Cari disini...
Nasional
Ilustrasi (Generate Gemini AI)
Tenggarong - Pemerintah mempercepat pengembangan energi nasional untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga delapan persen.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan tambahan pembangkit listrik berkapasitas 2.000 megawatt dengan nilai investasi mencapai Rp60 triliun hingga Rp70 triliun.
Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Jusuf Kalla dan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (11/6/26). Usai pertemuan, Jusuf Kalla menyampaikan hasil pembahasan kepada awak media. Keterangan tersebut turut disiarkan melalui akun YouTube Sekretariat Presiden pada hari yang sama.
Jusuf Kalla mengatakan dirinya bersama Sugeng membahas upaya memperkuat ketahanan energi nasional sebagai fondasi menuju swasembada energi. Menurutnya, kebutuhan energi akan meningkat seiring target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Ia menjelaskan pihaknya telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 1.500 megawatt dan kini siap melanjutkan pembangunan tambahan 2.000 megawatt, termasuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
"Kita siap membangun lagi dua ribu mega, termasuk juga PLTG," kata Jusuf Kalla.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 5-8 persen membutuhkan dukungan energi dalam jumlah besar. Tanpa pasokan energi yang memadai, target pembangunan nasional akan sulit dicapai.
"Tanpa energi itu, kita akan sulit untuk meningkatkan itu," ujarnya.
Jusuf Kalla mengungkapkan Presiden Prabowo menyetujui percepatan pembangunan energi nasional, khususnya energi hijau atau green energy. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.
Ia menambahkan proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp60 triliun hingga Rp70 triliun. Menurutnya, berbagai persiapan dasar telah tersedia, mulai dari desain hingga lokasi pembangunan.
"Kita bicara tentang investasi kira-kira 60-70 triliun. Desain sudah ada, tempat sudah ada," ungkapnya.
Jusuf Kalla menyebut Presiden memberikan dukungan agar proyek tersebut segera direalisasikan. Saat ini pembahasan lebih difokuskan pada aspek teknis pelaksanaan agar pembangunan dapat segera berjalan.
Selain membahas energi, pertemuan tersebut juga menyinggung sejumlah isu internasional. Salah satunya perkembangan proses perdamaian di Thailand Selatan serta situasi di Afghanistan yang masih menjadi perhatian berbagai pihak.
Pengembangan energi hijau sendiri sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan kebutuhan listrik nasional terus meningkat seiring pertumbuhan industri, investasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Laporan International Energy Agency (IEA) juga menyebut ketersediaan energi yang andal menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing ekonomi suatu negara. Karena itu, peningkatan kapasitas pembangkit dan pengembangan energi bersih dinilai menjadi langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Nasional

Ilustrasi (Generate Gemini AI)
Tenggarong - Pemerintah mempercepat pengembangan energi nasional untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga delapan persen.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembangunan tambahan pembangkit listrik berkapasitas 2.000 megawatt dengan nilai investasi mencapai Rp60 triliun hingga Rp70 triliun.
Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Jusuf Kalla dan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (11/6/26). Usai pertemuan, Jusuf Kalla menyampaikan hasil pembahasan kepada awak media. Keterangan tersebut turut disiarkan melalui akun YouTube Sekretariat Presiden pada hari yang sama.
Jusuf Kalla mengatakan dirinya bersama Sugeng membahas upaya memperkuat ketahanan energi nasional sebagai fondasi menuju swasembada energi. Menurutnya, kebutuhan energi akan meningkat seiring target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Ia menjelaskan pihaknya telah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 1.500 megawatt dan kini siap melanjutkan pembangunan tambahan 2.000 megawatt, termasuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
"Kita siap membangun lagi dua ribu mega, termasuk juga PLTG," kata Jusuf Kalla.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sebesar 5-8 persen membutuhkan dukungan energi dalam jumlah besar. Tanpa pasokan energi yang memadai, target pembangunan nasional akan sulit dicapai.
"Tanpa energi itu, kita akan sulit untuk meningkatkan itu," ujarnya.
Jusuf Kalla mengungkapkan Presiden Prabowo menyetujui percepatan pembangunan energi nasional, khususnya energi hijau atau green energy. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.
Ia menambahkan proyek tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp60 triliun hingga Rp70 triliun. Menurutnya, berbagai persiapan dasar telah tersedia, mulai dari desain hingga lokasi pembangunan.
"Kita bicara tentang investasi kira-kira 60-70 triliun. Desain sudah ada, tempat sudah ada," ungkapnya.
Jusuf Kalla menyebut Presiden memberikan dukungan agar proyek tersebut segera direalisasikan. Saat ini pembahasan lebih difokuskan pada aspek teknis pelaksanaan agar pembangunan dapat segera berjalan.
Selain membahas energi, pertemuan tersebut juga menyinggung sejumlah isu internasional. Salah satunya perkembangan proses perdamaian di Thailand Selatan serta situasi di Afghanistan yang masih menjadi perhatian berbagai pihak.
Pengembangan energi hijau sendiri sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan kebutuhan listrik nasional terus meningkat seiring pertumbuhan industri, investasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Laporan International Energy Agency (IEA) juga menyebut ketersediaan energi yang andal menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing ekonomi suatu negara. Karena itu, peningkatan kapasitas pembangkit dan pengembangan energi bersih dinilai menjadi langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
(Sf/Lo)