Nasional

    Kisah Bejo, Sapi 1 Ton Asal Kaltim yang Ditebus Presiden Prabowo Rp120 Juta

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    22 Mei 2026 pukul 19:50 WITA

    Sapi bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk wilayah Kalimantan Timur ini tampak dirawat dengan penuh kasih sayang oleh peternaknya. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bukan sembarang sapi. Namanya Bejo. Beratnya tembus 1 ton 70 kilogram. Sapi jenis Brahman Cross ini baru saja terpilih jadi hewan kurban Bantuan Presiden (Banpres) Prabowo Subianto untuk wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).

    Pemiliknya adalah Mujianto Sapi'i. Buat Mujianto, merawat Bejo sampai ukurannya super jumbo begini jelas butuh keseriusan. Tapi rahasianya bukan cuma soal takaran pakan konsentrat dan rumput fermentasi.

    "Sapi ini harus diberi kenyamanan. Sering-sering dielus biar dia nyaman," cerita Mujianto saat ditemui dikandang ternaknya area Tanah Merah, Samarinda Utara, Jum'at (22/5/2026).

    Soal kebersihan, ia punya trik sendiri. Alih-alih pakai kelambu seperti peternak lain, kandang Bejo disemprot cairan khusus tiap tiga hari sekali. Hasilnya, nggak ada lalat berkerumun dan aroma kandang tetap aman.

    Sapi sekelas Bejo sebenarnya standar dihargai di atas Rp135 juta oleh para pengusaha. Tapi, Mujianto sepakat melepasnya ke tim kepresidenan di angka Rp120 juta. Alasannya sederhana rasa hormat. 

    Ia sangat mengapresiasi dukungan teman-teman Dinas Peternakan Provinsi yang selama ini memfasilitasi kegiatannya.

    Usut punya usut, ini bukan pertama kalinya sapi Mujianto lolos kurasi Istana. Sudah empat kali sapinya dibeli oleh presiden, termasuk di era Presiden Jokowi. 

    Ironisnya, meski sering mengharumkan nama daerah lewat kontribusi ini, Mujianto mengaku belum pernah mendapat penghargaan atau kunjungan resmi dari Pemprov Kaltim.

    Namun, Mujianto tidak ambil pusing. Ia justru lebih antusias membahas perkembangan peternakan lokal. Pria yang juga menjabat Ketua Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) untuk wilayah Kaltim, Kalsel, dan Kaltara ini terang-terangan memuji pilot project sapi Bali yang digagas oleh Fahmi Hilmawan yang sebelumnya Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim.

    Menurutnya, program tersebut berjalan sukses karena menerapkan sistem terpadu yang dikontrol ketat lewat koperasi. Ini jadi solusi atas masalah lama, di mana bantuan ribuan sapi kerap hilang karena pengawasan yang lemah dan mentalitas peternak yang menggampangkan barang gratisan.

    Di balik kesuksesan Bejo, Mujianto sebenarnya menyimpan satu keresahan. Ia menyebut, produksi daging sapi lokal Kaltim saat ini baru sanggup memenuhi 25-30 persen dari total kebutuhan. Pasokan masih sangat bergantung pada sapi dari Kupang dan Sulawesi, termasuk Bejo yang didatangkan dari Sulawesi.

    "Harapan besar saya, semoga ke depannya sapi bakalan dari Jawa bisa lebih gampang masuk ke Kaltim biar peternakan masyarakat di sini makin ramai," ungkapnya.

    Ke depan, Mujianto sudah menyiapkan rencana besar. Habis Lebaran tahun depan, ia menargetkan menggelar kontes sapi besar-besaran di kawasan Sungai Siri. 

    Ia sedang membangun fasilitas berkapasitas 500 ekor sapi, yang nantinya sekaligus menjadi basecamp bagi para peternak lokal untuk berkumpul dan bertukar pengalaman.

    (Sf/Rs)

    Nasional

    Kisah Bejo, Sapi 1 Ton Asal Kaltim yang Ditebus Presiden Prabowo Rp120 Juta

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    22 Mei 2026 pukul 19:50 WITA

    Sapi bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk wilayah Kalimantan Timur ini tampak dirawat dengan penuh kasih sayang oleh peternaknya. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bukan sembarang sapi. Namanya Bejo. Beratnya tembus 1 ton 70 kilogram. Sapi jenis Brahman Cross ini baru saja terpilih jadi hewan kurban Bantuan Presiden (Banpres) Prabowo Subianto untuk wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).

    Pemiliknya adalah Mujianto Sapi'i. Buat Mujianto, merawat Bejo sampai ukurannya super jumbo begini jelas butuh keseriusan. Tapi rahasianya bukan cuma soal takaran pakan konsentrat dan rumput fermentasi.

    "Sapi ini harus diberi kenyamanan. Sering-sering dielus biar dia nyaman," cerita Mujianto saat ditemui dikandang ternaknya area Tanah Merah, Samarinda Utara, Jum'at (22/5/2026).

    Soal kebersihan, ia punya trik sendiri. Alih-alih pakai kelambu seperti peternak lain, kandang Bejo disemprot cairan khusus tiap tiga hari sekali. Hasilnya, nggak ada lalat berkerumun dan aroma kandang tetap aman.

    Sapi sekelas Bejo sebenarnya standar dihargai di atas Rp135 juta oleh para pengusaha. Tapi, Mujianto sepakat melepasnya ke tim kepresidenan di angka Rp120 juta. Alasannya sederhana rasa hormat. 

    Ia sangat mengapresiasi dukungan teman-teman Dinas Peternakan Provinsi yang selama ini memfasilitasi kegiatannya.

    Usut punya usut, ini bukan pertama kalinya sapi Mujianto lolos kurasi Istana. Sudah empat kali sapinya dibeli oleh presiden, termasuk di era Presiden Jokowi. 

    Ironisnya, meski sering mengharumkan nama daerah lewat kontribusi ini, Mujianto mengaku belum pernah mendapat penghargaan atau kunjungan resmi dari Pemprov Kaltim.

    Namun, Mujianto tidak ambil pusing. Ia justru lebih antusias membahas perkembangan peternakan lokal. Pria yang juga menjabat Ketua Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) untuk wilayah Kaltim, Kalsel, dan Kaltara ini terang-terangan memuji pilot project sapi Bali yang digagas oleh Fahmi Hilmawan yang sebelumnya Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim.

    Menurutnya, program tersebut berjalan sukses karena menerapkan sistem terpadu yang dikontrol ketat lewat koperasi. Ini jadi solusi atas masalah lama, di mana bantuan ribuan sapi kerap hilang karena pengawasan yang lemah dan mentalitas peternak yang menggampangkan barang gratisan.

    Di balik kesuksesan Bejo, Mujianto sebenarnya menyimpan satu keresahan. Ia menyebut, produksi daging sapi lokal Kaltim saat ini baru sanggup memenuhi 25-30 persen dari total kebutuhan. Pasokan masih sangat bergantung pada sapi dari Kupang dan Sulawesi, termasuk Bejo yang didatangkan dari Sulawesi.

    "Harapan besar saya, semoga ke depannya sapi bakalan dari Jawa bisa lebih gampang masuk ke Kaltim biar peternakan masyarakat di sini makin ramai," ungkapnya.

    Ke depan, Mujianto sudah menyiapkan rencana besar. Habis Lebaran tahun depan, ia menargetkan menggelar kontes sapi besar-besaran di kawasan Sungai Siri. 

    Ia sedang membangun fasilitas berkapasitas 500 ekor sapi, yang nantinya sekaligus menjadi basecamp bagi para peternak lokal untuk berkumpul dan bertukar pengalaman.

    (Sf/Rs)