Cari Olahraga Anti-Mainstream? Borneo Climbing Hub Tantang Nyali Anak Muda Kaltim Taklukkan Ketinggian

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Olahraga

    01 Februari 2026 11:23 WIB

    Para peserta Borneo Climbing Hub (BCH) yang berlatih di wall climb GKO. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bagi sebagian besar anak muda di Samarinda, akhir pekan mungkin identik dengan nongkrong di kedai kopi atau jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Namun, sebuah fenomena baru kini tengah menjamur. 

    Borneo Climbing Hub (BCH) hadir menawarkan sensasi berbeda, memacu adrenalin dengan menaklukkan dinding panjat tebing.Komunitas ini muncul sebagai jawaban bagi mereka yang mencari aktivitas anti-mainstream. Tidak sekadar olahraga fisik, panjat tebing di BCH menawarkan tantangan mental yang nyata bagi para pemula.

    Mauiza Yusra, salah satu peserta yang baru pertama kali menjajal olahraga ini mengaku mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Meski sempat merasa gugup, sensasi menaklukkan ketinggian justru membuatnya ketagihan.

    "Ini pertama kalinya saya naik. Awalnya pasti agak takut, tangan sampai tremor karena kaget dan otot rasanya ketarik. Kaki juga harus punya power untuk loncat. Tapi jujur, ini seru banget. Buat kalian yang suka ketinggian, wajib coba olahraga yang anti-mainstream ini," ujar Mauiza saat ditemui di lokasi trial, Minggu (1/2/2026).

    Di balik antusiasme puluhan anak muda yang memadati area panjat tebing tersebut, ada sosok Fahlevie Mandyego. Pria yang akrab disapa Levi ini adalah Founder Borneo Climbing Hub sekaligus mantan atlet panjat tebing berprestasi.

    Rekam jejak Levi tak main-main. Ia aktif berkecimpung di dunia panjat tebing sejak 2014 hingga 2022. Prestasi gemilang pernah ia torehkan, mulai dari medali emas, perak dan perunggu mewakili Samarinda pada Porprov 2018, hingga terakhir menyabet perunggu pada 2022.

    Namun pasca vakum dari dunia kompetisi selama hampir empat tahun, Levi merasakan kegelisahan. Ia melihat olahraga yang dicintainya ini mulai sepi peminat dan minim regenerasi.

    "Setelah vakum empat tahun, saya sedih melihat kurangnya peminat dan tidak adanya bibit-bibit baru. Dari hati kecil saya, saya ingin menciptakan komunitas ini agar panjat tebing kembali hidup," ungkap Levi.

    Kini kerja keras Levi mulai membuahkan hasil. Baru berjalan beberapa pekan, BCH telah menarik sekitar 60 peserta aktif. Komunitas ini ia buka setiap minggu sebagai wadah bagi siapa saja yang bingung ingin memulai olahraga ekstrem ini.

    "Saya lihat antusiasmenya sangat ramai, tidak kalah saing dengan olahraga lain yang lagi naik daun. Harapan saya, dari keramaian ini akan muncul bibit-bibit atlet baru yang bisa membawa nama baik Samarinda dan Kalimantan Timur ke depannya," pungkasnya.

    Bagi anak muda Kaltim yang merasa punya nyali lebih, Borneo Climbing Hub siap menjadi arena pembuktian. Bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi seberapa berani kamu melawan rasa takut dengan ketinggian.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Cari Olahraga Anti-Mainstream? Borneo Climbing Hub Tantang Nyali Anak Muda Kaltim Taklukkan Ketinggian

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Olahraga

    01 Februari 2026 11:23 WIB

    Para peserta Borneo Climbing Hub (BCH) yang berlatih di wall climb GKO. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bagi sebagian besar anak muda di Samarinda, akhir pekan mungkin identik dengan nongkrong di kedai kopi atau jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Namun, sebuah fenomena baru kini tengah menjamur. 

    Borneo Climbing Hub (BCH) hadir menawarkan sensasi berbeda, memacu adrenalin dengan menaklukkan dinding panjat tebing.Komunitas ini muncul sebagai jawaban bagi mereka yang mencari aktivitas anti-mainstream. Tidak sekadar olahraga fisik, panjat tebing di BCH menawarkan tantangan mental yang nyata bagi para pemula.

    Mauiza Yusra, salah satu peserta yang baru pertama kali menjajal olahraga ini mengaku mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Meski sempat merasa gugup, sensasi menaklukkan ketinggian justru membuatnya ketagihan.

    "Ini pertama kalinya saya naik. Awalnya pasti agak takut, tangan sampai tremor karena kaget dan otot rasanya ketarik. Kaki juga harus punya power untuk loncat. Tapi jujur, ini seru banget. Buat kalian yang suka ketinggian, wajib coba olahraga yang anti-mainstream ini," ujar Mauiza saat ditemui di lokasi trial, Minggu (1/2/2026).

    Di balik antusiasme puluhan anak muda yang memadati area panjat tebing tersebut, ada sosok Fahlevie Mandyego. Pria yang akrab disapa Levi ini adalah Founder Borneo Climbing Hub sekaligus mantan atlet panjat tebing berprestasi.

    Rekam jejak Levi tak main-main. Ia aktif berkecimpung di dunia panjat tebing sejak 2014 hingga 2022. Prestasi gemilang pernah ia torehkan, mulai dari medali emas, perak dan perunggu mewakili Samarinda pada Porprov 2018, hingga terakhir menyabet perunggu pada 2022.

    Namun pasca vakum dari dunia kompetisi selama hampir empat tahun, Levi merasakan kegelisahan. Ia melihat olahraga yang dicintainya ini mulai sepi peminat dan minim regenerasi.

    "Setelah vakum empat tahun, saya sedih melihat kurangnya peminat dan tidak adanya bibit-bibit baru. Dari hati kecil saya, saya ingin menciptakan komunitas ini agar panjat tebing kembali hidup," ungkap Levi.

    Kini kerja keras Levi mulai membuahkan hasil. Baru berjalan beberapa pekan, BCH telah menarik sekitar 60 peserta aktif. Komunitas ini ia buka setiap minggu sebagai wadah bagi siapa saja yang bingung ingin memulai olahraga ekstrem ini.

    "Saya lihat antusiasmenya sangat ramai, tidak kalah saing dengan olahraga lain yang lagi naik daun. Harapan saya, dari keramaian ini akan muncul bibit-bibit atlet baru yang bisa membawa nama baik Samarinda dan Kalimantan Timur ke depannya," pungkasnya.

    Bagi anak muda Kaltim yang merasa punya nyali lebih, Borneo Climbing Hub siap menjadi arena pembuktian. Bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi seberapa berani kamu melawan rasa takut dengan ketinggian.

    (Sf/Lo)