Cari disini...
Nasional
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus Hepatitis B terbanyak di dunia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut sekitar 90 persen penderita Hepatitis B tidak menyadari dirinya telah terinfeksi karena penyakit tersebut sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, Kemenkes menjelaskan bahwa infeksi Hepatitis B yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis. Peradangan yang berlangsung dalam waktu lama dapat merusak sel-sel hati secara perlahan hingga menyebabkan sirosis (pengerasan hati) dan meningkatkan risiko kanker hati.
Selain itu, Hepatitis B dapat menular dari ibu kepada bayi saat proses persalinan maupun melalui kontak dengan darah yang terinfeksi. Karena kerap tidak bergejala, deteksi dini melalui skrining menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi.
Kemenkes menyebut skrining Hepatitis B dilakukan pada seluruh ibu hamil sebagai upaya mencegah penularan dari ibu ke bayi. Pemeriksaan juga dianjurkan bagi kelompok yang berisiko, meliputi:
* Orang yang melakukan hubungan seksual berisiko tanpa pengaman.
* Orang dengan riwayat transfusi darah atau menjalani cuci darah.
* Pengguna narkotika suntik.
* Orang dengan HIV (ODHIV).
* Individu yang pernah dinyatakan reaktif HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen).
* Orang yang memiliki ibu atau saudara kandung dengan riwayat Hepatitis B.
Kemenkes menambahkan, semakin dini Hepatitis B terdeteksi, semakin cepat penanganan dapat dilakukan sehingga risiko kerusakan hati dan komplikasi yang lebih berat dapat ditekan. Saat ini, pemeriksaan HBsAg untuk skrining Hepatitis B telah tersedia melalui layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di seluruh puskesmas.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus Hepatitis B terbanyak di dunia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut sekitar 90 persen penderita Hepatitis B tidak menyadari dirinya telah terinfeksi karena penyakit tersebut sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, Kemenkes menjelaskan bahwa infeksi Hepatitis B yang tidak terdeteksi dan tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis. Peradangan yang berlangsung dalam waktu lama dapat merusak sel-sel hati secara perlahan hingga menyebabkan sirosis (pengerasan hati) dan meningkatkan risiko kanker hati.
Selain itu, Hepatitis B dapat menular dari ibu kepada bayi saat proses persalinan maupun melalui kontak dengan darah yang terinfeksi. Karena kerap tidak bergejala, deteksi dini melalui skrining menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi.
Kemenkes menyebut skrining Hepatitis B dilakukan pada seluruh ibu hamil sebagai upaya mencegah penularan dari ibu ke bayi. Pemeriksaan juga dianjurkan bagi kelompok yang berisiko, meliputi:
* Orang yang melakukan hubungan seksual berisiko tanpa pengaman.
* Orang dengan riwayat transfusi darah atau menjalani cuci darah.
* Pengguna narkotika suntik.
* Orang dengan HIV (ODHIV).
* Individu yang pernah dinyatakan reaktif HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen).
* Orang yang memiliki ibu atau saudara kandung dengan riwayat Hepatitis B.
Kemenkes menambahkan, semakin dini Hepatitis B terdeteksi, semakin cepat penanganan dapat dilakukan sehingga risiko kerusakan hati dan komplikasi yang lebih berat dapat ditekan. Saat ini, pemeriksaan HBsAg untuk skrining Hepatitis B telah tersedia melalui layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di seluruh puskesmas.
(Sf/Rs)