Nasional

    Hadapi El Nino 2026, IKN Andalkan Sensor dan Command Center Cegah Karhutla

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    14 Mei 2026 pukul 18:58 WITA

    Otorita IKN menyiapkan langkah cepat untuk mendeteksi dan menangani potensi kebakaran sejak dini. (Foto: Otorita/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai mengandalkan teknologi digital untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat selama musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026.

    Melalui sistem sensor kebakaran, command center terpadu, hingga tombol darurat (panic button), Otorita IKN menyiapkan langkah cepat untuk mendeteksi dan menangani potensi kebakaran sejak dini, agar aktivitas masyarakat dan pembangunan ibu kota baru tetap berjalan aman.

    Berdasarkan paparan BMKG pada April 2026, wilayah IKN diperkirakan mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal.

    “Kondisi itu membuat sejumlah kawasan menjadi lebih kering dan rentan mengalami kebakaran hutan maupun lahan,” ucap Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Pantouw dalam keterangan resminya, Kamis (14/5/2026).

    Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan curah hujan hanya sekitar 0–20 mm. Titik panas juga diperkirakan muncul di sejumlah wilayah seperti Sepaku, Samboja, Muara Jawa dan Mentawir.

    Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Otorita IKN memasang sensor kebakaran hutan di tujuh kawasan delineasi yang dinilai rawan karhutla.

    “Seluruh sistem pemantauan terhubung langsung dengan command center guna mempercepat respons petugas di lapangan,” terang Troy.

    Selain teknologi deteksi dini, Otorita IKN juga memperkuat kesiapan infrastruktur pemadaman dengan membangun pos pemadam kebakaran di Maridan, Sepaku, Samboja, Loa Janan, Muara Jawa, serta kawasan KIPP IKN.

    “Pemetaan sumber air juga dilakukan untuk memastikan pasokan air tetap tersedia ketika proses pemadaman berlangsung,” lanjutnya.

    Dia mengatakan, kesiapsiagaan ini menjadi bagian penting untuk menjaga stabilitas pembangunan IKN di tengah ancaman cuaca ekstrem.

    “Fenomena El Nino merupakan siklus alam yang perlu diantisipasi bersama. Karena itu, Otorita IKN telah menggagas sejumlah strategi mitigasi dan kesiapsiagaan agar aktivitas masyarakat serta pembangunan di IKN tetap berjalan optimal dan tidak terganggu,” ujarnya.

    Tak hanya mengandalkan teknologi dan infrastruktur, Otorita IKN juga melibatkan masyarakat melalui program masyarakat peduli api, masyarakat mitra polhut dan desa tangguh bencana.

    “Kolaborasi tersebut dinilai penting agar penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat, terpadu dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi selama musim kemarau,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Nasional

    Hadapi El Nino 2026, IKN Andalkan Sensor dan Command Center Cegah Karhutla

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    14 Mei 2026 pukul 18:58 WITA

    Otorita IKN menyiapkan langkah cepat untuk mendeteksi dan menangani potensi kebakaran sejak dini. (Foto: Otorita/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai mengandalkan teknologi digital untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat selama musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026.

    Melalui sistem sensor kebakaran, command center terpadu, hingga tombol darurat (panic button), Otorita IKN menyiapkan langkah cepat untuk mendeteksi dan menangani potensi kebakaran sejak dini, agar aktivitas masyarakat dan pembangunan ibu kota baru tetap berjalan aman.

    Berdasarkan paparan BMKG pada April 2026, wilayah IKN diperkirakan mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal.

    “Kondisi itu membuat sejumlah kawasan menjadi lebih kering dan rentan mengalami kebakaran hutan maupun lahan,” ucap Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Pantouw dalam keterangan resminya, Kamis (14/5/2026).

    Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan curah hujan hanya sekitar 0–20 mm. Titik panas juga diperkirakan muncul di sejumlah wilayah seperti Sepaku, Samboja, Muara Jawa dan Mentawir.

    Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Otorita IKN memasang sensor kebakaran hutan di tujuh kawasan delineasi yang dinilai rawan karhutla.

    “Seluruh sistem pemantauan terhubung langsung dengan command center guna mempercepat respons petugas di lapangan,” terang Troy.

    Selain teknologi deteksi dini, Otorita IKN juga memperkuat kesiapan infrastruktur pemadaman dengan membangun pos pemadam kebakaran di Maridan, Sepaku, Samboja, Loa Janan, Muara Jawa, serta kawasan KIPP IKN.

    “Pemetaan sumber air juga dilakukan untuk memastikan pasokan air tetap tersedia ketika proses pemadaman berlangsung,” lanjutnya.

    Dia mengatakan, kesiapsiagaan ini menjadi bagian penting untuk menjaga stabilitas pembangunan IKN di tengah ancaman cuaca ekstrem.

    “Fenomena El Nino merupakan siklus alam yang perlu diantisipasi bersama. Karena itu, Otorita IKN telah menggagas sejumlah strategi mitigasi dan kesiapsiagaan agar aktivitas masyarakat serta pembangunan di IKN tetap berjalan optimal dan tidak terganggu,” ujarnya.

    Tak hanya mengandalkan teknologi dan infrastruktur, Otorita IKN juga melibatkan masyarakat melalui program masyarakat peduli api, masyarakat mitra polhut dan desa tangguh bencana.

    “Kolaborasi tersebut dinilai penting agar penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat, terpadu dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi selama musim kemarau,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)