Nasional

    Neni Moerniaeni Sebut Kunci Turunkan Stunting Ada pada Perilaku Orang Tua

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    03 Juni 2026 pukul 13:11 WITA

    Ilustrasi. (Freepik)

    Bontang - Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan upaya percepatan penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan bantuan gizi dari pemerintah. 

    Menurutnya, perubahan perilaku orang tua menjadi faktor utama untuk menjaga status gizi anak dalam jangka panjang.

    Hal itu disampaikan Neni saat membuka Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) untuk Petugas Kesehatan di Hotel Equator Bontang, Rabu (3/6/2026).

    Neni menjelaskan berbagai intervensi pemerintah seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Pangan Olahan untuk Keperluan Diet Khusus (PDK), hingga Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PMK/PKMK) memiliki masa pelaksanaan yang terbatas.

    “Program bantuan gizi tidak berlangsung selamanya. Karena itu yang paling penting adalah bagaimana orang tua mampu mempertahankan kondisi gizi anak setelah intervensi pemerintah selesai,” ujar Neni.

    Menurutnya, faktor perilaku merupakan salah satu penentu terbesar derajat kesehatan masyarakat. Dalam upaya penurunan stunting, perubahan kebiasaan sehari-hari di tingkat keluarga menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

    Ia mencontohkan masih banyak aspek yang perlu mendapat perhatian, mulai dari kepatuhan remaja mengonsumsi tablet tambah darah, kesiapan calon pengantin menjalani kehamilan sehat, kedisiplinan ibu hamil mengonsumsi suplemen, hingga pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang tepat.

    “Masih ada pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama agar stunting terus menurun dan tidak muncul kasus-kasus baru,” katanya.

    Neni juga menyoroti pentingnya peran petugas kesehatan dan kader yang menjadi ujung tombak edukasi di lapangan. Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi juga cara berkomunikasi kepada masyarakat.

    “Petugas mungkin sudah memiliki niat yang baik, tetapi jika penyampaiannya kurang tepat, masyarakat bisa merasa tidak nyaman dan akhirnya enggan datang ke posyandu atau mengikuti anjuran kesehatan,” ujarnya.

    Karena itu, ia menilai metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) menjadi pendekatan yang efektif untuk membangun kesadaran masyarakat melalui komunikasi yang persuasif dan penuh empati.

    Neni berharap para peserta orientasi dapat menerapkan ilmu yang diperoleh secara langsung di lapangan, sehingga mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dan berdampak pada penurunan stunting di Kota Bontang.

    “Jadilah agen perubahan yang ramah, komunikatif dan solutif. Ilmu yang diperoleh jangan berhenti di ruang pelatihan, tetapi harus diterapkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Nasional

    Neni Moerniaeni Sebut Kunci Turunkan Stunting Ada pada Perilaku Orang Tua

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    03 Juni 2026 pukul 13:11 WITA

    Ilustrasi. (Freepik)

    Bontang - Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan upaya percepatan penurunan stunting tidak bisa hanya mengandalkan bantuan gizi dari pemerintah. 

    Menurutnya, perubahan perilaku orang tua menjadi faktor utama untuk menjaga status gizi anak dalam jangka panjang.

    Hal itu disampaikan Neni saat membuka Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) untuk Petugas Kesehatan di Hotel Equator Bontang, Rabu (3/6/2026).

    Neni menjelaskan berbagai intervensi pemerintah seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Pangan Olahan untuk Keperluan Diet Khusus (PDK), hingga Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PMK/PKMK) memiliki masa pelaksanaan yang terbatas.

    “Program bantuan gizi tidak berlangsung selamanya. Karena itu yang paling penting adalah bagaimana orang tua mampu mempertahankan kondisi gizi anak setelah intervensi pemerintah selesai,” ujar Neni.

    Menurutnya, faktor perilaku merupakan salah satu penentu terbesar derajat kesehatan masyarakat. Dalam upaya penurunan stunting, perubahan kebiasaan sehari-hari di tingkat keluarga menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

    Ia mencontohkan masih banyak aspek yang perlu mendapat perhatian, mulai dari kepatuhan remaja mengonsumsi tablet tambah darah, kesiapan calon pengantin menjalani kehamilan sehat, kedisiplinan ibu hamil mengonsumsi suplemen, hingga pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang tepat.

    “Masih ada pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama agar stunting terus menurun dan tidak muncul kasus-kasus baru,” katanya.

    Neni juga menyoroti pentingnya peran petugas kesehatan dan kader yang menjadi ujung tombak edukasi di lapangan. Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi juga cara berkomunikasi kepada masyarakat.

    “Petugas mungkin sudah memiliki niat yang baik, tetapi jika penyampaiannya kurang tepat, masyarakat bisa merasa tidak nyaman dan akhirnya enggan datang ke posyandu atau mengikuti anjuran kesehatan,” ujarnya.

    Karena itu, ia menilai metode Komunikasi Antar Pribadi (KAP) menjadi pendekatan yang efektif untuk membangun kesadaran masyarakat melalui komunikasi yang persuasif dan penuh empati.

    Neni berharap para peserta orientasi dapat menerapkan ilmu yang diperoleh secara langsung di lapangan, sehingga mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dan berdampak pada penurunan stunting di Kota Bontang.

    “Jadilah agen perubahan yang ramah, komunikatif dan solutif. Ilmu yang diperoleh jangan berhenti di ruang pelatihan, tetapi harus diterapkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)