Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Kesehatan Meningkat

    Seputarfakta.com - Nuraini -

    Nasional

    08 Juni 2026 08:31 WIB

    Ilustrasi. (Pinterest)

    Bontang - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengingatkan masyarakat terkait potensi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini disebut mulai terjadi sejak April dan diprediksi masih meluas hingga Mei dan Juni 2026.

    Dalam unggahan resmi akun Instagram @kemenkes_ri pada Senin (8/6/2026), Kemenkes menyampaikan bahwa dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan suhu panas, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat akibat penurunan kualitas udara dan keterbatasan air bersih.

    Menurut Kemenkes, situasi ini dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), polusi udara, serta memicu berbagai penyakit yang dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.

    Risiko kesehatan yang perlu diwaspadai

    Dalam informasi tersebut, Kemenkes RI menyoroti beberapa gangguan kesehatan yang berpotensi meningkat selama musim kemarau, di antaranya:

    • Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria
    • Penyakit akibat penurunan kualitas air seperti diare, kolera, tifoid, dan leptospirosis
    • Penyakit akibat polusi udara seperti iritasi mata, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya
    • Gangguan akibat panas ekstrem seperti dehidrasi berat hingga heat stroke

    Kelompok yang disebut paling rentan terhadap dampak ini meliputi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta.

    Imbauan langkah pencegahan

    Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

    •  Memantau kualitas udara secara berkala
    •  Menggunakan masker saat kualitas udara memburuk
    • Meningkatkan konsumsi air putih serta menghindari alkohol dan kafein
    • Menghindari paparan asap rokok dan sumber polusi
    • Mengurangi aktivitas luar ruangan saat kondisi udara buruk
    • Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
    • Melakukan pemberantasan sarang nyamuk (3M Plus)
    • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan

    Kemenkes menegaskan bahwa risiko kesehatan selama musim kemarau dapat diminimalkan apabila masyarakat disiplin dalam melakukan langkah pencegahan.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Kemenkes Ingatkan Risiko Kesehatan Meningkat

    Seputarfakta.com - Nuraini -

    Nasional

    08 Juni 2026 08:31 WIB

    Ilustrasi. (Pinterest)

    Bontang - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengingatkan masyarakat terkait potensi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini disebut mulai terjadi sejak April dan diprediksi masih meluas hingga Mei dan Juni 2026.

    Dalam unggahan resmi akun Instagram @kemenkes_ri pada Senin (8/6/2026), Kemenkes menyampaikan bahwa dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan suhu panas, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesehatan masyarakat akibat penurunan kualitas udara dan keterbatasan air bersih.

    Menurut Kemenkes, situasi ini dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), polusi udara, serta memicu berbagai penyakit yang dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.

    Risiko kesehatan yang perlu diwaspadai

    Dalam informasi tersebut, Kemenkes RI menyoroti beberapa gangguan kesehatan yang berpotensi meningkat selama musim kemarau, di antaranya:

    • Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti demam berdarah dengue (DBD) dan malaria
    • Penyakit akibat penurunan kualitas air seperti diare, kolera, tifoid, dan leptospirosis
    • Penyakit akibat polusi udara seperti iritasi mata, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya
    • Gangguan akibat panas ekstrem seperti dehidrasi berat hingga heat stroke

    Kelompok yang disebut paling rentan terhadap dampak ini meliputi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta.

    Imbauan langkah pencegahan

    Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

    •  Memantau kualitas udara secara berkala
    •  Menggunakan masker saat kualitas udara memburuk
    • Meningkatkan konsumsi air putih serta menghindari alkohol dan kafein
    • Menghindari paparan asap rokok dan sumber polusi
    • Mengurangi aktivitas luar ruangan saat kondisi udara buruk
    • Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
    • Melakukan pemberantasan sarang nyamuk (3M Plus)
    • Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan

    Kemenkes menegaskan bahwa risiko kesehatan selama musim kemarau dapat diminimalkan apabila masyarakat disiplin dalam melakukan langkah pencegahan.

    (Sf/Rs)