Nasional

    Menko Perekonomian Bidik Ekonomi Digital Indonesia Tembus 366 Miliar Dolar AS pada 2030

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    20 Juli 2026 pukul 08:31 WITA

    Ilustrasi statistik. (Dok: Shutterstock)

    Samarinda - Pemerintah Indonesia menargetkan nilai ekonomi digital nasional mencapai 366 miliar dolar AS pada 2030 melalui penguatan transformasi digital, pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta perluasan kerja sama teknologi dan investasi dengan China. 

    Target tersebut diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi digital sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global.

    Komitmen itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri rangkaian World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, China, Kamis (16/7/2026). 

    Pernyataan tersebut disiarkan melalui konferensi pers resmi BPMI dan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

    Airlangga mengatakan, nilai ekonomi digital Indonesia saat ini diperkirakan telah mencapai 130 miliar dolar AS dan diproyeksikan meningkat menjadi 366 miliar dolar AS pada 2030.

    "Bagi Indonesia, ekonomi digital ini potensinya sampai dengan tahun ini 130 miliar dolar AS, dan tahun 2030 akan menjadi 366 miliar dolar AS," ujar Airlangga.

    Ia menjelaskan, target tersebut sejalan dengan pembahasan ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA) yang diharapkan dapat ditandatangani pada masa Keketuaan ASEAN oleh Filipina tahun ini.

    Menurutnya, implementasi DEFA diproyeksikan mampu meningkatkan nilai ekonomi digital ASEAN dari sekitar 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS. 

    Sementara kontribusi Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 400 miliar dolar AS menjadi 600 miliar dolar AS.

     "Ini sejalan dengan apa yang diusulkan Indonesia dalam rangka kerja sama regional di ASEAN, Digital Economic Framework Agreement. Diharapkan ekonomi digital ASEAN meningkat dari 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS, sedangkan Indonesia dari 400 miliar dolar AS menjadi 600 miliar dolar AS," katanya.

    Airlangga menegaskan, pengembangan ekonomi digital bukan merupakan kebijakan baru. Pemerintah telah meluncurkan program Making Indonesia 4.0 sejak 2018, yang salah satu fokusnya adalah pengembangan kecerdasan buatan atau AI sebagai bagian dari transformasi industri nasional.

    Dalam kunjungannya ke China, Airlangga juga menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao untuk mengevaluasi kerja sama perdagangan, investasi, industri, dan ekonomi digital kedua negara.

    Ia mengungkapkan, nilai perdagangan Indonesia dengan China sepanjang tahun lalu mencapai 160 miliar dolar AS, menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. 

    Sementara investasi langsung China ke Indonesia mencapai 7 miliar dolar AS, ditambah investasi melalui Hong Kong sebesar 10 miliar dolar AS.

     "Indonesia sendiri dengan China, nilai perdagangannya tahun lalu mencapai 160 miliar dolar AS. Investasi langsung China ke Indonesia sebesar 7 miliar dolar AS, sedangkan melalui Hong Kong mencapai 10 miliar dolar AS. Jadi ini betul-betul negara strategis bagi Indonesia," ungkapnya.

    Selain bertemu pemerintah China, Airlangga juga melakukan pertemuan dengan sejumlah perusahaan teknologi dunia, seperti ByteDance, Huawei, Deep Robotics, Unitree, dan FiberHome. Menurutnya, kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas transfer teknologi sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM Indonesia.

    "Ke depan tentu dengan mengoptimalkan WAICO, kita bisa memperluas transfer of technology, sekaligus membuka kesempatan agar UMKM kita memperoleh data dan kesempatan yang sama," tuturnya.

    Pemerintah Indonesia sendiri telah bergabung sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). 

    Keanggotaan tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola AI global sekaligus mempercepat pembangunan ekosistem ekonomi digital nasional.

    Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan transformasi digital menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. 

    Karena itu, pemerintah terus memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas kolaborasi internasional agar target ekonomi digital Indonesia sebesar 366 miliar dolar AS pada 2030 dapat tercapai.

    (Sf/Rs)

    Nasional

    Menko Perekonomian Bidik Ekonomi Digital Indonesia Tembus 366 Miliar Dolar AS pada 2030

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    20 Juli 2026 pukul 08:31 WITA

    Ilustrasi statistik. (Dok: Shutterstock)

    Samarinda - Pemerintah Indonesia menargetkan nilai ekonomi digital nasional mencapai 366 miliar dolar AS pada 2030 melalui penguatan transformasi digital, pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta perluasan kerja sama teknologi dan investasi dengan China. 

    Target tersebut diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi digital sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global.

    Komitmen itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri rangkaian World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, China, Kamis (16/7/2026). 

    Pernyataan tersebut disiarkan melalui konferensi pers resmi BPMI dan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

    Airlangga mengatakan, nilai ekonomi digital Indonesia saat ini diperkirakan telah mencapai 130 miliar dolar AS dan diproyeksikan meningkat menjadi 366 miliar dolar AS pada 2030.

    "Bagi Indonesia, ekonomi digital ini potensinya sampai dengan tahun ini 130 miliar dolar AS, dan tahun 2030 akan menjadi 366 miliar dolar AS," ujar Airlangga.

    Ia menjelaskan, target tersebut sejalan dengan pembahasan ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA) yang diharapkan dapat ditandatangani pada masa Keketuaan ASEAN oleh Filipina tahun ini.

    Menurutnya, implementasi DEFA diproyeksikan mampu meningkatkan nilai ekonomi digital ASEAN dari sekitar 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS. 

    Sementara kontribusi Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 400 miliar dolar AS menjadi 600 miliar dolar AS.

     "Ini sejalan dengan apa yang diusulkan Indonesia dalam rangka kerja sama regional di ASEAN, Digital Economic Framework Agreement. Diharapkan ekonomi digital ASEAN meningkat dari 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS, sedangkan Indonesia dari 400 miliar dolar AS menjadi 600 miliar dolar AS," katanya.

    Airlangga menegaskan, pengembangan ekonomi digital bukan merupakan kebijakan baru. Pemerintah telah meluncurkan program Making Indonesia 4.0 sejak 2018, yang salah satu fokusnya adalah pengembangan kecerdasan buatan atau AI sebagai bagian dari transformasi industri nasional.

    Dalam kunjungannya ke China, Airlangga juga menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao untuk mengevaluasi kerja sama perdagangan, investasi, industri, dan ekonomi digital kedua negara.

    Ia mengungkapkan, nilai perdagangan Indonesia dengan China sepanjang tahun lalu mencapai 160 miliar dolar AS, menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. 

    Sementara investasi langsung China ke Indonesia mencapai 7 miliar dolar AS, ditambah investasi melalui Hong Kong sebesar 10 miliar dolar AS.

     "Indonesia sendiri dengan China, nilai perdagangannya tahun lalu mencapai 160 miliar dolar AS. Investasi langsung China ke Indonesia sebesar 7 miliar dolar AS, sedangkan melalui Hong Kong mencapai 10 miliar dolar AS. Jadi ini betul-betul negara strategis bagi Indonesia," ungkapnya.

    Selain bertemu pemerintah China, Airlangga juga melakukan pertemuan dengan sejumlah perusahaan teknologi dunia, seperti ByteDance, Huawei, Deep Robotics, Unitree, dan FiberHome. Menurutnya, kerja sama tersebut diarahkan untuk memperluas transfer teknologi sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM Indonesia.

    "Ke depan tentu dengan mengoptimalkan WAICO, kita bisa memperluas transfer of technology, sekaligus membuka kesempatan agar UMKM kita memperoleh data dan kesempatan yang sama," tuturnya.

    Pemerintah Indonesia sendiri telah bergabung sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). 

    Keanggotaan tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola AI global sekaligus mempercepat pembangunan ekosistem ekonomi digital nasional.

    Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan transformasi digital menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. 

    Karena itu, pemerintah terus memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas kolaborasi internasional agar target ekonomi digital Indonesia sebesar 366 miliar dolar AS pada 2030 dapat tercapai.

    (Sf/Rs)