Cari disini...
Nasional
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar.
Samarinda – Di tengah kondisi pasar keuangan yang menunjukkan euforia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti sebuah fenomena yang menandai perubahan fundamental perilaku konsumen di Indonesia, yakni ledakan penyaluran kredit Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater, yang tercatat tumbuh drastis hingga 33,56 persen dalam setahun.
Angka pertumbuhan yang fantastis ini menjadi salah satu temuan utama dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK. Dalam siaran pers yang dirilis pada Kamis (4/9/25), OJK memaparkan bahwa hingga Juli 2025, nilai outstanding pembiayaan paylater yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan telah mencapai Rp 25,14 triliun. Laju pertumbuhan ini jauh melampaui akselerasi kredit perbankan secara umum, yang pada periode yang sama tercatat tumbuh solid di level 9,86 persen secara tahunan (yoy), dengan nilai total mencapai Rp 7.562,39 triliun.
Fenomena ini terjadi di tengah kondisi sektor jasa keuangan nasional yang dinilai tetap stabil dan kokoh. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi penting untuk menghadapi berbagai dinamika ekonomi global dan domestik yang terus berubah.
“Stabilitas Sektor Jasa Keuangan tetap terjaga di tengah dinamika global dan domestik,” ujar Mahendra Siregar dalam keterangan resminya.
Stabilitas tersebut, menurutnya, tercermin dari berbagai indikator positif di berbagai sektor. Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kinerja impresif dengan berhasil menembus level tertinggi sepanjang masa (All Time High) di level 7.522,98 pada 26 Agustus 2025. Kinerja ini didukung oleh kembalinya kepercayaan investor asing, yang tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 30,12 triliun sepanjang Agustus 2025.
Kondisi fundamental di sektor perbankan juga sangat kuat. Tingkat permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) industri perbankan tercatat sangat tinggi, mencapai 26,08 persen. Di sisi lain, likuiditas juga sangat memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 119,42 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perbankan memiliki bantalan modal dan likuiditas yang lebih dari cukup untuk menyerap potensi risiko dan menyalurkan kredit.
Sementara itu, sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) seperti perusahaan pembiayaan dan asuransi juga menunjukkan pertumbuhan aset yang sehat. Aset perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 12,18 persen, sementara aset perusahaan asuransi juga meningkat 2,23 persen secara tahunan.
Dengan demikian, lonjakan drastis pada segmen paylater menjadi sebuah catatan penting yang lebih mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat di era digital, ketimbang sebuah anomali yang mengganggu stabilitas sistem keuangan yang secara umum sangat solid.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar.
Samarinda – Di tengah kondisi pasar keuangan yang menunjukkan euforia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti sebuah fenomena yang menandai perubahan fundamental perilaku konsumen di Indonesia, yakni ledakan penyaluran kredit Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater, yang tercatat tumbuh drastis hingga 33,56 persen dalam setahun.
Angka pertumbuhan yang fantastis ini menjadi salah satu temuan utama dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK. Dalam siaran pers yang dirilis pada Kamis (4/9/25), OJK memaparkan bahwa hingga Juli 2025, nilai outstanding pembiayaan paylater yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan telah mencapai Rp 25,14 triliun. Laju pertumbuhan ini jauh melampaui akselerasi kredit perbankan secara umum, yang pada periode yang sama tercatat tumbuh solid di level 9,86 persen secara tahunan (yoy), dengan nilai total mencapai Rp 7.562,39 triliun.
Fenomena ini terjadi di tengah kondisi sektor jasa keuangan nasional yang dinilai tetap stabil dan kokoh. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi penting untuk menghadapi berbagai dinamika ekonomi global dan domestik yang terus berubah.
“Stabilitas Sektor Jasa Keuangan tetap terjaga di tengah dinamika global dan domestik,” ujar Mahendra Siregar dalam keterangan resminya.
Stabilitas tersebut, menurutnya, tercermin dari berbagai indikator positif di berbagai sektor. Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kinerja impresif dengan berhasil menembus level tertinggi sepanjang masa (All Time High) di level 7.522,98 pada 26 Agustus 2025. Kinerja ini didukung oleh kembalinya kepercayaan investor asing, yang tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 30,12 triliun sepanjang Agustus 2025.
Kondisi fundamental di sektor perbankan juga sangat kuat. Tingkat permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) industri perbankan tercatat sangat tinggi, mencapai 26,08 persen. Di sisi lain, likuiditas juga sangat memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 119,42 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perbankan memiliki bantalan modal dan likuiditas yang lebih dari cukup untuk menyerap potensi risiko dan menyalurkan kredit.
Sementara itu, sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) seperti perusahaan pembiayaan dan asuransi juga menunjukkan pertumbuhan aset yang sehat. Aset perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 12,18 persen, sementara aset perusahaan asuransi juga meningkat 2,23 persen secara tahunan.
Dengan demikian, lonjakan drastis pada segmen paylater menjadi sebuah catatan penting yang lebih mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat di era digital, ketimbang sebuah anomali yang mengganggu stabilitas sistem keuangan yang secara umum sangat solid.
(Sf/Rs)