Cari disini...
Olahraga
Pemain lini depan Borneo FC, yang menjadikan tim ini tersubur di BRI Super League. (Foto: Borneo FC)
Samarinda - Musim kompetisi Liga 2025/2026 berakhir dengan catatan yang cukup mengiris hati bagi Borneo FC Samarinda.
Terganjal aturan head-to-head dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), skuad berjuluk Pesut Etam ini harus merelakan trofi juara ke tangan Persib Bandung, meski secara statistik keseluruhan tampil jauh lebih mendominasi sepanjang 34 pekan.
Kegagalan merengkuh gelar juara ini seakan menjadi dejavu menyakitkan. Musim lalu, tim kebanggaan masyarakat Samarinda ini juga dirugikan dan gagal mengamankan peringkat ketiga karena regulasi kompetisi yang sama.
Jika melihat klasemen akhir, ironi pembagian takhta ini terlihat sangat jelas. Borneo FC dan Persib Bandung mengakhiri musim dengan torehan poin yang identik, yakni 79 poin.
Namun, jika menyingkirkan regulasi head-to-head dan melihat performa secara utuh, Borneo FC unggul telak di atas kertas.
Dari total 34 pertandingan, Pesut Etam sukses membukukan 25 kemenangan (lebih banyak dari Persib yang meraih 24 kemenangan), 4 kali imbang, dan hanya menderita 5 kekalahan.
Daya ledak serangan asuhan pelatih Fabio Lefundes juga jauh lebih mengerikan. Mereka menjadi tim paling produktif di liga dengan mencetak 74 gol dan memiliki selisih gol (SG) mencapai +43.
Angka ini melampaui statistik Persib Bandung yang menorehkan 59 gol dengan selisih gol +37.
Namun, semua dominasi jumlah kemenangan, produktivitas gol, hingga selisih gol tersebut hangus hanya karena Borneo FC kalah catatan pertemuan langsung (head-to-head) dengan sang rival.
Dalam Post-Match Press Conference pekan ke-34 usai laga melawan Malut United, Fabio Lefundes dan penjaga gawang Nadeo Argawinata menolak tunduk pada kekecewaan dan menegaskan bahwa Borneo FC adalah pemenang sejati di atas lapangan musim ini.
"Saya sangat bangga dengan apa yang telah kami capai di sini. Kami berhasil menjadi tim dengan jumlah kemenangan terbanyak di kompetisi. Di kandang sendiri, kami mencatatkan 15 kemenangan, satu imbang, dan hanya satu kali kalah," tegas Fabio Lefundes di hadapan awak media.
Pelatih asal Brasil tersebut juga menyoroti bahwa dominasi timnya dilengkapi dengan raihan penghargaan individu yang prestisius.
Pertahanan yang solid melahirkan gelar Kiper Terbaik, ditambah dengan gelar Most Valuable Player (MVP) kompetisi, serta tiga pemain yang berhasil menembus susunan Best Eleven.
Senada dengan sang pelatih, Nadeo Argawinata menilai seluruh penikmat sepak bola Tanah Air yang melihat data statistik pasti tahu siapa tim yang tampil paling konsisten tahun ini.
"Saya rasa seluruh Indonesia juga tahu kalau Borneo di tahun ini sangat superior dan pantas untuk mendapatkan gelar juara. Tetapi inilah sepak bola, semua harus kita terima karena ada peraturan dan regulasi yang sudah disetujui dari awal," ungkap Nadeo.
Apapun catatan di atas kertas regulasi, rentetan rekor kemenangan, agresivitas 74 gol, dan dominasi mutlak di Stadion Segiri telah membuktikan satu hal, musim ini, Borneo FC adalah juara tak bermahkota yang sesungguhnya bagi publik Samarinda.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Olahraga

Pemain lini depan Borneo FC, yang menjadikan tim ini tersubur di BRI Super League. (Foto: Borneo FC)
Samarinda - Musim kompetisi Liga 2025/2026 berakhir dengan catatan yang cukup mengiris hati bagi Borneo FC Samarinda.
Terganjal aturan head-to-head dari PT Liga Indonesia Baru (LIB), skuad berjuluk Pesut Etam ini harus merelakan trofi juara ke tangan Persib Bandung, meski secara statistik keseluruhan tampil jauh lebih mendominasi sepanjang 34 pekan.
Kegagalan merengkuh gelar juara ini seakan menjadi dejavu menyakitkan. Musim lalu, tim kebanggaan masyarakat Samarinda ini juga dirugikan dan gagal mengamankan peringkat ketiga karena regulasi kompetisi yang sama.
Jika melihat klasemen akhir, ironi pembagian takhta ini terlihat sangat jelas. Borneo FC dan Persib Bandung mengakhiri musim dengan torehan poin yang identik, yakni 79 poin.
Namun, jika menyingkirkan regulasi head-to-head dan melihat performa secara utuh, Borneo FC unggul telak di atas kertas.
Dari total 34 pertandingan, Pesut Etam sukses membukukan 25 kemenangan (lebih banyak dari Persib yang meraih 24 kemenangan), 4 kali imbang, dan hanya menderita 5 kekalahan.
Daya ledak serangan asuhan pelatih Fabio Lefundes juga jauh lebih mengerikan. Mereka menjadi tim paling produktif di liga dengan mencetak 74 gol dan memiliki selisih gol (SG) mencapai +43.
Angka ini melampaui statistik Persib Bandung yang menorehkan 59 gol dengan selisih gol +37.
Namun, semua dominasi jumlah kemenangan, produktivitas gol, hingga selisih gol tersebut hangus hanya karena Borneo FC kalah catatan pertemuan langsung (head-to-head) dengan sang rival.
Dalam Post-Match Press Conference pekan ke-34 usai laga melawan Malut United, Fabio Lefundes dan penjaga gawang Nadeo Argawinata menolak tunduk pada kekecewaan dan menegaskan bahwa Borneo FC adalah pemenang sejati di atas lapangan musim ini.
"Saya sangat bangga dengan apa yang telah kami capai di sini. Kami berhasil menjadi tim dengan jumlah kemenangan terbanyak di kompetisi. Di kandang sendiri, kami mencatatkan 15 kemenangan, satu imbang, dan hanya satu kali kalah," tegas Fabio Lefundes di hadapan awak media.
Pelatih asal Brasil tersebut juga menyoroti bahwa dominasi timnya dilengkapi dengan raihan penghargaan individu yang prestisius.
Pertahanan yang solid melahirkan gelar Kiper Terbaik, ditambah dengan gelar Most Valuable Player (MVP) kompetisi, serta tiga pemain yang berhasil menembus susunan Best Eleven.
Senada dengan sang pelatih, Nadeo Argawinata menilai seluruh penikmat sepak bola Tanah Air yang melihat data statistik pasti tahu siapa tim yang tampil paling konsisten tahun ini.
"Saya rasa seluruh Indonesia juga tahu kalau Borneo di tahun ini sangat superior dan pantas untuk mendapatkan gelar juara. Tetapi inilah sepak bola, semua harus kita terima karena ada peraturan dan regulasi yang sudah disetujui dari awal," ungkap Nadeo.
Apapun catatan di atas kertas regulasi, rentetan rekor kemenangan, agresivitas 74 gol, dan dominasi mutlak di Stadion Segiri telah membuktikan satu hal, musim ini, Borneo FC adalah juara tak bermahkota yang sesungguhnya bagi publik Samarinda.
(Sf/Rs)