Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Nasional
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Indonesia menghadapi ancaman serius peningkatan obesitas dan penyakit tidak menular. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, satu dari tiga orang dewasa usia di atas 18 tahun kini mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.
Dalam pemaparan Kemenkes, prevalensi obesitas nasional terus mengalami lonjakan dalam satu dekade terakhir. Pada 2007, angka obesitas orang dewasa tercatat sebesar 10,5 persen. Angka itu naik menjadi 15,4 persen pada 2013, kemudian 21,8 persen pada 2018, hingga mencapai 23,4 persen pada 2023.
Artinya, prevalensi obesitas di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir.
Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam acara signing ceremony implementasi Nutri-Level antara Kementerian Kesehatan RI dengan PT Lippo Malls Indonesia, Universitas Pelita Harapan, dan Siloam Hospitals Group di Main Atrium Lippo Mall Nusantara, pada Selasa (12/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Budi menegaskan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih memiliki dampak besar terhadap meningkatnya risiko penyakit kronis.
“Gula, garam, dan lemak itu sangat berpengaruh by scientific untuk stroke, jantung, ginjal. Gula menyebabkan diabetes, diabetes kena ginjal, kena stroke, kena jantung juga,” ujar Budi.
Tak hanya pada orang dewasa, Kemenkes juga mengungkap hampir seperempat anak usia sekolah di Indonesia kini mengalami kelebihan berat badan. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm serius terhadap perubahan pola makan masyarakat.
Kemenkes juga memaparkan bahwa konsumsi minuman manis dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Satu porsi minuman manis disebut dapat meningkatkan risiko obesitas sebesar 12 persen, diabetes 27 persen, hipertensi 10 persen, dan kematian akibat jantung koroner hingga 13 persen.
Dalam data yang dipaparkan, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan adalah 50 gram per hari atau setara sekitar empat sendok makan. Namun, satu minuman manis berukuran 250 mililiter disebut sudah mengandung sekitar 22,8 gram gula atau hampir setengah dari batas konsumsi harian.
Selain obesitas, angka diabetes di Indonesia juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan survei terbaru Kemenkes, prevalensi diabetes nasional telah mencapai 11,3 persen yang telah memasuki sinyal darutat.
Pemerintah pun mulai mendorong penerapan sistem Nutri-Level atau pelabelan kandungan nutrisi pada makanan dan minuman siap saji agar masyarakat lebih sadar terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak harian.
“Langkah tersebut dilakukan untuk menekan angka kematian akibat stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal sekaligus meningkatkan harapan hidup sehat masyarakat Indonesia,” ucapnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Nasional

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Indonesia menghadapi ancaman serius peningkatan obesitas dan penyakit tidak menular. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan, satu dari tiga orang dewasa usia di atas 18 tahun kini mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.
Dalam pemaparan Kemenkes, prevalensi obesitas nasional terus mengalami lonjakan dalam satu dekade terakhir. Pada 2007, angka obesitas orang dewasa tercatat sebesar 10,5 persen. Angka itu naik menjadi 15,4 persen pada 2013, kemudian 21,8 persen pada 2018, hingga mencapai 23,4 persen pada 2023.
Artinya, prevalensi obesitas di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir.
Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam acara signing ceremony implementasi Nutri-Level antara Kementerian Kesehatan RI dengan PT Lippo Malls Indonesia, Universitas Pelita Harapan, dan Siloam Hospitals Group di Main Atrium Lippo Mall Nusantara, pada Selasa (12/5/2026).
Dalam kesempatan itu, Budi menegaskan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih memiliki dampak besar terhadap meningkatnya risiko penyakit kronis.
“Gula, garam, dan lemak itu sangat berpengaruh by scientific untuk stroke, jantung, ginjal. Gula menyebabkan diabetes, diabetes kena ginjal, kena stroke, kena jantung juga,” ujar Budi.
Tak hanya pada orang dewasa, Kemenkes juga mengungkap hampir seperempat anak usia sekolah di Indonesia kini mengalami kelebihan berat badan. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm serius terhadap perubahan pola makan masyarakat.
Kemenkes juga memaparkan bahwa konsumsi minuman manis dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Satu porsi minuman manis disebut dapat meningkatkan risiko obesitas sebesar 12 persen, diabetes 27 persen, hipertensi 10 persen, dan kematian akibat jantung koroner hingga 13 persen.
Dalam data yang dipaparkan, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan adalah 50 gram per hari atau setara sekitar empat sendok makan. Namun, satu minuman manis berukuran 250 mililiter disebut sudah mengandung sekitar 22,8 gram gula atau hampir setengah dari batas konsumsi harian.
Selain obesitas, angka diabetes di Indonesia juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan survei terbaru Kemenkes, prevalensi diabetes nasional telah mencapai 11,3 persen yang telah memasuki sinyal darutat.
Pemerintah pun mulai mendorong penerapan sistem Nutri-Level atau pelabelan kandungan nutrisi pada makanan dan minuman siap saji agar masyarakat lebih sadar terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak harian.
“Langkah tersebut dilakukan untuk menekan angka kematian akibat stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal sekaligus meningkatkan harapan hidup sehat masyarakat Indonesia,” ucapnya.
(Sf/Rs)