Cari disini...
Nasional
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam menyampaikan pidato kenegaraan. (Foto: tangkapan layar dari youtube sekretariat negara)
Samarinda - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menetapkan target ambisius untuk mengoperasikan 30.000 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) secara optimal pada akhir tahun 2026.
Menariknya, di balik tingginya target tersebut, Prabowo memiliki alasan filosofis sekaligus taktis yang diadaptasi dari petuah Bapak Proklamator, Ir. Soekarno.
Dalam Pidato Kenegaraan di hadapan Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026), Presiden membeberkan logikanya.
Menurutnya, target pemerintah memang harus dipatok setinggi mungkin agar hasil yang dicapai meskipun meleset sedikit tetap merupakan sebuah prestasi besar.
"Target kita cantumkan, target kita tinggi. Kita ingat kata-kata Bung Karno: 'Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalau kau tidak berhasil, minimal kau jatuh di antara bintang-bintang.' Target harus tinggi. Bekerja keras, insyaallah sampai," tegas Prabowo.
Presiden menjabarkan hitung-hitungan rasional dari strategi target tinggi tersebut.
"Kalau saya taruh target 12.000, nanti sampainya 11.000. Kalau nanti targetnya 30.000, sampainya 29.000, ini prestasi," jelasnya yang disambut riuh positif dari para peserta sidang.
Ambisi 30.000 Koperasi Merah Putih ini bukan semata-mata soal pencapaian angka, melainkan revolusi sistem ekonomi kerakyatan di tingkat desa.
Prabowo melaporkan bahwa hingga Agustus 2026, sebanyak 10.000 koperasi telah berdiri, dan 3.300 di antaranya sudah mencapai tahap operasional optimal.
Operasional optimal ini berarti koperasi telah dilengkapi fasilitas dasar seperti air dan listrik, dikelola dengan sistem pemantauan stok digital terpusat, dan yang terpenting: koperasi bertindak sebagai off-taker (pembeli siaga) yang memiliki armada angkutannya sendiri.
"Ini juga saya kira pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, bahwa koperasi diorganisir, dibantu, dan dilengkapi dengan angkutannya sendiri. Koperasi jadi pembeli hasil pertanian dan perikanan setempat," paparnya.
Dengan sistem baru ini, Prabowo optimistis tragedi gagal jual yang kerap memiskinkan petani di daerah tidak akan terjadi lagi.
"Tidak ada lagi nanti panen yang rusak karena tidak ada yang mau beli, karena tidak ada truk yang bisa mengambil panen tersebut. Mangga yang rusak, rambutan yang rusak, tomat yang rusak, wortel yang rusak... Insyaallah ini bisa kita bantu rakyat kita secara optimal," ungkapnya.
Di akhir pemaparannya mengenai koperasi, Prabowo kembali menegaskan komitmen pemerintahannya terhadap ekonomi kerakyatan.
Baginya, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia terletak pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta koperasi yang berakar langsung di tengah masyarakat.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam menyampaikan pidato kenegaraan. (Foto: tangkapan layar dari youtube sekretariat negara)
Samarinda - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menetapkan target ambisius untuk mengoperasikan 30.000 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) secara optimal pada akhir tahun 2026.
Menariknya, di balik tingginya target tersebut, Prabowo memiliki alasan filosofis sekaligus taktis yang diadaptasi dari petuah Bapak Proklamator, Ir. Soekarno.
Dalam Pidato Kenegaraan di hadapan Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026), Presiden membeberkan logikanya.
Menurutnya, target pemerintah memang harus dipatok setinggi mungkin agar hasil yang dicapai meskipun meleset sedikit tetap merupakan sebuah prestasi besar.
"Target kita cantumkan, target kita tinggi. Kita ingat kata-kata Bung Karno: 'Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalau kau tidak berhasil, minimal kau jatuh di antara bintang-bintang.' Target harus tinggi. Bekerja keras, insyaallah sampai," tegas Prabowo.
Presiden menjabarkan hitung-hitungan rasional dari strategi target tinggi tersebut.
"Kalau saya taruh target 12.000, nanti sampainya 11.000. Kalau nanti targetnya 30.000, sampainya 29.000, ini prestasi," jelasnya yang disambut riuh positif dari para peserta sidang.
Ambisi 30.000 Koperasi Merah Putih ini bukan semata-mata soal pencapaian angka, melainkan revolusi sistem ekonomi kerakyatan di tingkat desa.
Prabowo melaporkan bahwa hingga Agustus 2026, sebanyak 10.000 koperasi telah berdiri, dan 3.300 di antaranya sudah mencapai tahap operasional optimal.
Operasional optimal ini berarti koperasi telah dilengkapi fasilitas dasar seperti air dan listrik, dikelola dengan sistem pemantauan stok digital terpusat, dan yang terpenting: koperasi bertindak sebagai off-taker (pembeli siaga) yang memiliki armada angkutannya sendiri.
"Ini juga saya kira pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, bahwa koperasi diorganisir, dibantu, dan dilengkapi dengan angkutannya sendiri. Koperasi jadi pembeli hasil pertanian dan perikanan setempat," paparnya.
Dengan sistem baru ini, Prabowo optimistis tragedi gagal jual yang kerap memiskinkan petani di daerah tidak akan terjadi lagi.
"Tidak ada lagi nanti panen yang rusak karena tidak ada yang mau beli, karena tidak ada truk yang bisa mengambil panen tersebut. Mangga yang rusak, rambutan yang rusak, tomat yang rusak, wortel yang rusak... Insyaallah ini bisa kita bantu rakyat kita secara optimal," ungkapnya.
Di akhir pemaparannya mengenai koperasi, Prabowo kembali menegaskan komitmen pemerintahannya terhadap ekonomi kerakyatan.
Baginya, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia terletak pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta koperasi yang berakar langsung di tengah masyarakat.
(Sf/Rs)