Cari disini...
Nasional
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna evaluasi dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. (Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)
Penajam - Presiden Prabowo Subianto menilai dua tahun pertama pemerintahannya telah menunjukkan hasil kerja yang layak dibanggakan. Di tengah kritik terhadap besarnya jumlah anggota kabinet, Prabowo menyebut pemerintahan tetap mampu bekerja dalam satu tim untuk menghadapi berbagai tekanan global dan persoalan dalam negeri.
Hal itu disampaikan Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna dalam agenda dua tahun pemerintahan bertema Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), sebagaimana disiarkan Sekretariat Presiden.
Prabowo bahkan menyampaikan kebanggaannya memimpin pemerintahan yang menurutnya telah menghasilkan sejumlah capaian.
"Saya sekarang bangga menjadi pemimpinmu. Saya bangga menjadi presidenmu. Saya bangga telah memimpin pemerintahan ini karena dalam dua tahun kita telah bekerja dengan hasil yang nyata," kata Prabowo.
Ia menilai capaian tersebut lahir dari kerja bersama jajaran Kabinet Merah Putih. Menurutnya, kemampuan bekerja sebagai tim menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan pemerintahan di tengah situasi global yang penuh konflik, persaingan ekonomi dan tekanan geopolitik.
Prabowo juga menyinggung kritik terhadap jumlah anggota kabinet yang dinilai terlalu besar dan tidak efisien.
Ia membandingkan struktur pemerintahan Indonesia dengan negara-negara Eropa yang terdiri dari banyak negara dan memiliki pemerintahan masing-masing.
Sementara Indonesia, kata dia, memiliki satu pemerintahan untuk melayani hampir 300 juta penduduk.
"Kita dituduh kabinet gemuk tidak efisien. Tapi saudara-saudara, saya ingatkan negara kita hampir 300 juta. Negara kita fisiknya sebesar Eropa. Eropa itu 30 negara, ada 30 kabinet, ada 30 menteri keuangan, ada 30 panglima TNI, ada 30 jaksa agung, ada 30 Kapolri," ujar dia.
Prabowo mempertanyakan ukuran yang digunakan untuk menyebut kabinetnya tidak efisien. Ia menilai efektivitas pemerintahan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah orang di dalam kabinet, melainkan kemampuan bekerja dan menghasilkan kebijakan.
Di hadapan para menteri, Prabowo juga mengapresiasi kerja jajaran Kabinet Merah Putih selama dua tahun terakhir. Ia menyebut para pembantunya berasal dari latar belakang politik, organisasi, profesi dan keahlian yang berbeda, tetapi dipertemukan dalam pemerintahan untuk menjalankan mandat rakyat.
Menurut Prabowo, perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi penghambat kerja pemerintahan. Ia justru menempatkan persatuan nasional sebagai garis utama politik pemerintahannya.
Dalam pidatonya, orang nomor satu di Indonesia itu juga menyinggung situasi politik di sejumlah negara Eropa yang menurut dia memperlihatkan pentingnya menjaga persatuan.
Menurut penilaiannya, kritik dan kompetisi tetap dibutuhkan dalam demokrasi, tetapi persatuan nasional harus berada di atas kepentingan kelompok.
Dua tahun pemerintahan, menurut Prabowo, berlangsung ketika dunia menghadapi perang, konflik geopolitik, perang dagang hingga persaingan antar-kekuatan besar. Kondisi itu, kata dia, membuat kepentingan nasional harus menjadi pijakan dalam menjalankan pemerintahan.
Prabowo menyebut politik luar negeri Indonesia tetap diarahkan untuk menjaga hubungan dengan semua negara tanpa masuk ke blok kekuatan tertentu. Sementara di dalam negeri, ia menegaskan pemerintah harus mengutamakan kepentingan nasional dan merangkul berbagai kekuatan.
"Garis politik luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu masuk terlalu banyak. Demikian juga garis politik dalam negeri saya adalah politik persatuan nasional. Karena itu, saya berusaha untuk merangkul semua kekuatan," ucapnya.
Ia meminta jajaran kabinet menjaga kekompakan dan melanjutkan kerja pemerintahan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna evaluasi dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. (Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)
Penajam - Presiden Prabowo Subianto menilai dua tahun pertama pemerintahannya telah menunjukkan hasil kerja yang layak dibanggakan. Di tengah kritik terhadap besarnya jumlah anggota kabinet, Prabowo menyebut pemerintahan tetap mampu bekerja dalam satu tim untuk menghadapi berbagai tekanan global dan persoalan dalam negeri.
Hal itu disampaikan Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna dalam agenda dua tahun pemerintahan bertema Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), sebagaimana disiarkan Sekretariat Presiden.
Prabowo bahkan menyampaikan kebanggaannya memimpin pemerintahan yang menurutnya telah menghasilkan sejumlah capaian.
"Saya sekarang bangga menjadi pemimpinmu. Saya bangga menjadi presidenmu. Saya bangga telah memimpin pemerintahan ini karena dalam dua tahun kita telah bekerja dengan hasil yang nyata," kata Prabowo.
Ia menilai capaian tersebut lahir dari kerja bersama jajaran Kabinet Merah Putih. Menurutnya, kemampuan bekerja sebagai tim menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan pemerintahan di tengah situasi global yang penuh konflik, persaingan ekonomi dan tekanan geopolitik.
Prabowo juga menyinggung kritik terhadap jumlah anggota kabinet yang dinilai terlalu besar dan tidak efisien.
Ia membandingkan struktur pemerintahan Indonesia dengan negara-negara Eropa yang terdiri dari banyak negara dan memiliki pemerintahan masing-masing.
Sementara Indonesia, kata dia, memiliki satu pemerintahan untuk melayani hampir 300 juta penduduk.
"Kita dituduh kabinet gemuk tidak efisien. Tapi saudara-saudara, saya ingatkan negara kita hampir 300 juta. Negara kita fisiknya sebesar Eropa. Eropa itu 30 negara, ada 30 kabinet, ada 30 menteri keuangan, ada 30 panglima TNI, ada 30 jaksa agung, ada 30 Kapolri," ujar dia.
Prabowo mempertanyakan ukuran yang digunakan untuk menyebut kabinetnya tidak efisien. Ia menilai efektivitas pemerintahan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah orang di dalam kabinet, melainkan kemampuan bekerja dan menghasilkan kebijakan.
Di hadapan para menteri, Prabowo juga mengapresiasi kerja jajaran Kabinet Merah Putih selama dua tahun terakhir. Ia menyebut para pembantunya berasal dari latar belakang politik, organisasi, profesi dan keahlian yang berbeda, tetapi dipertemukan dalam pemerintahan untuk menjalankan mandat rakyat.
Menurut Prabowo, perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi penghambat kerja pemerintahan. Ia justru menempatkan persatuan nasional sebagai garis utama politik pemerintahannya.
Dalam pidatonya, orang nomor satu di Indonesia itu juga menyinggung situasi politik di sejumlah negara Eropa yang menurut dia memperlihatkan pentingnya menjaga persatuan.
Menurut penilaiannya, kritik dan kompetisi tetap dibutuhkan dalam demokrasi, tetapi persatuan nasional harus berada di atas kepentingan kelompok.
Dua tahun pemerintahan, menurut Prabowo, berlangsung ketika dunia menghadapi perang, konflik geopolitik, perang dagang hingga persaingan antar-kekuatan besar. Kondisi itu, kata dia, membuat kepentingan nasional harus menjadi pijakan dalam menjalankan pemerintahan.
Prabowo menyebut politik luar negeri Indonesia tetap diarahkan untuk menjaga hubungan dengan semua negara tanpa masuk ke blok kekuatan tertentu. Sementara di dalam negeri, ia menegaskan pemerintah harus mengutamakan kepentingan nasional dan merangkul berbagai kekuatan.
"Garis politik luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu masuk terlalu banyak. Demikian juga garis politik dalam negeri saya adalah politik persatuan nasional. Karena itu, saya berusaha untuk merangkul semua kekuatan," ucapnya.
Ia meminta jajaran kabinet menjaga kekompakan dan melanjutkan kerja pemerintahan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
(Sf/Rs)