Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

    Seputarfakta.com - Nuraini -

    Nasional

    05 Februari 2026 12:59 WIB

    Ilustrasi. (Foto: Freepik)

    Jakarta – Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah dilaporkan muncul di India. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat, meski hingga kini belum ada laporan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia.

    Dalam keterangan resminya, Kemenkes menyebut Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke hewan maupun dari hewan ke manusia. Tingkat kematian akibat infeksi virus ini pun tergolong tinggi, yakni berkisar 40 hingga 75 persen.

    • Berasal dari Kelelawar Buah

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menjadi reservoir alami virus tersebut. Penularan ke manusia dapat terjadi secara langsung maupun melalui hewan perantara seperti babi.

    Perubahan lingkungan, termasuk penebangan hutan, disebut meningkatkan risiko penularan karena membuat kelelawar kehilangan habitat dan mendekati permukiman manusia serta peternakan.

    • Waspadai Jalur Penularan

    Kemenkes menjelaskan penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan terinfeksi seperti liur, urin, darah dan feses. Selain itu, risiko juga muncul dari konsumsi buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar, serta daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak hingga matang.

    Penularan antarmanusia juga dapat terjadi melalui kontak dengan penderita atau benda yang terkontaminasi cairan tubuhnya.

    • Gejala Muncul 4 hingga 14 Hari

    Gejala infeksi Virus Nipah dapat bervariasi, bahkan dalam beberapa kasus tidak menimbulkan gejala. Namun umumnya keluhan muncul 4 hingga 14 hari setelah terinfeksi.

    Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual dan muntah. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga ensefalitis atau radang otak yang bisa menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, bahkan kematian.

    • Belum Ada Obat dan Vaksin

    Hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik maupun vaksin untuk Virus Nipah. Penanganan medis yang diberikan masih bersifat suportif, yakni meredakan gejala dan membantu menjaga kondisi pasien.

    • Langkah Pencegahan

    Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk:

    - Mencuci bersih buah dan sayur sebelum dikonsumsi

    - ⁠Membuang buah yang memiliki tanda gigitan kelelawar

    - Tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohon

    - Menghindari kontak dengan hewan ternak yang sakit atau berpotensi terinfeksi

    - ⁠Mengonsumsi daging yang telah dimasak matang

    - Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

    - Menerapkan etika batuk dan bersin

    - Menggunakan masker saat sedang sakit

    Kemenkes menegaskan, meski belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat mobilitas masyarakat yang tinggi serta kedekatan geografis dengan negara yang pernah melaporkan kasus Virus Nipah.

    Sumber: Instagram @Kemenkes_ri

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Virus Nipah, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya

    Seputarfakta.com - Nuraini -

    Nasional

    05 Februari 2026 12:59 WIB

    Ilustrasi. (Foto: Freepik)

    Jakarta – Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah dilaporkan muncul di India. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat, meski hingga kini belum ada laporan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia.

    Dalam keterangan resminya, Kemenkes menyebut Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke hewan maupun dari hewan ke manusia. Tingkat kematian akibat infeksi virus ini pun tergolong tinggi, yakni berkisar 40 hingga 75 persen.

    • Berasal dari Kelelawar Buah

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menjadi reservoir alami virus tersebut. Penularan ke manusia dapat terjadi secara langsung maupun melalui hewan perantara seperti babi.

    Perubahan lingkungan, termasuk penebangan hutan, disebut meningkatkan risiko penularan karena membuat kelelawar kehilangan habitat dan mendekati permukiman manusia serta peternakan.

    • Waspadai Jalur Penularan

    Kemenkes menjelaskan penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan terinfeksi seperti liur, urin, darah dan feses. Selain itu, risiko juga muncul dari konsumsi buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar, serta daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak hingga matang.

    Penularan antarmanusia juga dapat terjadi melalui kontak dengan penderita atau benda yang terkontaminasi cairan tubuhnya.

    • Gejala Muncul 4 hingga 14 Hari

    Gejala infeksi Virus Nipah dapat bervariasi, bahkan dalam beberapa kasus tidak menimbulkan gejala. Namun umumnya keluhan muncul 4 hingga 14 hari setelah terinfeksi.

    Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, mual dan muntah. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga ensefalitis atau radang otak yang bisa menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, bahkan kematian.

    • Belum Ada Obat dan Vaksin

    Hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik maupun vaksin untuk Virus Nipah. Penanganan medis yang diberikan masih bersifat suportif, yakni meredakan gejala dan membantu menjaga kondisi pasien.

    • Langkah Pencegahan

    Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk:

    - Mencuci bersih buah dan sayur sebelum dikonsumsi

    - ⁠Membuang buah yang memiliki tanda gigitan kelelawar

    - Tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohon

    - Menghindari kontak dengan hewan ternak yang sakit atau berpotensi terinfeksi

    - ⁠Mengonsumsi daging yang telah dimasak matang

    - Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

    - Menerapkan etika batuk dan bersin

    - Menggunakan masker saat sedang sakit

    Kemenkes menegaskan, meski belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat mobilitas masyarakat yang tinggi serta kedekatan geografis dengan negara yang pernah melaporkan kasus Virus Nipah.

    Sumber: Instagram @Kemenkes_ri

    (Sf/Lo)