kisah paling mengecewakan di turnamen ini datang dari Grup D. Tim Nasional Turki, yang kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 24 tahun, datang dengan ekspektasi besar.
Di bawah asuhan pelatih Vincenzo Montella, mereka tampil sangat solid selama masa kualifikasi zona Eropa.
Skuad mereka dipenuhi kombinasi pemain muda berbakat dan veteran berpengalaman yang bermain di klub-klub elite dunia.
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Turki dipastikan tersingkir setelah menelan dua kekalahan beruntun, pertama dari Australia dan Paraguay tanpa mampu mencetak satu gol pun.
Ironisnya, saat ditekuk Paraguay dengan skor 1-0, Turki gagal memanfaatkan keuntungan jumlah pemain meski lawan bermain dengan 10 orang di sepanjang babak kedua.
Sebuah rekor buruk tercipta, Turki melepaskan 62 tembakan dalam dua laga tersebut tanpa ada satupun yang berbuah gol.
Kekecewaan mendalam tergambar dari skuad bintang sabit. Bintang muda Real Madrid, Arda Guler, tidak menutupi rasa frustrasinya.
"Kami merasa malu. Kami meminta maaf kepada seluruh rakyat kami. Kami bermain di tim-tim besar dan kami harus menunjukkannya di lapangan. Kami tidak bisa mencetak gol di dua pertandingan. Kami meminta maaf kepada rakyat kami," kata Arda, dikutip dari TRT Spor (via Soccer Laduma).
Sang kapten, Hakan Calhanoglu, juga mengungkapkan keputusasaannya atas efektivitas tim yang seolah menguap begitu saja. Berbicara kepada media, gelandang Inter Milan itu melontarkan kalimat emosional:
"Sulit mencari kata-kata saat ini. Ini sangat berat. Saya mencoba segalanya di kedua pertandingan. Kami menembak, tidak berhasil. Kami menekan, tidak ada hasil. Murni nasib buruk. Sepak bola terkadang sangat kejam," ujar Hakan.
Kehancuran taktik di lapangan ini seolah membenarkan peringatan dari pelatih Vincenzo Montella sebelum turnamen bergulir.
Dalam wawancaranya bersama FIFA.com, pelatih asal Italia itu sempat mencoba meredam ekspektasi berlebih.
"Penting untuk bermimpi, tetapi Anda juga harus tetap membumi... Kualitas lawan di kompetisi ini tetap sangat tinggi," ujar Vicenzo.
Sayangnya, peringatan tersebut gagal membendung eliminasi dini skuadnya.
Bukan hanya Eropa yang merasakan kerasnya tamparan panggung utama. Dari benua Afrika, Tunisia juga harus memupus harapan mereka jauh lebih awal.
Tergabung di Grup F, Tunisia yang terkenal sebagai raksasa yang tangguh di benuanya justru tampil antiklimaks dan resmi tersingkir setelah dibantai oleh Jepang dengan skor telak 4-0 di laga kedua.
Kekalahan ini membuat mereka terbenam di dasar klasemen dengan 0 poin dan selisih gol -8, sebuah penurunan performa yang sangat drastis dibandingkan saat kualifikasi.
Sementara itu, dari zona Asia, Arab Saudi (Grup H) juga berada di ujung tanduk. Tim yang terkenal gigih dan sulit dikalahkan di kualifikasi zona AFC ini baru mengoleksi 1 poin dari dua pertandingan dengan selisih gol -4, membuat peluang mereka untuk lolos secara matematis nyaris tertutup rapat.
Di luar benua-benua tersebut, wakil CONCACAF, Haiti, mencatatkan diri sebagai negara pertama yang resmi tersingkir dari turnamen setelah gagal mengimbangi dominasi Skotlandia dan Brasil.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Olahraga

Turki sebagai tim yang tereliminasi di Piala Dunia lebih dini. (Foto: x.com)
Samarinda - Format baru Piala Dunia FIFA 2026 yang diperluas menjadi 48 tim sejatinya menjanjikan lebih banyak peluang untuk melaju ke fase gugur.
Namun, panggung terbesar sepak bola dunia ini tetap saja arena yang mengerikan. Banyak negara tampil bagus di kualifikasi, tapi gagal total di turnamen utama.
Hingga fase grup bergulir pada pertengahan Juni ini, sejumlah tim yang sempat diunggulkan telah resmi angkat koper lebih awal.
Salah satu kisah paling mengecewakan di turnamen ini datang dari Grup D. Tim Nasional Turki, yang kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 24 tahun, datang dengan ekspektasi besar.
Di bawah asuhan pelatih Vincenzo Montella, mereka tampil sangat solid selama masa kualifikasi zona Eropa.
Skuad mereka dipenuhi kombinasi pemain muda berbakat dan veteran berpengalaman yang bermain di klub-klub elite dunia.
Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Turki dipastikan tersingkir setelah menelan dua kekalahan beruntun, pertama dari Australia dan Paraguay tanpa mampu mencetak satu gol pun.
Ironisnya, saat ditekuk Paraguay dengan skor 1-0, Turki gagal memanfaatkan keuntungan jumlah pemain meski lawan bermain dengan 10 orang di sepanjang babak kedua.
Sebuah rekor buruk tercipta, Turki melepaskan 62 tembakan dalam dua laga tersebut tanpa ada satupun yang berbuah gol.
Kekecewaan mendalam tergambar dari skuad bintang sabit. Bintang muda Real Madrid, Arda Guler, tidak menutupi rasa frustrasinya.
"Kami merasa malu. Kami meminta maaf kepada seluruh rakyat kami. Kami bermain di tim-tim besar dan kami harus menunjukkannya di lapangan. Kami tidak bisa mencetak gol di dua pertandingan. Kami meminta maaf kepada rakyat kami," kata Arda, dikutip dari TRT Spor (via Soccer Laduma).
Sang kapten, Hakan Calhanoglu, juga mengungkapkan keputusasaannya atas efektivitas tim yang seolah menguap begitu saja. Berbicara kepada media, gelandang Inter Milan itu melontarkan kalimat emosional:
"Sulit mencari kata-kata saat ini. Ini sangat berat. Saya mencoba segalanya di kedua pertandingan. Kami menembak, tidak berhasil. Kami menekan, tidak ada hasil. Murni nasib buruk. Sepak bola terkadang sangat kejam," ujar Hakan.
Kehancuran taktik di lapangan ini seolah membenarkan peringatan dari pelatih Vincenzo Montella sebelum turnamen bergulir.
Dalam wawancaranya bersama FIFA.com, pelatih asal Italia itu sempat mencoba meredam ekspektasi berlebih.
"Penting untuk bermimpi, tetapi Anda juga harus tetap membumi... Kualitas lawan di kompetisi ini tetap sangat tinggi," ujar Vicenzo.
Sayangnya, peringatan tersebut gagal membendung eliminasi dini skuadnya.
Bukan hanya Eropa yang merasakan kerasnya tamparan panggung utama. Dari benua Afrika, Tunisia juga harus memupus harapan mereka jauh lebih awal.
Tergabung di Grup F, Tunisia yang terkenal sebagai raksasa yang tangguh di benuanya justru tampil antiklimaks dan resmi tersingkir setelah dibantai oleh Jepang dengan skor telak 4-0 di laga kedua.
Kekalahan ini membuat mereka terbenam di dasar klasemen dengan 0 poin dan selisih gol -8, sebuah penurunan performa yang sangat drastis dibandingkan saat kualifikasi.
Sementara itu, dari zona Asia, Arab Saudi (Grup H) juga berada di ujung tanduk. Tim yang terkenal gigih dan sulit dikalahkan di kualifikasi zona AFC ini baru mengoleksi 1 poin dari dua pertandingan dengan selisih gol -4, membuat peluang mereka untuk lolos secara matematis nyaris tertutup rapat.
Di luar benua-benua tersebut, wakil CONCACAF, Haiti, mencatatkan diri sebagai negara pertama yang resmi tersingkir dari turnamen setelah gagal mengimbangi dominasi Skotlandia dan Brasil.
(Sf/Rs)