Cari disini...
Seputarfakta.com -
Nasional
Detik-detik peluncuran Artemis II di kawasan Florida, Amerika Serikat, Kamis (2/4/2026) pagi. (Dok NASA)
Samarinda – Setelah penantian panjang dan beberapa kali mengalami kendala teknis, misi ambisius NASA, Artemis II, akhirnya resmi meluncur. Roket Space Launch System (SLS) yang merupakan roket paling kuat di dunia saat ini, sukses lepas landas dari Kennedy Space Center, Florida, pada Rabu (1/4/2026) waktu setempat atau Kamis (2/4/2026) tepat pukul 06.35 WITA.
Peluncuran ini menandai momen bersejarah bagi peradaban manusia. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun sejak misi Apollo 17 pada 1972, manusia kembali meninggalkan orbit rendah bumi untuk menuju tetangga terdekat kita, bulan.
Misi ini membawa empat astronot yang berada di dalam kapsul Orion. Mereka adalah Reid Wiseman (Komandan), Victor Glover (Pilot), astronot kulit hitam pertama yang melakukan misi ke bulan dan Christina Koch (Mission Specialist), wanita pertama yang terbang ke bulan, serta Jeremy Hansen (Mission Specialist), warga negara Kanada pertama yang terlibat dalam misi lunar.
Saat ini, kapsul Orion tengah berada dalam fase kritis di orbit tinggi Bumi. Dalam 24 jam pertama, kru akan menguji secara intensif sistem pendukung kehidupan, termasuk sirkulasi oksigen dan kontrol suhu, guna memastikan keamanan sebelum roket melakukan pembakaran mesin terakhir untuk lepas dari gravitasi Bumi menuju Bulan.
Misi Artemis II dijadwalkan berlangsung selama 10 hari. Berbeda dengan misi mendatang, Artemis II tidak akan mendarat di permukaan Bulan. Para astronot akan melakukan metode Lunar Flyby, yakni terbang melintas dan mengitari sisi jauh Bulan. Dalam perjalanan ini, Orion akan mencapai jarak 400.000 km dari
bumi jarak terjauh yang pernah ditempuh oleh wahana antariksa berawak, melampaui rekor legendaris misi Apollo 13.
Misi Artemis II adalah "tes jalan" terakhir sebelum NASA mengirimkan manusia untuk benar-benar menginjakkan kaki kembali di permukaan Bulan pada misi Artemis III mendatang. Keberhasilan navigasi dan komunikasi selama 10 hari ke depan akan menjadi kunci utama.
Jika seluruh rangkaian berjalan sesuai rencana, kru dijadwalkan kembali ke bumi dengan melakukan pendaratan di Samudra Pasifik pada 11 April 2026. Keberhasilan peluncuran pagi ini menjadi sinyal positif bagi ambisi manusia untuk membangun pangkalan permanen di Bulan dan persiapan menuju planet Mars di masa depan.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com -
Nasional

Detik-detik peluncuran Artemis II di kawasan Florida, Amerika Serikat, Kamis (2/4/2026) pagi. (Dok NASA)
Samarinda – Setelah penantian panjang dan beberapa kali mengalami kendala teknis, misi ambisius NASA, Artemis II, akhirnya resmi meluncur. Roket Space Launch System (SLS) yang merupakan roket paling kuat di dunia saat ini, sukses lepas landas dari Kennedy Space Center, Florida, pada Rabu (1/4/2026) waktu setempat atau Kamis (2/4/2026) tepat pukul 06.35 WITA.
Peluncuran ini menandai momen bersejarah bagi peradaban manusia. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun sejak misi Apollo 17 pada 1972, manusia kembali meninggalkan orbit rendah bumi untuk menuju tetangga terdekat kita, bulan.
Misi ini membawa empat astronot yang berada di dalam kapsul Orion. Mereka adalah Reid Wiseman (Komandan), Victor Glover (Pilot), astronot kulit hitam pertama yang melakukan misi ke bulan dan Christina Koch (Mission Specialist), wanita pertama yang terbang ke bulan, serta Jeremy Hansen (Mission Specialist), warga negara Kanada pertama yang terlibat dalam misi lunar.
Saat ini, kapsul Orion tengah berada dalam fase kritis di orbit tinggi Bumi. Dalam 24 jam pertama, kru akan menguji secara intensif sistem pendukung kehidupan, termasuk sirkulasi oksigen dan kontrol suhu, guna memastikan keamanan sebelum roket melakukan pembakaran mesin terakhir untuk lepas dari gravitasi Bumi menuju Bulan.
Misi Artemis II dijadwalkan berlangsung selama 10 hari. Berbeda dengan misi mendatang, Artemis II tidak akan mendarat di permukaan Bulan. Para astronot akan melakukan metode Lunar Flyby, yakni terbang melintas dan mengitari sisi jauh Bulan. Dalam perjalanan ini, Orion akan mencapai jarak 400.000 km dari
bumi jarak terjauh yang pernah ditempuh oleh wahana antariksa berawak, melampaui rekor legendaris misi Apollo 13.
Misi Artemis II adalah "tes jalan" terakhir sebelum NASA mengirimkan manusia untuk benar-benar menginjakkan kaki kembali di permukaan Bulan pada misi Artemis III mendatang. Keberhasilan navigasi dan komunikasi selama 10 hari ke depan akan menjadi kunci utama.
Jika seluruh rangkaian berjalan sesuai rencana, kru dijadwalkan kembali ke bumi dengan melakukan pendaratan di Samudra Pasifik pada 11 April 2026. Keberhasilan peluncuran pagi ini menjadi sinyal positif bagi ambisi manusia untuk membangun pangkalan permanen di Bulan dan persiapan menuju planet Mars di masa depan.
(Sf/Rs)