Cari disini...
Nasional
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap Virus Nipah (NiV), meskipun hingga saat ini belum terdapat laporan kasus terkonfirmasi pada manusia di Indonesia.
Melalui informasi yang disampaikan di media sosial resmi Kemenko PMK, Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah (Pteropus spp.), yang diketahui dapat menjadi sumber penularan ke manusia maupun hewan lain.
Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi pangan yang terkontaminasi, hingga kontak erat dengan penderita. Selain itu, hewan perantara seperti babi juga dapat berperan dalam penyebaran virus kepada manusia.
Kemenko PMK menjelaskan bahwa beberapa gejala utama yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi, sakit kepala, pusing, muntah, sesak napas, kejang, hingga radang otak atau ensefalitis. Penyakit ini dikenal memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian kasus Virus Nipah dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung kemampuan deteksi dan penanganan di suatu wilayah.
Meski belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, Kemenko PMK menilai kewaspadaan tetap penting karena Indonesia memiliki sejumlah faktor risiko penularan. Faktor tersebut antara lain luasnya sebaran kelelawar buah, tingginya populasi babi di beberapa daerah, perdagangan ternak antarwilayah, konsumsi nira dan buah lokal, serta interaksi manusia dengan habitat kelelawar.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan pangan, menghindari kontak dengan hewan yang sakit atau terinfeksi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit menular.
Kewaspadaan dini dan edukasi masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit zoonotik di Indonesia, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kesehatan global.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap Virus Nipah (NiV), meskipun hingga saat ini belum terdapat laporan kasus terkonfirmasi pada manusia di Indonesia.
Melalui informasi yang disampaikan di media sosial resmi Kemenko PMK, Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah (Pteropus spp.), yang diketahui dapat menjadi sumber penularan ke manusia maupun hewan lain.
Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi pangan yang terkontaminasi, hingga kontak erat dengan penderita. Selain itu, hewan perantara seperti babi juga dapat berperan dalam penyebaran virus kepada manusia.
Kemenko PMK menjelaskan bahwa beberapa gejala utama yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi, sakit kepala, pusing, muntah, sesak napas, kejang, hingga radang otak atau ensefalitis. Penyakit ini dikenal memiliki tingkat fatalitas yang tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian kasus Virus Nipah dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung kemampuan deteksi dan penanganan di suatu wilayah.
Meski belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, Kemenko PMK menilai kewaspadaan tetap penting karena Indonesia memiliki sejumlah faktor risiko penularan. Faktor tersebut antara lain luasnya sebaran kelelawar buah, tingginya populasi babi di beberapa daerah, perdagangan ternak antarwilayah, konsumsi nira dan buah lokal, serta interaksi manusia dengan habitat kelelawar.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan pangan, menghindari kontak dengan hewan yang sakit atau terinfeksi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit menular.
Kewaspadaan dini dan edukasi masyarakat dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit zoonotik di Indonesia, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kesehatan global.
(Sf/Rs)