Cari disini...
Nasional
Ilustrasi hantavirus dari paparan tikus/hewan pengerat. (Ilustrasi: Freepik/ AI Generated)
Penajam - Belum benar-benar hilang dari ingatan publik soal pandemi Covid-19, media sosial kembali ramai membahas virus Hanta atau Hantavirus. Video, unggahan Threads hingga konten TikTok mulai dipenuhi narasi soal "virus baru" yang disebut mematikan.
Di tengah ramainya narasi tersebut, sejumlah epidemiolog justru meminta masyarakat tidak buru-buru panik.
Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, melalui unggahan Instagram pribadinya @drpriono pada Selasa (13/5/2026), menyoroti respons berlebihan publik terhadap Hantavirus.
Dalam unggahan itu, Pandu turut membagikan ilustrasi penanganan pasien menggunakan alat pelindung diri lengkap seperti masa pandemi Covid-19. Namun ia menegaskan, dugaan infeksi Hantavirus tidak memerlukan karantina seperti Covid-19.
"Tidak perlu dilakukan karantina pada dugaan orang dengan infeksi virus Hanta," tulis Pandu dalam unggahannya.
Sorotan terhadap Hantavirus mencuat setelah World Health Organization (WHO) melalui laman resmi Disease Outbreak News menerbitkan laporan terkait kasus dugaan penyebaran Andes virus di kapal pesiar MV Hondius, Senin (4/5/2026).
Dalam laporan tersebut, WHO mengungkap adanya sejumlah penumpang yang mengalami gejala hingga menyebabkan kematian saat kapal berlayar di kawasan Amerika Selatan.
Hingga 4 Mei 2026, tercatat tujuh kasus terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus dugaan, termasuk tiga orang meninggal dunia.
Kapal pesiar itu diketahui membawa 147 orang yang terdiri dari 88 penumpang dan 59 awak kapal dari 23 kewarganegaraan berbeda. Pada 4 Mei 2026, MV Hondius dilaporkan tengah berlabuh di lepas pantai Cabo Verde.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga menyinggung perkembangan kasus tersebut melalui video unggahan Instagram resmi WHO pada Kamis (7/5/2026).
WHO menjelaskan, Hantavirus umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus, terutama dari urine, air liur, atau kotoran yang terkontaminasi.
Respons serupa juga datang dari epidemiolog asal Amerika Serikat, Katrine Wallace melalui akun Threads @epidemiologistkat pada Senin (12/5/2026).
Katrine Wallace menilai media sosial saat ini terlalu cepat membangun ketakutan seolah Hantavirus akan menjadi pandemi baru seperti Covid-19.
Padahal menurutnya, penularan antarmanusia pada virus tersebut sangat terbatas dan hanya ditemukan pada strain tertentu seperti Andes virus.
Ia menjelaskan, sebagian besar kasus Hantavirus tetap berkaitan dengan paparan hewan pengerat, bukan penyebaran luas antarmanusia, seperti yang dikaitkan dengan kapal pesiar.
WHO sendiri hingga kini masih menaruh perhatian pada pengawasan kasus dan pelacakan kontak erat. Meski demikian, belum ada indikasi Hantavirus memiliki pola penyebaran global seperti Covid-19.
Di tengah derasnya arus informasi media sosial, epidemiolog mengingatkan masyarakat agar tetap waspada tanpa membangun kepanikan berlebihan.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Ilustrasi hantavirus dari paparan tikus/hewan pengerat. (Ilustrasi: Freepik/ AI Generated)
Penajam - Belum benar-benar hilang dari ingatan publik soal pandemi Covid-19, media sosial kembali ramai membahas virus Hanta atau Hantavirus. Video, unggahan Threads hingga konten TikTok mulai dipenuhi narasi soal "virus baru" yang disebut mematikan.
Di tengah ramainya narasi tersebut, sejumlah epidemiolog justru meminta masyarakat tidak buru-buru panik.
Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, melalui unggahan Instagram pribadinya @drpriono pada Selasa (13/5/2026), menyoroti respons berlebihan publik terhadap Hantavirus.
Dalam unggahan itu, Pandu turut membagikan ilustrasi penanganan pasien menggunakan alat pelindung diri lengkap seperti masa pandemi Covid-19. Namun ia menegaskan, dugaan infeksi Hantavirus tidak memerlukan karantina seperti Covid-19.
"Tidak perlu dilakukan karantina pada dugaan orang dengan infeksi virus Hanta," tulis Pandu dalam unggahannya.
Sorotan terhadap Hantavirus mencuat setelah World Health Organization (WHO) melalui laman resmi Disease Outbreak News menerbitkan laporan terkait kasus dugaan penyebaran Andes virus di kapal pesiar MV Hondius, Senin (4/5/2026).
Dalam laporan tersebut, WHO mengungkap adanya sejumlah penumpang yang mengalami gejala hingga menyebabkan kematian saat kapal berlayar di kawasan Amerika Selatan.
Hingga 4 Mei 2026, tercatat tujuh kasus terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus dugaan, termasuk tiga orang meninggal dunia.
Kapal pesiar itu diketahui membawa 147 orang yang terdiri dari 88 penumpang dan 59 awak kapal dari 23 kewarganegaraan berbeda. Pada 4 Mei 2026, MV Hondius dilaporkan tengah berlabuh di lepas pantai Cabo Verde.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga menyinggung perkembangan kasus tersebut melalui video unggahan Instagram resmi WHO pada Kamis (7/5/2026).
WHO menjelaskan, Hantavirus umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus, terutama dari urine, air liur, atau kotoran yang terkontaminasi.
Respons serupa juga datang dari epidemiolog asal Amerika Serikat, Katrine Wallace melalui akun Threads @epidemiologistkat pada Senin (12/5/2026).
Katrine Wallace menilai media sosial saat ini terlalu cepat membangun ketakutan seolah Hantavirus akan menjadi pandemi baru seperti Covid-19.
Padahal menurutnya, penularan antarmanusia pada virus tersebut sangat terbatas dan hanya ditemukan pada strain tertentu seperti Andes virus.
Ia menjelaskan, sebagian besar kasus Hantavirus tetap berkaitan dengan paparan hewan pengerat, bukan penyebaran luas antarmanusia, seperti yang dikaitkan dengan kapal pesiar.
WHO sendiri hingga kini masih menaruh perhatian pada pengawasan kasus dan pelacakan kontak erat. Meski demikian, belum ada indikasi Hantavirus memiliki pola penyebaran global seperti Covid-19.
Di tengah derasnya arus informasi media sosial, epidemiolog mengingatkan masyarakat agar tetap waspada tanpa membangun kepanikan berlebihan.
(Sf/Rs)