Olahraga

    Mahyunadi Sebut 80 Persen Atlet Kutim dari Sangatta, Bibit Kecamatan Harus Dicari

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    23 September 2026 pukul 11:55 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, meminta pencarian bibit atlet tidak hanya terpusat di Sangatta. Digitalisasi olahraga harus menjangkau kecamatan agar atlet potensial yang selama ini belum terlihat bisa ditemukan.

    Ia mengatakan digitalisasi harus bisa digunakan untuk melakukan talent scoring atau mencari bibit atlet.

    “Digitalisasi harus membantu kita melakukan talent scoring. Atau pencarian bibit atlet. Oleh karena itulah digitalisasi ini harus sampai kecamatan-kecamatan,” ujar Mahyunadi saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim. 

    Ia menyebut sekitar 80 persen atlet Kutim selama ini berasal dari Sangatta. Mahyunadi khawatir kondisi tersebut membuat potensi dari kecamatan tidak terdata dan akhirnya luput dari pembinaan.

    Bengalon, Sangkulirang, Kombeng, Telen dan Busang menjadi wilayah yang perlu ikut dijangkau dalam pencarian bibit atlet.

    Mahyunadi mengingat Telen dan Busang pernah banyak melahirkan atlet voli, khususnya voli putri.

    “Telen dan Busang itu walaupun jauh, daerahnya terpencil, tapi biasanya banyak menghadirkan atlet-atlet voli khususnya voli wanita. Karena posturnya tinggi-tinggi. Jadi, dengan adanya teknologi ini kita harus bisa menemukan mereka,” jelasnya.

    Menurutnya, keberadaan teknologi seharusnya digunakan untuk menemukan atlet seperti itu, bukan hanya mencatat atlet yang sudah dikenal.

    Mahyunadi juga menyoroti keberadaan atlet Kutim yang saat ini bersekolah di luar daerah dan memiliki potensi bersaing di tingkat nasional, tetapi datanya masih belum jelas.

    “Banyak atlet-atlet kita yang sudah punya potensi untuk berkancah di nasional. Misalnya ada beberapa atlet kita sekarang yang sekolah di luar Kutim yang punya potensi punya prestasi bagus, namun datanya masih simpang siur,” katanya.

    Ia berharap sistem tersebut bisa membantu pemerintah dan KONI mengetahui perjalanan atlet sejak usia muda, termasuk ketika kemampuan mereka mulai meningkat.

    “Ketika potensinya meningkat, pemerintah dan KONI dapat mengetahui lebih awal hingga pembinaannya tidak terlambat,” ucapnya.

    Mahyunadi mengatakan target pembinaan tidak berhenti pada prestasi di Kutim. Ia ingin semakin banyak atlet Kutim membawa nama daerah di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, nasional hingga internasional.

    “Kita ingin semakin banyak atlet Kutim yang membawa nama daerah di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, nasional bahkan internasional,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Olahraga

    Mahyunadi Sebut 80 Persen Atlet Kutim dari Sangatta, Bibit Kecamatan Harus Dicari

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    23 September 2026 pukul 11:55 WITA

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, meminta pencarian bibit atlet tidak hanya terpusat di Sangatta. Digitalisasi olahraga harus menjangkau kecamatan agar atlet potensial yang selama ini belum terlihat bisa ditemukan.

    Ia mengatakan digitalisasi harus bisa digunakan untuk melakukan talent scoring atau mencari bibit atlet.

    “Digitalisasi harus membantu kita melakukan talent scoring. Atau pencarian bibit atlet. Oleh karena itulah digitalisasi ini harus sampai kecamatan-kecamatan,” ujar Mahyunadi saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim. 

    Ia menyebut sekitar 80 persen atlet Kutim selama ini berasal dari Sangatta. Mahyunadi khawatir kondisi tersebut membuat potensi dari kecamatan tidak terdata dan akhirnya luput dari pembinaan.

    Bengalon, Sangkulirang, Kombeng, Telen dan Busang menjadi wilayah yang perlu ikut dijangkau dalam pencarian bibit atlet.

    Mahyunadi mengingat Telen dan Busang pernah banyak melahirkan atlet voli, khususnya voli putri.

    “Telen dan Busang itu walaupun jauh, daerahnya terpencil, tapi biasanya banyak menghadirkan atlet-atlet voli khususnya voli wanita. Karena posturnya tinggi-tinggi. Jadi, dengan adanya teknologi ini kita harus bisa menemukan mereka,” jelasnya.

    Menurutnya, keberadaan teknologi seharusnya digunakan untuk menemukan atlet seperti itu, bukan hanya mencatat atlet yang sudah dikenal.

    Mahyunadi juga menyoroti keberadaan atlet Kutim yang saat ini bersekolah di luar daerah dan memiliki potensi bersaing di tingkat nasional, tetapi datanya masih belum jelas.

    “Banyak atlet-atlet kita yang sudah punya potensi untuk berkancah di nasional. Misalnya ada beberapa atlet kita sekarang yang sekolah di luar Kutim yang punya potensi punya prestasi bagus, namun datanya masih simpang siur,” katanya.

    Ia berharap sistem tersebut bisa membantu pemerintah dan KONI mengetahui perjalanan atlet sejak usia muda, termasuk ketika kemampuan mereka mulai meningkat.

    “Ketika potensinya meningkat, pemerintah dan KONI dapat mengetahui lebih awal hingga pembinaannya tidak terlambat,” ucapnya.

    Mahyunadi mengatakan target pembinaan tidak berhenti pada prestasi di Kutim. Ia ingin semakin banyak atlet Kutim membawa nama daerah di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, nasional hingga internasional.

    “Kita ingin semakin banyak atlet Kutim yang membawa nama daerah di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, nasional bahkan internasional,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)