Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Olahraga
Para pengurus SFI Kaltim usai disahkan menjadi anggota KONI. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Angin segar datang untuk dunia olahraga bela diri di Bumi Etam. Federasi Savate Indonesia (FSI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya resmi dikukuhkan sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim pada 3 Juni 2026.
Peresmian ini menjadi pencapaian dari perjalanan panjang organisasi yang dibangun sepenuhnya dari nol sejak 2023.
Sebagai informasi, savate merupakan seni bela diri kickboxing asal Prancis yang memadukan teknik tinju konvensional dengan pergerakan kaki yang lincah dan presisi.
Keunikan utama olahraga ini terletak pada kewajiban atletnya untuk mengenakan sepatu khusus saat bertanding.
Berbeda dengan bela diri lain, serangan kaki dalam savate hanya diperbolehkan menggunakan bagian telapak, punggung atau ujung sepatu menjadikannya olahraga yang sangat mengandalkan kelincahan dan akurasi tinggi. Masuknya cabor unik ini ke dalam naungan KONI Kaltim bukanlah proses yang instan.
Sekretaris Umum FSI Provinsi Kaltim, Muhammad Azzam mengungkapkan bahwa Kaltim sejatinya memegang peranan krusial sebagai provinsi inisiator yang mendorong terbentuknya Federasi Savate di Republik Indonesia.
"Perjalanan kami untuk bisa masuk ke KONI merupakan perjuangan yang sangat besar dari pengurus pusat. Federasi Savate baru resmi diterima di KONI Pusat pada pertengahan tahun 2025," urai Azzam dihubungi di Samarinda, Jumat (5/6/2026).
Setelah resmi diakui di tingkat nasional, pengurus FSI di daerah tidak lantas bisa bersantai. Mereka harus melalui proses verifikasi dan pemberkasan yang panjang sebelum akhirnya ketukan palu dari KONI Kaltim mengesahkan keanggotaan mereka di awal Juni 2026 ini.
Satu hal yang paling disoroti dari perjalanan FSI Kaltim adalah daya juang mereka selama masa prasejahtera sebelum diakui KONI.
Segala bentuk operasional, pembinaan atlet, hingga keberangkatan ke berbagai turnamen dilakukan secara mandiri secara finansial. Menariknya, keterbatasan sokongan dana tersebut justru dijawab dengan deretan medali.
"Sejauh ini, kami banyak bekerja secara mandiri karena saat itu belum masuk KONI. Namun, hal tersebut tidak melunturkan semangat teman-teman pengurus. Di Kaltim sendiri, kami sangat aktif mengikuti berbagai kejuaraan, bahkan hingga tingkat Asia. Alhamdulillah, banyak atlet kami yang sukses membawa pulang piala maupun medali emas," ungkap mantan atlet Kickboxing Kaltim tersebut.
Azzam yang terjun langsung merintis cabor ini melihat peluang besar sejak awal. Menghidupkan organisasi yang masih kosong dari atlet hingga menjadi penyumbang medali merupakan visi utamanya.
Terbukti, sebelum resmi menjadi anggota KONI pun, mesin kompetisi FSI Kaltim sudah panas dengan suksesnya penyelenggaraan tiga kali Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) di Kabupaten Paser, Balikpapan dan Bontang.
Kini, dengan status yang telah diakui sah secara kelembagaan oleh KONI Kaltim, FSI menatap peta kompetisi dengan jauh lebih optimis.
Momentum positif ini langsung dimanfaatkan untuk menggelar kejurprov seri keempat yang dijadwalkan bergulir di Samarinda pada Juli mendatang.
Agenda padat juga sudah menanti di depan mata. Pasca-Kejurprov, para atlet terbaik akan diterbangkan untuk mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Uluwatu, Bali.
Puncaknya, savate diproyeksikan untuk ikut dipertandingkan pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kabupaten Paser.
“Target kami ke depan jelas, prestasi savate Kaltim harus terus bertambah seiring berjalannya waktu. Di porprov nanti, kami menargetkan khususnya untuk kontingen Samarinda agar bisa keluar sebagai juara umum dan terus mengharumkan nama Kaltim," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Olahraga

Para pengurus SFI Kaltim usai disahkan menjadi anggota KONI. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Angin segar datang untuk dunia olahraga bela diri di Bumi Etam. Federasi Savate Indonesia (FSI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya resmi dikukuhkan sebagai anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim pada 3 Juni 2026.
Peresmian ini menjadi pencapaian dari perjalanan panjang organisasi yang dibangun sepenuhnya dari nol sejak 2023.
Sebagai informasi, savate merupakan seni bela diri kickboxing asal Prancis yang memadukan teknik tinju konvensional dengan pergerakan kaki yang lincah dan presisi.
Keunikan utama olahraga ini terletak pada kewajiban atletnya untuk mengenakan sepatu khusus saat bertanding.
Berbeda dengan bela diri lain, serangan kaki dalam savate hanya diperbolehkan menggunakan bagian telapak, punggung atau ujung sepatu menjadikannya olahraga yang sangat mengandalkan kelincahan dan akurasi tinggi. Masuknya cabor unik ini ke dalam naungan KONI Kaltim bukanlah proses yang instan.
Sekretaris Umum FSI Provinsi Kaltim, Muhammad Azzam mengungkapkan bahwa Kaltim sejatinya memegang peranan krusial sebagai provinsi inisiator yang mendorong terbentuknya Federasi Savate di Republik Indonesia.
"Perjalanan kami untuk bisa masuk ke KONI merupakan perjuangan yang sangat besar dari pengurus pusat. Federasi Savate baru resmi diterima di KONI Pusat pada pertengahan tahun 2025," urai Azzam dihubungi di Samarinda, Jumat (5/6/2026).
Setelah resmi diakui di tingkat nasional, pengurus FSI di daerah tidak lantas bisa bersantai. Mereka harus melalui proses verifikasi dan pemberkasan yang panjang sebelum akhirnya ketukan palu dari KONI Kaltim mengesahkan keanggotaan mereka di awal Juni 2026 ini.
Satu hal yang paling disoroti dari perjalanan FSI Kaltim adalah daya juang mereka selama masa prasejahtera sebelum diakui KONI.
Segala bentuk operasional, pembinaan atlet, hingga keberangkatan ke berbagai turnamen dilakukan secara mandiri secara finansial. Menariknya, keterbatasan sokongan dana tersebut justru dijawab dengan deretan medali.
"Sejauh ini, kami banyak bekerja secara mandiri karena saat itu belum masuk KONI. Namun, hal tersebut tidak melunturkan semangat teman-teman pengurus. Di Kaltim sendiri, kami sangat aktif mengikuti berbagai kejuaraan, bahkan hingga tingkat Asia. Alhamdulillah, banyak atlet kami yang sukses membawa pulang piala maupun medali emas," ungkap mantan atlet Kickboxing Kaltim tersebut.
Azzam yang terjun langsung merintis cabor ini melihat peluang besar sejak awal. Menghidupkan organisasi yang masih kosong dari atlet hingga menjadi penyumbang medali merupakan visi utamanya.
Terbukti, sebelum resmi menjadi anggota KONI pun, mesin kompetisi FSI Kaltim sudah panas dengan suksesnya penyelenggaraan tiga kali Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) di Kabupaten Paser, Balikpapan dan Bontang.
Kini, dengan status yang telah diakui sah secara kelembagaan oleh KONI Kaltim, FSI menatap peta kompetisi dengan jauh lebih optimis.
Momentum positif ini langsung dimanfaatkan untuk menggelar kejurprov seri keempat yang dijadwalkan bergulir di Samarinda pada Juli mendatang.
Agenda padat juga sudah menanti di depan mata. Pasca-Kejurprov, para atlet terbaik akan diterbangkan untuk mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Uluwatu, Bali.
Puncaknya, savate diproyeksikan untuk ikut dipertandingkan pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kabupaten Paser.
“Target kami ke depan jelas, prestasi savate Kaltim harus terus bertambah seiring berjalannya waktu. Di porprov nanti, kami menargetkan khususnya untuk kontingen Samarinda agar bisa keluar sebagai juara umum dan terus mengharumkan nama Kaltim," pungkasnya.
(Sf/Lo)