Cari disini...
Nasional
Ilustrasi (Generate Gemini AI)
Samarinda – Pemerintah kembali mendorong penggunaan kompor listrik sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional. Langkah tersebut diambil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) yang hingga kini masih mencapai sekitar 80 persen kebutuhan nasional dan menyedot devisa negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan tingginya ketergantungan terhadap LPG impor menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional. Selain membebani neraca perdagangan, pemerintah juga harus mengalokasikan subsidi dalam jumlah besar untuk menjaga harga LPG tetap terjangkau bagi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam agenda pemaparan program ketahanan energi nasional, Senin (15/6/2026). Yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kementerian ESDM.
Menurut Bahlil, pada kondisi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) saat ini, devisa yang harus dikeluarkan untuk impor LPG diperkirakan mencapai lebih dari Rp130 triliun per tahun. Sementara itu, subsidi LPG yang ditanggung pemerintah juga mencapai lebih dari Rp80 triliun.
“Kalau kondisi ini terus kita biarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi soal. Maka salah satu alternatifnya adalah kita dorong kompor listrik,” kata Bahlil.
Sebagai tahap awal, pemerintah menyiapkan program penggunaan kompor listrik dengan teknologi terbaru yang dirancang memiliki kebutuhan daya di bawah 900 watt. Skema tersebut ditujukan agar dapat digunakan masyarakat yang memiliki kapasitas listrik rumah tangga terbatas, terutama di wilayah kecamatan dan pedesaan.
Bahlil menjelaskan teknologi kompor listrik yang sedang dikaji pemerintah berbeda dengan program serupa yang pernah diperkenalkan beberapa tahun lalu dan sempat mendapat penolakan dari masyarakat.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat kompor listrik generasi terbaru memiliki efisiensi yang lebih baik dibandingkan model sebelumnya. Saat ini pemerintah masih melakukan evaluasi untuk mengukur manfaat dan efektivitas teknologi baru tersebut sebelum diterapkan secara lebih luas.
“Ada model kompor listrik yang baru. Semakin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan teknologi kompor listrik yang lama,” ujarnya.
Pemerintah juga belum memastikan jumlah unit kompor listrik yang akan disalurkan melalui program tersebut. Bahlil mengatakan angka pastinya masih menunggu pembahasan anggaran bersama DPR yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
Dorongan penggunaan kompor listrik menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat bauran energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Selain menjaga ketahanan energi, langkah tersebut diharapkan dapat membantu menekan beban subsidi dan pengeluaran devisa negara dalam jangka panjang.
Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional terus meningkat setiap tahun, sementara kemampuan produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Kondisi ini menyebabkan Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan LPG dari luar negeri, sehingga rentan terhadap gejolak harga energi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Ilustrasi (Generate Gemini AI)
Samarinda – Pemerintah kembali mendorong penggunaan kompor listrik sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional. Langkah tersebut diambil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) yang hingga kini masih mencapai sekitar 80 persen kebutuhan nasional dan menyedot devisa negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan tingginya ketergantungan terhadap LPG impor menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional. Selain membebani neraca perdagangan, pemerintah juga harus mengalokasikan subsidi dalam jumlah besar untuk menjaga harga LPG tetap terjangkau bagi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam agenda pemaparan program ketahanan energi nasional, Senin (15/6/2026). Yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kementerian ESDM.
Menurut Bahlil, pada kondisi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) saat ini, devisa yang harus dikeluarkan untuk impor LPG diperkirakan mencapai lebih dari Rp130 triliun per tahun. Sementara itu, subsidi LPG yang ditanggung pemerintah juga mencapai lebih dari Rp80 triliun.
“Kalau kondisi ini terus kita biarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi soal. Maka salah satu alternatifnya adalah kita dorong kompor listrik,” kata Bahlil.
Sebagai tahap awal, pemerintah menyiapkan program penggunaan kompor listrik dengan teknologi terbaru yang dirancang memiliki kebutuhan daya di bawah 900 watt. Skema tersebut ditujukan agar dapat digunakan masyarakat yang memiliki kapasitas listrik rumah tangga terbatas, terutama di wilayah kecamatan dan pedesaan.
Bahlil menjelaskan teknologi kompor listrik yang sedang dikaji pemerintah berbeda dengan program serupa yang pernah diperkenalkan beberapa tahun lalu dan sempat mendapat penolakan dari masyarakat.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat kompor listrik generasi terbaru memiliki efisiensi yang lebih baik dibandingkan model sebelumnya. Saat ini pemerintah masih melakukan evaluasi untuk mengukur manfaat dan efektivitas teknologi baru tersebut sebelum diterapkan secara lebih luas.
“Ada model kompor listrik yang baru. Semakin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan teknologi kompor listrik yang lama,” ujarnya.
Pemerintah juga belum memastikan jumlah unit kompor listrik yang akan disalurkan melalui program tersebut. Bahlil mengatakan angka pastinya masih menunggu pembahasan anggaran bersama DPR yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
Dorongan penggunaan kompor listrik menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat bauran energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor. Selain menjaga ketahanan energi, langkah tersebut diharapkan dapat membantu menekan beban subsidi dan pengeluaran devisa negara dalam jangka panjang.
Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional terus meningkat setiap tahun, sementara kemampuan produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Kondisi ini menyebabkan Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan LPG dari luar negeri, sehingga rentan terhadap gejolak harga energi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
(Sf/Rs)