Cari disini...
Nasional
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Aktivitas bepergian ke luar negeri kini semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Tak hanya untuk berlibur, perjalanan internasional juga dilakukan untuk keperluan keagamaan, bisnis, pendidikan hingga kesehatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan warga Indonesia ke luar negeri pada 2025 mencapai 9.165.894 perjalanan.
Dalam unggahan Instagram resmi BPS Statistics Indonesia, disebutkan tren perjalanan luar negeri masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan sejak 2021.
Pada 2021, jumlah perjalanan tercatat sebanyak 1.719.262 perjalanan. Angka tersebut meningkat menjadi 3.540.542 perjalanan pada 2022, lalu melonjak menjadi 7.518.895 perjalanan pada 2023.
Tren kenaikan berlanjut pada 2024 dengan total 8.946.794 perjalanan sebelum akhirnya menembus lebih dari 9 juta perjalanan pada 2025.
Kelompok usia produktif menjadi penyumbang terbesar perjalanan luar negeri sepanjang 2025. Usia 25-34 tahun mendominasi dengan persentase mencapai 38,43 persen.
Posisi berikutnya ditempati kelompok usia 35-44 tahun sebesar 31,85 persen, kemudian usia di atas 44 tahun sebanyak 18,85 persen. Sementara wisatawan berusia di bawah 25 tahun tercatat sebesar 10,87 persen.
BPS menilai dominasi usia produktif menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat yang berada pada fase aktif bekerja, berbisnis, hingga mencari pengalaman baru di luar negeri.
Dari sisi tujuan perjalanan, liburan masih menjadi alasan utama warga Indonesia bepergian ke luar negeri dengan persentase mencapai 50,03 persen.
Namun perjalanan untuk tujuan keagamaan juga mengalami peningkatan hingga 21,37 persen. Selain itu, perjalanan bisnis tercatat sebesar 13,06 persen, pendidikan atau diklat 6,04 persen, kesehatan 2,57 persen, dan tujuan lainnya 6,93 persen.
Malaysia menjadi negara tujuan favorit wisatawan Indonesia pada 2025 dengan persentase 29,25 persen. Posisi berikutnya ditempati Arab Saudi sebesar 18,05 persen dan Singapura 13,41 persen.
Kedekatan geografis, kemudahan akses transportasi, serta biaya perjalanan yang relatif terjangkau disebut menjadi faktor utama tingginya kunjungan masyarakat Indonesia ke negara-negara tersebut.
Dari sisi pengeluaran, wisatawan berusia di atas 44 tahun menjadi kelompok dengan rata-rata pengeluaran terbesar per perjalanan, yakni mencapai 2.349,19 dolar AS.
Sementara kelompok usia 35–44 tahun mengeluarkan rata-rata 1.897,77 dolar AS, dan usia 25–34 tahun sekitar 1.617,07 dolar AS per perjalanan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perjalanan luar negeri kini tidak lagi hanya dimaknai sebagai rekreasi, tetapi juga bagian dari kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Aktivitas bepergian ke luar negeri kini semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Tak hanya untuk berlibur, perjalanan internasional juga dilakukan untuk keperluan keagamaan, bisnis, pendidikan hingga kesehatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perjalanan warga Indonesia ke luar negeri pada 2025 mencapai 9.165.894 perjalanan.
Dalam unggahan Instagram resmi BPS Statistics Indonesia, disebutkan tren perjalanan luar negeri masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan sejak 2021.
Pada 2021, jumlah perjalanan tercatat sebanyak 1.719.262 perjalanan. Angka tersebut meningkat menjadi 3.540.542 perjalanan pada 2022, lalu melonjak menjadi 7.518.895 perjalanan pada 2023.
Tren kenaikan berlanjut pada 2024 dengan total 8.946.794 perjalanan sebelum akhirnya menembus lebih dari 9 juta perjalanan pada 2025.
Kelompok usia produktif menjadi penyumbang terbesar perjalanan luar negeri sepanjang 2025. Usia 25-34 tahun mendominasi dengan persentase mencapai 38,43 persen.
Posisi berikutnya ditempati kelompok usia 35-44 tahun sebesar 31,85 persen, kemudian usia di atas 44 tahun sebanyak 18,85 persen. Sementara wisatawan berusia di bawah 25 tahun tercatat sebesar 10,87 persen.
BPS menilai dominasi usia produktif menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat yang berada pada fase aktif bekerja, berbisnis, hingga mencari pengalaman baru di luar negeri.
Dari sisi tujuan perjalanan, liburan masih menjadi alasan utama warga Indonesia bepergian ke luar negeri dengan persentase mencapai 50,03 persen.
Namun perjalanan untuk tujuan keagamaan juga mengalami peningkatan hingga 21,37 persen. Selain itu, perjalanan bisnis tercatat sebesar 13,06 persen, pendidikan atau diklat 6,04 persen, kesehatan 2,57 persen, dan tujuan lainnya 6,93 persen.
Malaysia menjadi negara tujuan favorit wisatawan Indonesia pada 2025 dengan persentase 29,25 persen. Posisi berikutnya ditempati Arab Saudi sebesar 18,05 persen dan Singapura 13,41 persen.
Kedekatan geografis, kemudahan akses transportasi, serta biaya perjalanan yang relatif terjangkau disebut menjadi faktor utama tingginya kunjungan masyarakat Indonesia ke negara-negara tersebut.
Dari sisi pengeluaran, wisatawan berusia di atas 44 tahun menjadi kelompok dengan rata-rata pengeluaran terbesar per perjalanan, yakni mencapai 2.349,19 dolar AS.
Sementara kelompok usia 35–44 tahun mengeluarkan rata-rata 1.897,77 dolar AS, dan usia 25–34 tahun sekitar 1.617,07 dolar AS per perjalanan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perjalanan luar negeri kini tidak lagi hanya dimaknai sebagai rekreasi, tetapi juga bagian dari kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern.
(Sf/Rs)