Nasional

    Dolar Menguat, Harga Sawit Justru Turun, Kementan Pertanyakan Penyebabnya

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    08 Juni 2026 pukul 23:45 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Tenggarong – Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tengah penguatan nilai tukar dolar AS menjadi sorotan pemerintah. 

    Kondisi tersebut dinilai tidak wajar karena komoditas ekspor seperti sawit seharusnya mendapat keuntungan ketika kurs dolar menguat terhadap rupiah.

    Sorotan itu muncul setelah pemerintah menemukan harga sawit di tingkat petani justru mengalami penurunan saat nilai tukar dolar berada di kisaran Rp18 ribu per dolar AS. Padahal, kenaikan kurs biasanya meningkatkan nilai ekspor dan berdampak positif terhadap harga komoditas.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan seluruh asosiasi, eksportir, dan perusahaan yang hadir dalam rapat koordinasi sepakat mengembalikan harga sawit seperti sebelumnya. Menurutnya, tidak ada alasan harga sawit turun di tengah kenaikan nilai tukar dolar.

    "Harga harusnya naik, bukan turun. Kenapa turun?" kata Amran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang digelar di Jakarta dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kementerian Pertanian RI, Senin (8/6/26). 

    Dalam rapat itu hadir perwakilan asosiasi, eksportir, perusahaan sawit, serta pemangku kepentingan sektor perkebunan.

    Pemerintah juga akan memeriksa sekitar 300 perusahaan sawit yang belum menyesuaikan harga. Jumlah tersebut merupakan bagian dari sekitar 1.900 perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit nasional.

    Menurut Amran, perusahaan-perusahaan tersebut akan dievaluasi untuk mengetahui penyebab harga sawit tidak bergerak sesuai kondisi pasar. Ia menilai harga sawit bahkan seharusnya bisa meningkat sekitar 10 persen mengikuti kenaikan kurs dolar.

    "Kita akan cek kenapa dia tidak naikkan seperti semula," ujarnya.

    Pemerintah berharap momentum penguatan dolar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor sawit nasional sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani. Pada tahun sebelumnya, nilai ekspor sektor pertanian tercatat meningkat hingga Rp167 triliun.

    Amran menilai peluang tersebut seharusnya dapat dirasakan langsung oleh jutaan petani sawit yang menjadi tulang punggung produksi perkebunan nasional.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelapa sawit masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia. Sejumlah penelitian ekonomi juga menyebut penguatan dolar umumnya meningkatkan daya saing komoditas ekspor sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat produsen.

    Karena itu, pemerintah menilai penurunan harga sawit di tengah penguatan dolar perlu ditelusuri lebih lanjut agar manfaat peningkatan ekspor benar-benar dirasakan petani dan pelaku usaha di sektor perkebunan.

    (Sf/Lo)

    Nasional

    Dolar Menguat, Harga Sawit Justru Turun, Kementan Pertanyakan Penyebabnya

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    08 Juni 2026 pukul 23:45 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Tenggarong – Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tengah penguatan nilai tukar dolar AS menjadi sorotan pemerintah. 

    Kondisi tersebut dinilai tidak wajar karena komoditas ekspor seperti sawit seharusnya mendapat keuntungan ketika kurs dolar menguat terhadap rupiah.

    Sorotan itu muncul setelah pemerintah menemukan harga sawit di tingkat petani justru mengalami penurunan saat nilai tukar dolar berada di kisaran Rp18 ribu per dolar AS. Padahal, kenaikan kurs biasanya meningkatkan nilai ekspor dan berdampak positif terhadap harga komoditas.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan seluruh asosiasi, eksportir, dan perusahaan yang hadir dalam rapat koordinasi sepakat mengembalikan harga sawit seperti sebelumnya. Menurutnya, tidak ada alasan harga sawit turun di tengah kenaikan nilai tukar dolar.

    "Harga harusnya naik, bukan turun. Kenapa turun?" kata Amran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan dan Stabilisasi Harga TBS Kelapa Sawit yang digelar di Jakarta dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kementerian Pertanian RI, Senin (8/6/26). 

    Dalam rapat itu hadir perwakilan asosiasi, eksportir, perusahaan sawit, serta pemangku kepentingan sektor perkebunan.

    Pemerintah juga akan memeriksa sekitar 300 perusahaan sawit yang belum menyesuaikan harga. Jumlah tersebut merupakan bagian dari sekitar 1.900 perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit nasional.

    Menurut Amran, perusahaan-perusahaan tersebut akan dievaluasi untuk mengetahui penyebab harga sawit tidak bergerak sesuai kondisi pasar. Ia menilai harga sawit bahkan seharusnya bisa meningkat sekitar 10 persen mengikuti kenaikan kurs dolar.

    "Kita akan cek kenapa dia tidak naikkan seperti semula," ujarnya.

    Pemerintah berharap momentum penguatan dolar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor sawit nasional sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani. Pada tahun sebelumnya, nilai ekspor sektor pertanian tercatat meningkat hingga Rp167 triliun.

    Amran menilai peluang tersebut seharusnya dapat dirasakan langsung oleh jutaan petani sawit yang menjadi tulang punggung produksi perkebunan nasional.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kelapa sawit masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia. Sejumlah penelitian ekonomi juga menyebut penguatan dolar umumnya meningkatkan daya saing komoditas ekspor sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat produsen.

    Karena itu, pemerintah menilai penurunan harga sawit di tengah penguatan dolar perlu ditelusuri lebih lanjut agar manfaat peningkatan ekspor benar-benar dirasakan petani dan pelaku usaha di sektor perkebunan.

    (Sf/Lo)