Nasional

    IHSG Anjlok Dihantam Badai Sentimen Global

    Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (Dok Rusdi-Seputar Fakta)

    Seputar Fakta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual masif dan anjlok lebih dari 3 persen pada penutupan perdagangan sesi II, Jumat (17/10/25). Kejatuhan pasar modal domestik ini disebut-sebut merupakan imbas dari 'badai sempurna' sentimen negatif yang datang secara bersamaan dari kancah global.

    Pasar saham sebenarnya dibuka dengan optimisme tipis. Pada awal perdagangan pagi, IHSG sempat menguat 0,10 persen ke level 8.132,75. Namun, sentimen positif itu tak bertahan lama dan indeks dengan cepat berbalik arah hingga terperosok dalam ke zona merah di level 7.863,32, atau terkoreksi tajam sebesar 3,22 persen pada pukul 14.48 WIB.

     

    Kombinasi Pukulan dari Luar Negeri

     

    Dikutip dari CNBC, para analis pasar modal kompak menunjuk sejumlah isu global sebagai biang keladi utama di balik rontoknya bursa hari ini. Kombinasi dari ancaman penutupan layanan pemerintah (government shutdown) di Amerika Serikat (AS), eskalasi tensi dagang antara AS dan China, serta kekhawatiran baru di sektor perbankan AS menjadi pukulan bertubi-tubi bagi pasar.

    Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan investor asing merespons negatif isu-isu tersebut. Selain itu, sentimen dari dalam negeri juga ikut memberatkan, di mana pelaku pasar menyoroti rilis data investasi kuartal III yang diperkirakan akan terkontraksi.

    "Adapun US government shutdown dan US-China trade tensions masih mewarnai sentimen pasar," ujar Nafan Aji Gusta.

    Hal senada juga disampaikan oleh Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran di sektor perbankan Amerika Serikat menjadi pemicu utama sentimen buruk di pasar regional, yang kemudian berimbas langsung ke Indonesia.

    "Eskalasi tensi dagang China-AS juga ikut memberikan sentimen buruk," imbuhnya.

    Sementara itu, para petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditemui di sela-sela acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2025 memberikan respons singkat. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, sempat berkelakar mengenai kondisi pasar saat membuka acara.

    "Sayangnya hari ini indeks-nya merah ini, mudah-mudahan abis acara ini hijau lagi," kata Iman Rachman.

    Saat dimintai komentar lebih lanjut mengenai penyebab kejatuhan pasar, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, enggan memberikan analisis mendalam dan menyarankan untuk bertanya langsung kepada para analis.

    "Kalau itu tanya ke analis," pungkas Jeffrey singkat.

    Nasional

    IHSG Anjlok Dihantam Badai Sentimen Global

    Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (Dok Rusdi-Seputar Fakta)

    Seputar Fakta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual masif dan anjlok lebih dari 3 persen pada penutupan perdagangan sesi II, Jumat (17/10/25). Kejatuhan pasar modal domestik ini disebut-sebut merupakan imbas dari 'badai sempurna' sentimen negatif yang datang secara bersamaan dari kancah global.

    Pasar saham sebenarnya dibuka dengan optimisme tipis. Pada awal perdagangan pagi, IHSG sempat menguat 0,10 persen ke level 8.132,75. Namun, sentimen positif itu tak bertahan lama dan indeks dengan cepat berbalik arah hingga terperosok dalam ke zona merah di level 7.863,32, atau terkoreksi tajam sebesar 3,22 persen pada pukul 14.48 WIB.

     

    Kombinasi Pukulan dari Luar Negeri

     

    Dikutip dari CNBC, para analis pasar modal kompak menunjuk sejumlah isu global sebagai biang keladi utama di balik rontoknya bursa hari ini. Kombinasi dari ancaman penutupan layanan pemerintah (government shutdown) di Amerika Serikat (AS), eskalasi tensi dagang antara AS dan China, serta kekhawatiran baru di sektor perbankan AS menjadi pukulan bertubi-tubi bagi pasar.

    Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan investor asing merespons negatif isu-isu tersebut. Selain itu, sentimen dari dalam negeri juga ikut memberatkan, di mana pelaku pasar menyoroti rilis data investasi kuartal III yang diperkirakan akan terkontraksi.

    "Adapun US government shutdown dan US-China trade tensions masih mewarnai sentimen pasar," ujar Nafan Aji Gusta.

    Hal senada juga disampaikan oleh Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran di sektor perbankan Amerika Serikat menjadi pemicu utama sentimen buruk di pasar regional, yang kemudian berimbas langsung ke Indonesia.

    "Eskalasi tensi dagang China-AS juga ikut memberikan sentimen buruk," imbuhnya.

    Sementara itu, para petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ditemui di sela-sela acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2025 memberikan respons singkat. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, sempat berkelakar mengenai kondisi pasar saat membuka acara.

    "Sayangnya hari ini indeks-nya merah ini, mudah-mudahan abis acara ini hijau lagi," kata Iman Rachman.

    Saat dimintai komentar lebih lanjut mengenai penyebab kejatuhan pasar, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, enggan memberikan analisis mendalam dan menyarankan untuk bertanya langsung kepada para analis.

    "Kalau itu tanya ke analis," pungkas Jeffrey singkat.