Cari disini...
Olahraga
Pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu. (Foto: Intagram Resmi Japan Football Association)
Samarinda - Timnas Jepang kembali mengukir tinta emas di panggung sepak bola terbesar sejagat.
Skuad Samurai Biru sukses menyegel tiket ke fase gugur Piala Dunia 2026 dengan rekor mentereng tak terkalahkan di Grup F.
Anak asuh Hajime Moriyasu lolos sebagai runner-up grup di bawah Belanda dengan torehan 5 poin dari tiga pertandingan.
Bukti ketangguhan mereka terlihat secara spesifik saat sukses meraih kemenangan telak 4-0 atas Tunisia pada 21 Juni.
Selain itu, Jepang tampil sangat solid dan pantang menyerah dengan menahan imbang raksasa Eropa, Belanda, dengan skor 2-2 serta berbagi angka 1-1 dengan Swedia di laga penentuan grup.
Pencapaian sensasional ini semakin menegaskan status Hajime Moriyasu sebagai arsitek tersukses dalam sejarah tim nasional Jepang.
Kesuksesan membawa Jepang mencetak hat-trick lolos ke fase gugur sejak 2018 bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari evolusi taktis yang brilian.
Pada fase awal kepemimpinannya (2018–2021), Moriyasu meletakkan fondasi dengan formasi 4-2-3-1 dan 4-3-3 yang terstruktur.
Fokus utamanya saat itu adalah menciptakan blok pertahanan kompak yang diakhiri dengan serangan vertikal kilat memanfaatkan kecepatan sayap.
Memasuki Piala Dunia 2022, dunia mulai disuguhkan fleksibilitas ekstrem dari sang pelatih saat secara dramatis menumbangkan Jerman dan Spanyol.
Moriyasu tak ragu memulai laga dengan pertahanan rapat, lalu mengubah struktur menjadi tiga bek untuk memfasilitasi pressing intensif di babak kedua.
Kunci dari sistem ini adalah momen trigger atau pemicu pressing yang sangat terkoordinasi untuk merebut bola.
Transisi serangan balik kemudian dieksekusi dengan sempurna lewat pergantian pemain terencana, memasukkan sayap eksplosif tanpa merusak struktur tim.
Kini, pada periode 2023 hingga 2026, sistem permainan Jepang berevolusi makin matang menjadi pakem 3-4-2-1.
Penggunaan tiga bek sejajar terbukti memberikan stabilitas saat build-up serangan dan perlindungan ekstra saat menghadapi transisi balik lawan.
Di lini tengah, double pivot seperti Wataru Endo dan Hidemasa Morita memegang peran vital ganda. Keduanya menjadi motor sirkulasi bola sekaligus perusak serangan lawan.
Menariknya, dua pemain di belakang striker kini lebih leluasa mengeksploitasi half-space untuk menciptakan kombinasi tak terduga, sementara para wing-back fokus menjaga kelebaran lapangan.
Tentu saja, evolusi taktik tingkat tinggi ini tidak lepas dari visi besar Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) lewat Rencana 100 Tahun mereka.
Pembinaan teknik dasar sejak usia dini berpadu sempurna dengan iklim profesional J-League, memudahkan implementasi taktik modern di level timnas.
Selain itu, eksodus pemain Jepang ke liga-liga top Eropa memberi Moriyasu kemewahan profil pemain yang sangat beragam dan berkualitas.
Hebatnya, konsistensi struktural ini tetap terjaga meski Jepang harus melakukan rotasi pemain akibat cedera sebelum turnamen bergulir.
"Siapa pun dapat bermain dengan siapa pun, itulah kesiapan yang ingin kami pastikan," ujar Moriyasu dilansir dari The Japan Times (25/6/2026).
Tim asuhan Moriyasu kini menatap laga ujian sesungguhnya melawan Brasil yang dijadwalkan pada 30 Juni dini hari.
"Saya percaya bahwa, dengan mengandalkan kemampuan sendiri, kami dapat bersaing dengan tim mana pun secara setara dan meraih kemenangan," tegas sang pelatih.
Kini, jutaan pasang mata menanti sejauh mana taktik elite Moriyasu mampu mendobrak batasan dan mencetak sejarah baru bagi Asia saat berhadapan dengan raksasa Amerika Latin tersebut.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Olahraga

Pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu. (Foto: Intagram Resmi Japan Football Association)
Samarinda - Timnas Jepang kembali mengukir tinta emas di panggung sepak bola terbesar sejagat.
Skuad Samurai Biru sukses menyegel tiket ke fase gugur Piala Dunia 2026 dengan rekor mentereng tak terkalahkan di Grup F.
Anak asuh Hajime Moriyasu lolos sebagai runner-up grup di bawah Belanda dengan torehan 5 poin dari tiga pertandingan.
Bukti ketangguhan mereka terlihat secara spesifik saat sukses meraih kemenangan telak 4-0 atas Tunisia pada 21 Juni.
Selain itu, Jepang tampil sangat solid dan pantang menyerah dengan menahan imbang raksasa Eropa, Belanda, dengan skor 2-2 serta berbagi angka 1-1 dengan Swedia di laga penentuan grup.
Pencapaian sensasional ini semakin menegaskan status Hajime Moriyasu sebagai arsitek tersukses dalam sejarah tim nasional Jepang.
Kesuksesan membawa Jepang mencetak hat-trick lolos ke fase gugur sejak 2018 bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari evolusi taktis yang brilian.
Pada fase awal kepemimpinannya (2018–2021), Moriyasu meletakkan fondasi dengan formasi 4-2-3-1 dan 4-3-3 yang terstruktur.
Fokus utamanya saat itu adalah menciptakan blok pertahanan kompak yang diakhiri dengan serangan vertikal kilat memanfaatkan kecepatan sayap.
Memasuki Piala Dunia 2022, dunia mulai disuguhkan fleksibilitas ekstrem dari sang pelatih saat secara dramatis menumbangkan Jerman dan Spanyol.
Moriyasu tak ragu memulai laga dengan pertahanan rapat, lalu mengubah struktur menjadi tiga bek untuk memfasilitasi pressing intensif di babak kedua.
Kunci dari sistem ini adalah momen trigger atau pemicu pressing yang sangat terkoordinasi untuk merebut bola.
Transisi serangan balik kemudian dieksekusi dengan sempurna lewat pergantian pemain terencana, memasukkan sayap eksplosif tanpa merusak struktur tim.
Kini, pada periode 2023 hingga 2026, sistem permainan Jepang berevolusi makin matang menjadi pakem 3-4-2-1.
Penggunaan tiga bek sejajar terbukti memberikan stabilitas saat build-up serangan dan perlindungan ekstra saat menghadapi transisi balik lawan.
Di lini tengah, double pivot seperti Wataru Endo dan Hidemasa Morita memegang peran vital ganda. Keduanya menjadi motor sirkulasi bola sekaligus perusak serangan lawan.
Menariknya, dua pemain di belakang striker kini lebih leluasa mengeksploitasi half-space untuk menciptakan kombinasi tak terduga, sementara para wing-back fokus menjaga kelebaran lapangan.
Tentu saja, evolusi taktik tingkat tinggi ini tidak lepas dari visi besar Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) lewat Rencana 100 Tahun mereka.
Pembinaan teknik dasar sejak usia dini berpadu sempurna dengan iklim profesional J-League, memudahkan implementasi taktik modern di level timnas.
Selain itu, eksodus pemain Jepang ke liga-liga top Eropa memberi Moriyasu kemewahan profil pemain yang sangat beragam dan berkualitas.
Hebatnya, konsistensi struktural ini tetap terjaga meski Jepang harus melakukan rotasi pemain akibat cedera sebelum turnamen bergulir.
"Siapa pun dapat bermain dengan siapa pun, itulah kesiapan yang ingin kami pastikan," ujar Moriyasu dilansir dari The Japan Times (25/6/2026).
Tim asuhan Moriyasu kini menatap laga ujian sesungguhnya melawan Brasil yang dijadwalkan pada 30 Juni dini hari.
"Saya percaya bahwa, dengan mengandalkan kemampuan sendiri, kami dapat bersaing dengan tim mana pun secara setara dan meraih kemenangan," tegas sang pelatih.
Kini, jutaan pasang mata menanti sejauh mana taktik elite Moriyasu mampu mendobrak batasan dan mencetak sejarah baru bagi Asia saat berhadapan dengan raksasa Amerika Latin tersebut.
(Sf/Rs)