Nasional

    Viral karena Disebut di Pidato Presiden, Ternyata Buruh Pengupas Bawang Dibayangi Ancaman Risiko Ini

    Penulis:Redaksi|Redaktur:Rusdianto
    16 Agustus 2026 pukul 08:48 WITA

    Aktivitas Pengupas Bawang di Kabupaten Berau. (Baiq Eliana/Seputarfakta.com)

    Samarinda — Buruh pengupas bawang mendadak menjadi sorotan publik nasional usai disinggung langsung dalam sebuah pidato kenegaraan oleh Presiden Republik Indonesia. 
    Di balik hiruk-pikuk pemberitaan tersebut, riset akademis dan data ilmiah menunjukkan sisi lain yang jauh dari kata gemilang. Para buruh pengupas bawang, yang didominasi oleh kaum perempuan dan pekerja sektor informal, ternyata hidup dalam bayang-bayang ancaman risiko ganda, mulai dari himpitan upah yang minim hingga ancaman bahaya kesehatan fisik.


    Jerat Upah  hingga Beban Kerja Ekstrem


    Berdasarkan studi ilmiah yang dituangkan dalam skripsi berjudul "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Buruh Pengupas Bawang Merah (Allium cepa L.)" oleh Mardiyah Siregar dari Universitas Medan Area, potret kesejahteraan buruh pengupas bawang tergolong memprihatinkan.

    Dalam penelitian yang mengambil studi kasus di Pasar Sambu, Kecamatan Medan Kota, terungkap hasil wawancara langsung dengan para pekerja di lapangan. Untuk membawa pulang upah harian sekitar Rp50.000, seorang buruh harus memeras keringat mengupas bawang merah dalam jumlah fantastis, yakni berkisar antara 100 kilogram hingga 150 kilogram per harinya.

    Secara akumulatif, rata-rata pendapatan bersih mereka dalam sebulan hanya berada di kisaran Rp1.411.111. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketiadaan keahlian khusus membuat para buruh tidak memiliki posisi tawar, sehingga terpaksa bertahan di sektor ini demi menyambung hidup keluarga.

    Fenomena keterlibatan kelompok rentan juga terekam dalam penelitian hukum sosiologis yang dilakukan oleh Universitas Diponegoro di Desa Setu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Berdasarkan wawancara dengan salah satu orang tua pekerja bernama Bapak Mustofa, terungkap bahwa keterlibatan anak-anak di bawah umur sebagai buruh pengupas bawang bukanlah bentuk eksploitasi langsung oleh juragan, melainkan langkah darurat keluarga. Faktor putus sekolah dan desakan ekonomi memaksa orang tua melibatkan anak-anak mereka agar tambahan upah harian dapat menutupi dapur yang kian mengepul.

     

    Ancaman Kesehatan Tulang Belakang hingga Kulit Mengelupas

     

    Tidak hanya bergelut dengan masalah kesejahteraan, tubuh para buruh pengupas bawang juga harus menanggung beban biomekanik yang berat setiap harinya.

    Sebuah riset pendampingan ergonomi yang dilakukan oleh tim peneliti di Kelompok Wanita Tani Mekar Sari, Kabupaten Nganjuk, yang dimuat dalam publikasi ilmiah di ResearchGate, menyoroti bahaya serius yang mengintai sistem muskuloskeletal pekerja.

    Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa 85,9 persen buruh memiliki sikap kerja yang tidak wajar selama beraktivitas. Mereka terbiasa duduk jongkok atau membungkuk di lantai selama lebih dari 8 jam sehari tanpa fasilitas penunjang yang memadai. Akibatnya, prevalensi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs), seperti nyeri punggung bawah, kram bahu, hingga gangguan sendi, menyerang hingga 69,2 persen dari total populasi pekerja.

    Kondisi serupa diperkuat oleh kajian dari e-Journal Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dalam riset bertajuk "Penambahan Fasilitas Kerja dan Pemberian William's Flexion Exercise Guna Menurunkan Beban Kerja pada Pekerja Pengupasan Bawang". Penelitian ini mencatat bahwa buruh dituntut bekerja dalam posisi statis yang monoton sejak pagi hingga sore hari dengan waktu istirahat yang sangat minim. Posisi statis tanpa sandaran ini terbukti secara medis dapat merusak fungsi otot pinggang dan betis dalam jangka panjang.

    Selain ancaman pada struktur tulang dan otot, para buruh juga berhadapan langsung dengan bahaya kimiawi alami. Getah dan senyawa sulfur yang terkandung di dalam bawang merah memiliki sifat iritan yang kuat. Karena desakan target borongan, para buruh umumnya enggan mengenakan sarung tangan karena dianggap memperlambat kecepatan tangan. Akibatnya, paparan zat iritan secara terus-menerus memicu risiko Dermatitis Kontak Iritan, membuat kulit tangan menjadi sangat kering, pecah-pecah, mengelupas, hingga menghitam akibat peradangan kronis.

     

    Menagih Keberpihakan 

     

    Sorotan nasional yang bermula dari panggung pidato kenegaraan seharusnya menjadi momentum penting bagi pemangku kebijakan. Selama ini, rantai pasok bumbu dapur nasional bertumpu pada ketekunan tangan-tangan renta para buruh pengupas.

    Namun, di balik setiap siung bawang bersih yang tersaji di pasaran, tersimpan cerita tentang postur tubuh yang membungkuk di lantai-lantai pasar tradisional, upah harian yang jauh dari standar layak, serta risiko kesehatan yang mengancam hari tua mereka. Publik kini menanti, apakah viralnya isu ini mampu menerbitkan regulasi perlindungan kerja yang nyata bagi pahlawan tanpa tanda jasa di sektor dapur nusantara.

    (Sf/Rs)

    Nasional

    Viral karena Disebut di Pidato Presiden, Ternyata Buruh Pengupas Bawang Dibayangi Ancaman Risiko Ini

    Penulis:Redaksi|Redaktur:Rusdianto
    16 Agustus 2026 pukul 08:48 WITA

    Aktivitas Pengupas Bawang di Kabupaten Berau. (Baiq Eliana/Seputarfakta.com)

    Samarinda — Buruh pengupas bawang mendadak menjadi sorotan publik nasional usai disinggung langsung dalam sebuah pidato kenegaraan oleh Presiden Republik Indonesia. 
    Di balik hiruk-pikuk pemberitaan tersebut, riset akademis dan data ilmiah menunjukkan sisi lain yang jauh dari kata gemilang. Para buruh pengupas bawang, yang didominasi oleh kaum perempuan dan pekerja sektor informal, ternyata hidup dalam bayang-bayang ancaman risiko ganda, mulai dari himpitan upah yang minim hingga ancaman bahaya kesehatan fisik.


    Jerat Upah  hingga Beban Kerja Ekstrem


    Berdasarkan studi ilmiah yang dituangkan dalam skripsi berjudul "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Buruh Pengupas Bawang Merah (Allium cepa L.)" oleh Mardiyah Siregar dari Universitas Medan Area, potret kesejahteraan buruh pengupas bawang tergolong memprihatinkan.

    Dalam penelitian yang mengambil studi kasus di Pasar Sambu, Kecamatan Medan Kota, terungkap hasil wawancara langsung dengan para pekerja di lapangan. Untuk membawa pulang upah harian sekitar Rp50.000, seorang buruh harus memeras keringat mengupas bawang merah dalam jumlah fantastis, yakni berkisar antara 100 kilogram hingga 150 kilogram per harinya.

    Secara akumulatif, rata-rata pendapatan bersih mereka dalam sebulan hanya berada di kisaran Rp1.411.111. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketiadaan keahlian khusus membuat para buruh tidak memiliki posisi tawar, sehingga terpaksa bertahan di sektor ini demi menyambung hidup keluarga.

    Fenomena keterlibatan kelompok rentan juga terekam dalam penelitian hukum sosiologis yang dilakukan oleh Universitas Diponegoro di Desa Setu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Berdasarkan wawancara dengan salah satu orang tua pekerja bernama Bapak Mustofa, terungkap bahwa keterlibatan anak-anak di bawah umur sebagai buruh pengupas bawang bukanlah bentuk eksploitasi langsung oleh juragan, melainkan langkah darurat keluarga. Faktor putus sekolah dan desakan ekonomi memaksa orang tua melibatkan anak-anak mereka agar tambahan upah harian dapat menutupi dapur yang kian mengepul.

     

    Ancaman Kesehatan Tulang Belakang hingga Kulit Mengelupas

     

    Tidak hanya bergelut dengan masalah kesejahteraan, tubuh para buruh pengupas bawang juga harus menanggung beban biomekanik yang berat setiap harinya.

    Sebuah riset pendampingan ergonomi yang dilakukan oleh tim peneliti di Kelompok Wanita Tani Mekar Sari, Kabupaten Nganjuk, yang dimuat dalam publikasi ilmiah di ResearchGate, menyoroti bahaya serius yang mengintai sistem muskuloskeletal pekerja.

    Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa 85,9 persen buruh memiliki sikap kerja yang tidak wajar selama beraktivitas. Mereka terbiasa duduk jongkok atau membungkuk di lantai selama lebih dari 8 jam sehari tanpa fasilitas penunjang yang memadai. Akibatnya, prevalensi keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs), seperti nyeri punggung bawah, kram bahu, hingga gangguan sendi, menyerang hingga 69,2 persen dari total populasi pekerja.

    Kondisi serupa diperkuat oleh kajian dari e-Journal Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dalam riset bertajuk "Penambahan Fasilitas Kerja dan Pemberian William's Flexion Exercise Guna Menurunkan Beban Kerja pada Pekerja Pengupasan Bawang". Penelitian ini mencatat bahwa buruh dituntut bekerja dalam posisi statis yang monoton sejak pagi hingga sore hari dengan waktu istirahat yang sangat minim. Posisi statis tanpa sandaran ini terbukti secara medis dapat merusak fungsi otot pinggang dan betis dalam jangka panjang.

    Selain ancaman pada struktur tulang dan otot, para buruh juga berhadapan langsung dengan bahaya kimiawi alami. Getah dan senyawa sulfur yang terkandung di dalam bawang merah memiliki sifat iritan yang kuat. Karena desakan target borongan, para buruh umumnya enggan mengenakan sarung tangan karena dianggap memperlambat kecepatan tangan. Akibatnya, paparan zat iritan secara terus-menerus memicu risiko Dermatitis Kontak Iritan, membuat kulit tangan menjadi sangat kering, pecah-pecah, mengelupas, hingga menghitam akibat peradangan kronis.

     

    Menagih Keberpihakan 

     

    Sorotan nasional yang bermula dari panggung pidato kenegaraan seharusnya menjadi momentum penting bagi pemangku kebijakan. Selama ini, rantai pasok bumbu dapur nasional bertumpu pada ketekunan tangan-tangan renta para buruh pengupas.

    Namun, di balik setiap siung bawang bersih yang tersaji di pasaran, tersimpan cerita tentang postur tubuh yang membungkuk di lantai-lantai pasar tradisional, upah harian yang jauh dari standar layak, serta risiko kesehatan yang mengancam hari tua mereka. Publik kini menanti, apakah viralnya isu ini mampu menerbitkan regulasi perlindungan kerja yang nyata bagi pahlawan tanpa tanda jasa di sektor dapur nusantara.

    (Sf/Rs)