Cari disini...
Nasional
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara rilis APBN Kita. (Foto: Instagram @Menkeuri)
Samarinda - Keluhan pelaku usaha warung tegal atau warteg mengenai penurunan omzet belakangan ini memicu perdebatan mengenai kondisi riil daya beli masyarakat kelas bawah.
Fenomena pelemahan daya beli ini tampak kontras dengan paparan indikator makroekonomi pemerintah yang mencatatkan indeks konsumsi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang masih tergolong kuat pada kuartal pertama.
Laporan yang diutarakan oleh awak media menyebutkan bahwa banyak pelanggan warteg kini membatasi pengeluaran mereka dan lebih memilih paket hemat di kisaran harga delapan belas ribu hingga maksimal dua puluh ribu rupiah.
Kondisi ini disebut membuat omzet sebagian pemilik warteg anjlok hingga lima puluh persen di tengah kenaikan harga bahan pokok pangan.
Merespons temuan di lapangan tersebut, Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap laporan tersebut.
Namun, ia mengingatkan publik untuk berhati-hati dalam menarik kesimpulan ekonomi nasional dari sampel yang terbatas.
"Hal itu mungkin terjadi, cuman sampel Anda berapa warteg? Itu kan bisa gitu, kan? Saya bisa cari warteg yang sini memang jelek, mungkin lima warteg. Tapi mungkin aja dia kalah bersaing, sana lebih bagus, pindah ke sana. Itu yang kita mesti hati-hati. Saya sih akan investigasi," ujar Purbaya saat rilis APBN KITA, Jumat (5/6/2026).
Purbaya kemudian menganalogikan penarikan kesimpulan dari sampel kecil tersebut dengan istilah ekspedisi memancing yang dapat mengaburkan realita gambaran ekonomi yang sesungguhnya.
Ia menekankan pentingnya mengandalkan data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang memakan anggaran triliunan rupiah untuk memotret kondisi perekonomian secara akurat dan menyeluruh.
"Kamu bawa kapal ke satu tempat, kamu lempar jaring terus di situ dapat ikan, kan? Ada ikan A, B, C, D. Kamu simpulkan ikan di laut adalah A, B, C, D. Padahal laut kan luas. Itu yang harus kita cegah. Makanya saya hati-hati mencatatkan data," tegasnya.
Lebih lanjut, Menteri Keuangan menegaskan bahwa secara makro aktivitas belanja masyarakat justru terpantau tinggi dan aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat bawah masih berjalan.
Ia mencontohkan pengalaman pribadinya yang masih melihat tingginya daya beli saat menyambangi warung makan di perkampungan.
"Tapi kalau kita jalan ke kampung-kampung semuanya ramai loh. Kemarin saya makan cabe ijo aja masih ramai," ungkapnya.
Meskipun yakin dengan kekuatan data agregat, pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi berupa stimulus fiskal tambahan untuk mendongkrak daya beli masyarakat agar ekonomi terus berputar kencang.
Salah satu langkah konkret yang dipastikan cair pada awal bulan Juni ini adalah penyaluran gaji ketiga belas.
"Yang jelas awal bulan ini ada gaji bulan ke-13 itu berapa? itu akan memberi daya beli tambahan ke mereka harusnya wartegnya ke depan enggak enggak itu lagi ya," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara rilis APBN Kita. (Foto: Instagram @Menkeuri)
Samarinda - Keluhan pelaku usaha warung tegal atau warteg mengenai penurunan omzet belakangan ini memicu perdebatan mengenai kondisi riil daya beli masyarakat kelas bawah.
Fenomena pelemahan daya beli ini tampak kontras dengan paparan indikator makroekonomi pemerintah yang mencatatkan indeks konsumsi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang masih tergolong kuat pada kuartal pertama.
Laporan yang diutarakan oleh awak media menyebutkan bahwa banyak pelanggan warteg kini membatasi pengeluaran mereka dan lebih memilih paket hemat di kisaran harga delapan belas ribu hingga maksimal dua puluh ribu rupiah.
Kondisi ini disebut membuat omzet sebagian pemilik warteg anjlok hingga lima puluh persen di tengah kenaikan harga bahan pokok pangan.
Merespons temuan di lapangan tersebut, Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap laporan tersebut.
Namun, ia mengingatkan publik untuk berhati-hati dalam menarik kesimpulan ekonomi nasional dari sampel yang terbatas.
"Hal itu mungkin terjadi, cuman sampel Anda berapa warteg? Itu kan bisa gitu, kan? Saya bisa cari warteg yang sini memang jelek, mungkin lima warteg. Tapi mungkin aja dia kalah bersaing, sana lebih bagus, pindah ke sana. Itu yang kita mesti hati-hati. Saya sih akan investigasi," ujar Purbaya saat rilis APBN KITA, Jumat (5/6/2026).
Purbaya kemudian menganalogikan penarikan kesimpulan dari sampel kecil tersebut dengan istilah ekspedisi memancing yang dapat mengaburkan realita gambaran ekonomi yang sesungguhnya.
Ia menekankan pentingnya mengandalkan data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang memakan anggaran triliunan rupiah untuk memotret kondisi perekonomian secara akurat dan menyeluruh.
"Kamu bawa kapal ke satu tempat, kamu lempar jaring terus di situ dapat ikan, kan? Ada ikan A, B, C, D. Kamu simpulkan ikan di laut adalah A, B, C, D. Padahal laut kan luas. Itu yang harus kita cegah. Makanya saya hati-hati mencatatkan data," tegasnya.
Lebih lanjut, Menteri Keuangan menegaskan bahwa secara makro aktivitas belanja masyarakat justru terpantau tinggi dan aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat bawah masih berjalan.
Ia mencontohkan pengalaman pribadinya yang masih melihat tingginya daya beli saat menyambangi warung makan di perkampungan.
"Tapi kalau kita jalan ke kampung-kampung semuanya ramai loh. Kemarin saya makan cabe ijo aja masih ramai," ungkapnya.
Meskipun yakin dengan kekuatan data agregat, pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi berupa stimulus fiskal tambahan untuk mendongkrak daya beli masyarakat agar ekonomi terus berputar kencang.
Salah satu langkah konkret yang dipastikan cair pada awal bulan Juni ini adalah penyaluran gaji ketiga belas.
"Yang jelas awal bulan ini ada gaji bulan ke-13 itu berapa? itu akan memberi daya beli tambahan ke mereka harusnya wartegnya ke depan enggak enggak itu lagi ya," tutupnya.
(Sf/Rs)