Cari disini...
Nasional
Menteri Sekretaris Negara (Mesesneg), Prasetyo Hadi saat menyampaikan keterangan pers kepada awak media mengenai penanganan karhutla akibat El Nino. (Foto: Tangkapan Layar)
Samarinda— Pemerintah Indonesia memperkuat penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak kondisi cuaca kering akibat El Nino.
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan titik api yang cukup banyak, sementara kebakaran juga terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.
Keterangan tersebut disampaikan Mensesneg Prasetyo Hadi dalam keterangan pers di Gedung Nusantara III DPR/MPR RI, Jakarta, dan disiarkan secara langsung melalui Kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Senin (10/8/2026).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, hingga pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk mempercepat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas.
"Memang ini kondisi cuaca yang sangat kering sehingga rentan terjadinya percikan-percikan api," kata Prasetyo
Pemerintah juga mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi potensi meluasnya karhutla. Salah satunya melalui koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk merancang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Prasetyo mengatakan tidak seluruh wilayah memungkinkan untuk dilakukan OMC secara teknis. Karena itu, pemerintah melakukan pemantauan kondisi di lapangan sekaligus menyiapkan dukungan peralatan untuk penanganan kebakaran.
"Peralatan-peralatan termasuk water bombing, helikopter dan pesawat-pesawat yang dapat membantu untuk mengatasi karhutla," ujarnya.
Pemerintah juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca kering. Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu percikan api dan menyebabkan kebakaran yang sulit dikendalikan.
Kondisi tersebut sejalan dengan peringatan BMKG yang sebelumnya menyebut El Nino 2026 berpotensi memperkuat kondisi kemarau di sejumlah wilayah Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.
BMKG juga menyebut Agustus menjadi salah satu periode puncak musim kemarau 2026.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Nasional

Menteri Sekretaris Negara (Mesesneg), Prasetyo Hadi saat menyampaikan keterangan pers kepada awak media mengenai penanganan karhutla akibat El Nino. (Foto: Tangkapan Layar)
Samarinda— Pemerintah Indonesia memperkuat penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak kondisi cuaca kering akibat El Nino.
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan titik api yang cukup banyak, sementara kebakaran juga terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.
Keterangan tersebut disampaikan Mensesneg Prasetyo Hadi dalam keterangan pers di Gedung Nusantara III DPR/MPR RI, Jakarta, dan disiarkan secara langsung melalui Kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Senin (10/8/2026).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, hingga pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk mempercepat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas.
"Memang ini kondisi cuaca yang sangat kering sehingga rentan terjadinya percikan-percikan api," kata Prasetyo
Pemerintah juga mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi potensi meluasnya karhutla. Salah satunya melalui koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk merancang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Prasetyo mengatakan tidak seluruh wilayah memungkinkan untuk dilakukan OMC secara teknis. Karena itu, pemerintah melakukan pemantauan kondisi di lapangan sekaligus menyiapkan dukungan peralatan untuk penanganan kebakaran.
"Peralatan-peralatan termasuk water bombing, helikopter dan pesawat-pesawat yang dapat membantu untuk mengatasi karhutla," ujarnya.
Pemerintah juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca kering. Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu percikan api dan menyebabkan kebakaran yang sulit dikendalikan.
Kondisi tersebut sejalan dengan peringatan BMKG yang sebelumnya menyebut El Nino 2026 berpotensi memperkuat kondisi kemarau di sejumlah wilayah Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.
BMKG juga menyebut Agustus menjadi salah satu periode puncak musim kemarau 2026.
(Sf/Lo)