Cari disini...
Seputarfakta.com -
Nasional
Presiden RI Prabowo Subianto murka dan menyebut korupsi minyak goreng sebagai subversi ekonomi. (Tangkapan Layar/YouTube Sekretariat Presiden).
Jakarta - Presiden Prabowo meluapkan kemarahannya terhadap para pelaku korupsi di industri kelapa sawit yang telah merugikan negara sebesar Rp 13,2 triliun. Dengan nada tinggi, Presiden menyebut tindakan mereka yang menyebabkan kelangkaan minyak goreng sebagai perbuatan yang "sangat kejam" dan "tidak manusiawi".
Pernyataan keras ini disampaikan saat Presiden memberikan apresiasi atas keberhasilan Kejaksaan Agung mengembalikan uang hasil korupsi ke kas negara. Menurutnya, kejahatan ini bukan sekadar korupsi biasa karena menyengsarakan hajat hidup seluruh rakyat Indonesia.
"Hasilnya diambil, dikeruk, dibuat keluar negeri. Rakyat dibiarkan kesulitan minyak goreng untuk berminggu-minggu. Ini sebetulnya menurut saya sangat kejam, sangat tidak manusiawi," tegas Presiden Prabowo.
Presiden bahkan menilai bahwa skala kejahatan dan dampaknya yang masif bisa digolongkan lebih dari sekadar tindak pidana korupsi karena keserakahan. Ia secara terbuka menyebutnya berpotensi sebagai tindakan subversi terhadap ekonomi negara.
"Apakah ini benar-benar murni keserakahan atau ini bisa digolongkan subversi ekonomi sebenarnya," lanjutnya, memberikan sinyal bahwa penegakan hukum untuk kasus semacam ini akan diperlakukan secara luar biasa.
Sikap murka Presiden ini menjadi kontras dengan apresiasi dan ucapan terima kasih yang ia sampaikan kepada jajaran Kejaksaan Agung. Ia memuji kerja keras mereka yang gigih melawan korupsi, manipulasi, dan penyelewengan yang merugikan negara.
Lebih lanjut, Presiden mengingatkan bahwa kasus kelapa sawit ini hanyalah satu dari sekian banyak praktik lancung yang harus dibersihkan. Ia memberi peringatan keras bahwa tugas pemberantasan korupsi belum selesai dan akan menyasar sektor lain.
"Saya ingatkan masih banyak tugas kita, masih banyak tambang yang ilegal, kerugian kita juga mungkin puluhan triliun kalau tidak ratusan triliun," pungkas Prabowo, seraya menyinggung kerugian akibat penyelundupan timah yang ditaksir mencapai Rp 40 triliun per tahun. (Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com -
Nasional

Presiden RI Prabowo Subianto murka dan menyebut korupsi minyak goreng sebagai subversi ekonomi. (Tangkapan Layar/YouTube Sekretariat Presiden).
Jakarta - Presiden Prabowo meluapkan kemarahannya terhadap para pelaku korupsi di industri kelapa sawit yang telah merugikan negara sebesar Rp 13,2 triliun. Dengan nada tinggi, Presiden menyebut tindakan mereka yang menyebabkan kelangkaan minyak goreng sebagai perbuatan yang "sangat kejam" dan "tidak manusiawi".
Pernyataan keras ini disampaikan saat Presiden memberikan apresiasi atas keberhasilan Kejaksaan Agung mengembalikan uang hasil korupsi ke kas negara. Menurutnya, kejahatan ini bukan sekadar korupsi biasa karena menyengsarakan hajat hidup seluruh rakyat Indonesia.
"Hasilnya diambil, dikeruk, dibuat keluar negeri. Rakyat dibiarkan kesulitan minyak goreng untuk berminggu-minggu. Ini sebetulnya menurut saya sangat kejam, sangat tidak manusiawi," tegas Presiden Prabowo.
Presiden bahkan menilai bahwa skala kejahatan dan dampaknya yang masif bisa digolongkan lebih dari sekadar tindak pidana korupsi karena keserakahan. Ia secara terbuka menyebutnya berpotensi sebagai tindakan subversi terhadap ekonomi negara.
"Apakah ini benar-benar murni keserakahan atau ini bisa digolongkan subversi ekonomi sebenarnya," lanjutnya, memberikan sinyal bahwa penegakan hukum untuk kasus semacam ini akan diperlakukan secara luar biasa.
Sikap murka Presiden ini menjadi kontras dengan apresiasi dan ucapan terima kasih yang ia sampaikan kepada jajaran Kejaksaan Agung. Ia memuji kerja keras mereka yang gigih melawan korupsi, manipulasi, dan penyelewengan yang merugikan negara.
Lebih lanjut, Presiden mengingatkan bahwa kasus kelapa sawit ini hanyalah satu dari sekian banyak praktik lancung yang harus dibersihkan. Ia memberi peringatan keras bahwa tugas pemberantasan korupsi belum selesai dan akan menyasar sektor lain.
"Saya ingatkan masih banyak tugas kita, masih banyak tambang yang ilegal, kerugian kita juga mungkin puluhan triliun kalau tidak ratusan triliun," pungkas Prabowo, seraya menyinggung kerugian akibat penyelundupan timah yang ditaksir mencapai Rp 40 triliun per tahun. (Sf/Rs)