Cari disini...
Nasional
Lima Pimpinan BI satu dekade terakhir yang dihadapkan dengan kenaikan dolar. (Kolase oleh seputarfakta.com)
Samarinda - Nilai tukar mata uang garuda kembali menghadapi ujian berat setelah menembus level psikologis baru pada Kamis (14/5/26).
Pelemahan hingga menyentuh angka Rp17.505 per dolar Amerika Serikat memicu perdebatan publik mengenai keandalan arsitektur moneter negara.
Kinerja pucuk pimpinan bank sentral dari masa ke masa kini kembali diungkit untuk melihat rekam jejak penanganan krisis.
Sebelum membedah data historis para pemimpin bank sentral publik perlu memahami sistem kerja institusi tersebut.
Seorang pengajar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Insukindro memberikan pandangannya mengenai kekhawatiran masuknya pengaruh politik setelah Thomas Djiwandono ditunjuk masuk ke jajaran dewan deputi.
Ia menegaskan bahwa penjagaan independensi dan pengambilan keputusan moneter tidak ditentukan oleh satu sosok individu melainkan lewat mekanisme dewan secara utuh.
"Berdasarkan sistem kepemimpinan kolektif," ujar Prof Insukindro dalam keterangan resmi laman Universitas Gadja Mada.
Berikut adalah 5 fakta seputar rapor nilai tukar rupiah di era lima Gubernur Bank Indonesia terakhir beserta rentetan angkanya.
1. Gejolak Krisis Finansial Era Boediono
Pada masa kepemimpinan Boediono nilai tukar rupiah mendapat hantaman keras dari krisis finansial global. Pada pertengahan tahun 2008 rupiah sejatinya masih cukup stabil dan berada di kisaran angka Rp9.200 per dolar Amerika Serikat.
Hancurnya bursa saham global membuat aliran modal keluar secara masif dan menekan rupiah hingga terperosok tajam menyentuh level Rp12.000 pada Oktober hingga November tahun tersebut.
2. Masa Emas Darmin Nasution dan Transisi Miranda Goeltom
Tongkat estafet beralih singkat ke tangan Miranda Goeltom sebagai pelaksana tugas sebelum dilanjutkan penuh oleh Darmin Nasution.
Era kepemimpinan Darmin menikmati derasnya aliran modal asing akibat kebijakan cetak uang skala besar dari bank sentral Amerika Serikat.
Situasi ini membawa rupiah menguat signifikan hingga menyentuh level paling perkasa di angka Rp8.579 pada Juni 2011 meski akhirnya melemah kembali ke kisaran Rp9.700 menjelang akhir masa jabatannya pada awal 2013.
3. Badai Taper Tantrum Menghantam Agus Martowardojo
Ujian paling berat berikutnya terjadi saat Agus Martowardojo mulai menjabat. Kebijakan Amerika Serikat untuk menarik stimulus moneternya memicu penarikan dana besar besaran dari pasar negara berkembang.
Fenomena ini memaksa rupiah yang tadinya stabil di bawah level sepuluh ribu kembali ke kisaran Rp12.000 pada akhir 2013 bahkan sempat menyentuh angka Rp12.400 pada Desember 2014. Puncak dari tekanan ini memaksa rupiah menembus batas psikologis Rp14.000 pada tahun 2015.
4. Rekor Terendah di Bawah Kendali Perry Warjiyo
Era Perry Warjiyo diwarnai oleh rentetan krisis beruntun mulai dari pandemi global hingga memanasnya tensi geopolitik internasional. Tekanan eksternal yang tidak berkesudahan ditambah sentimen pelarian modal asing pada akhirnya membawa rupiah mencetak rekor pelemahan baru di angka Rp17.505.
Situasi ini memaksa bank sentral mengeluarkan bauran kebijakan moneter terukur melalui langkah triple intervention di pasar valuta asing.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Lima Pimpinan BI satu dekade terakhir yang dihadapkan dengan kenaikan dolar. (Kolase oleh seputarfakta.com)
Samarinda - Nilai tukar mata uang garuda kembali menghadapi ujian berat setelah menembus level psikologis baru pada Kamis (14/5/26).
Pelemahan hingga menyentuh angka Rp17.505 per dolar Amerika Serikat memicu perdebatan publik mengenai keandalan arsitektur moneter negara.
Kinerja pucuk pimpinan bank sentral dari masa ke masa kini kembali diungkit untuk melihat rekam jejak penanganan krisis.
Sebelum membedah data historis para pemimpin bank sentral publik perlu memahami sistem kerja institusi tersebut.
Seorang pengajar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Insukindro memberikan pandangannya mengenai kekhawatiran masuknya pengaruh politik setelah Thomas Djiwandono ditunjuk masuk ke jajaran dewan deputi.
Ia menegaskan bahwa penjagaan independensi dan pengambilan keputusan moneter tidak ditentukan oleh satu sosok individu melainkan lewat mekanisme dewan secara utuh.
"Berdasarkan sistem kepemimpinan kolektif," ujar Prof Insukindro dalam keterangan resmi laman Universitas Gadja Mada.
Berikut adalah 5 fakta seputar rapor nilai tukar rupiah di era lima Gubernur Bank Indonesia terakhir beserta rentetan angkanya.
1. Gejolak Krisis Finansial Era Boediono
Pada masa kepemimpinan Boediono nilai tukar rupiah mendapat hantaman keras dari krisis finansial global. Pada pertengahan tahun 2008 rupiah sejatinya masih cukup stabil dan berada di kisaran angka Rp9.200 per dolar Amerika Serikat.
Hancurnya bursa saham global membuat aliran modal keluar secara masif dan menekan rupiah hingga terperosok tajam menyentuh level Rp12.000 pada Oktober hingga November tahun tersebut.
2. Masa Emas Darmin Nasution dan Transisi Miranda Goeltom
Tongkat estafet beralih singkat ke tangan Miranda Goeltom sebagai pelaksana tugas sebelum dilanjutkan penuh oleh Darmin Nasution.
Era kepemimpinan Darmin menikmati derasnya aliran modal asing akibat kebijakan cetak uang skala besar dari bank sentral Amerika Serikat.
Situasi ini membawa rupiah menguat signifikan hingga menyentuh level paling perkasa di angka Rp8.579 pada Juni 2011 meski akhirnya melemah kembali ke kisaran Rp9.700 menjelang akhir masa jabatannya pada awal 2013.
3. Badai Taper Tantrum Menghantam Agus Martowardojo
Ujian paling berat berikutnya terjadi saat Agus Martowardojo mulai menjabat. Kebijakan Amerika Serikat untuk menarik stimulus moneternya memicu penarikan dana besar besaran dari pasar negara berkembang.
Fenomena ini memaksa rupiah yang tadinya stabil di bawah level sepuluh ribu kembali ke kisaran Rp12.000 pada akhir 2013 bahkan sempat menyentuh angka Rp12.400 pada Desember 2014. Puncak dari tekanan ini memaksa rupiah menembus batas psikologis Rp14.000 pada tahun 2015.
4. Rekor Terendah di Bawah Kendali Perry Warjiyo
Era Perry Warjiyo diwarnai oleh rentetan krisis beruntun mulai dari pandemi global hingga memanasnya tensi geopolitik internasional. Tekanan eksternal yang tidak berkesudahan ditambah sentimen pelarian modal asing pada akhirnya membawa rupiah mencetak rekor pelemahan baru di angka Rp17.505.
Situasi ini memaksa bank sentral mengeluarkan bauran kebijakan moneter terukur melalui langkah triple intervention di pasar valuta asing.
(Sf/Rs)