Cari disini...
Nasional
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Tuberkulosis (TBC) tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC. Karena gejalanya sering tidak khas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau para orang tua agar lebih waspada terhadap tanda-tanda penyakit ini sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Melalui unggahan edukasi di akun Instagram @kemenkes_ri yang membagikan materi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dijelaskan bahwa anak dengan risiko tinggi terkena TBC antara lain mereka yang tinggal serumah atau sering melakukan kontak erat dengan pasien TBC, bayi dan balita berusia di bawah lima tahun, anak dengan gizi kurang atau gizi buruk, serta anak yang hidup dengan HIV, terutama yang belum mendapatkan pengobatan memadai.
Kemenkes mengingatkan bahwa TBC pada anak dapat berkembang menjadi TBC berat yang berisiko menyebabkan kecacatan bahkan kematian apabila tidak segera dideteksi dan diobati.
Selain mengetahui faktor risiko, orang tua juga diminta mengenali gejala yang perlu diwaspadai. Beberapa tanda yang dapat muncul di antaranya berat badan anak tidak naik atau justru menurun dalam dua bulan terakhir, demam lebih dari dua minggu atau berulang tanpa sebab yang jelas, anak tampak lesu dan kurang aktif, batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, serta keringat malam yang disertai gejala lainnya.
Apabila anak mengalami gejala tersebut, Kemenkes menganjurkan agar segera membawa anak ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini dinilai menjadi kunci agar peluang kesembuhan semakin besar.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes juga mengingatkan pentingnya pemberian imunisasi BCG pada bayi usia 0–2 bulan sesuai jadwal imunisasi. Masyarakat juga diimbau menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti menjaga ventilasi rumah tetap baik, menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menerapkan etika batuk dan menggunakan masker bila diperlukan.
Upaya tersebut merupakan bagian dari target pemerintah untuk mewujudkan Indonesia bebas TBC pada 2030 melalui peningkatan deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta pencegahan penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat. (Adv)
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Tuberkulosis (TBC) tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC. Karena gejalanya sering tidak khas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau para orang tua agar lebih waspada terhadap tanda-tanda penyakit ini sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Melalui unggahan edukasi di akun Instagram @kemenkes_ri yang membagikan materi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dijelaskan bahwa anak dengan risiko tinggi terkena TBC antara lain mereka yang tinggal serumah atau sering melakukan kontak erat dengan pasien TBC, bayi dan balita berusia di bawah lima tahun, anak dengan gizi kurang atau gizi buruk, serta anak yang hidup dengan HIV, terutama yang belum mendapatkan pengobatan memadai.
Kemenkes mengingatkan bahwa TBC pada anak dapat berkembang menjadi TBC berat yang berisiko menyebabkan kecacatan bahkan kematian apabila tidak segera dideteksi dan diobati.
Selain mengetahui faktor risiko, orang tua juga diminta mengenali gejala yang perlu diwaspadai. Beberapa tanda yang dapat muncul di antaranya berat badan anak tidak naik atau justru menurun dalam dua bulan terakhir, demam lebih dari dua minggu atau berulang tanpa sebab yang jelas, anak tampak lesu dan kurang aktif, batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, serta keringat malam yang disertai gejala lainnya.
Apabila anak mengalami gejala tersebut, Kemenkes menganjurkan agar segera membawa anak ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini dinilai menjadi kunci agar peluang kesembuhan semakin besar.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes juga mengingatkan pentingnya pemberian imunisasi BCG pada bayi usia 0–2 bulan sesuai jadwal imunisasi. Masyarakat juga diimbau menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti menjaga ventilasi rumah tetap baik, menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menerapkan etika batuk dan menggunakan masker bila diperlukan.
Upaya tersebut merupakan bagian dari target pemerintah untuk mewujudkan Indonesia bebas TBC pada 2030 melalui peningkatan deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta pencegahan penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat. (Adv)
(Sf/Rs)