Cari disini...
Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -
Nasional
Ilustrasi (Foto : Freepik)
Tenggarong – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah sejumlah analis memprediksi mata uang Indonesia berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat. Tekanan terhadap rupiah dinilai dipengaruhi penguatan dolar AS, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal. Penguatan dolar AS membuat aliran modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dikutip dari Reuters, dolar AS terus menguat dalam beberapa bulan terakhir seiring kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlangsung selama The Fed belum menurunkan suku bunga acuannya.
“Selama The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap mata uang emerging market akan tetap besar,” ujarnya dalam riset ekonomi Bank Mandiri.
Prediksi rupiah menyentuh Rp18 ribu menjadi perhatian karena level tersebut dinilai sebagai titik psikologis baru bagi pasar keuangan Indonesia. Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu kenaikan harga barang impor dan meningkatkan tekanan inflasi.
“Kalau rupiah terus melemah, ekspektasi pasar bisa ikut memburuk dan berdampak pada inflasi,” kata Bhima dikutip dari CNBC Indonesia.
Pelemahan rupiah juga diperkirakan berdampak pada harga barang impor seperti elektronik, gadget, kendaraan, hingga bahan baku industri. Tidak hanya itu, sejumlah komoditas pangan yang masih bergantung pada impor juga berpotensi mengalami kenaikan harga.
Bank Indonesia sejauh ini terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar valuta asing dan kebijakan moneter lainnya. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas di tengah ketidakpastian global.
“Stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas Bank Indonesia,” ujarnya dikutip dari situs resmi Bank Indonesia.
Meski tekanan terhadap rupiah meningkat, banyak ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Cadangan devisa Indonesia dinilai masih stabil, inflasi terkendali, dan sistem perbankan jauh lebih siap dibanding masa krisis 1998.
Dalam jurnal Asian Economic Policy Review disebutkan bahwa krisis nilai tukar biasanya terjadi ketika negara memiliki cadangan devisa lemah dan sistem keuangan yang rapuh. Kondisi tersebut dinilai belum terjadi di Indonesia saat ini.
Namun para ekonom tetap mengingatkan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan pasar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -
Nasional

Ilustrasi (Foto : Freepik)
Tenggarong – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah sejumlah analis memprediksi mata uang Indonesia berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat. Tekanan terhadap rupiah dinilai dipengaruhi penguatan dolar AS, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal. Penguatan dolar AS membuat aliran modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dikutip dari Reuters, dolar AS terus menguat dalam beberapa bulan terakhir seiring kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menyebut tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlangsung selama The Fed belum menurunkan suku bunga acuannya.
“Selama The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap mata uang emerging market akan tetap besar,” ujarnya dalam riset ekonomi Bank Mandiri.
Prediksi rupiah menyentuh Rp18 ribu menjadi perhatian karena level tersebut dinilai sebagai titik psikologis baru bagi pasar keuangan Indonesia. Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu kenaikan harga barang impor dan meningkatkan tekanan inflasi.
“Kalau rupiah terus melemah, ekspektasi pasar bisa ikut memburuk dan berdampak pada inflasi,” kata Bhima dikutip dari CNBC Indonesia.
Pelemahan rupiah juga diperkirakan berdampak pada harga barang impor seperti elektronik, gadget, kendaraan, hingga bahan baku industri. Tidak hanya itu, sejumlah komoditas pangan yang masih bergantung pada impor juga berpotensi mengalami kenaikan harga.
Bank Indonesia sejauh ini terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar valuta asing dan kebijakan moneter lainnya. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas di tengah ketidakpastian global.
“Stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas Bank Indonesia,” ujarnya dikutip dari situs resmi Bank Indonesia.
Meski tekanan terhadap rupiah meningkat, banyak ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Cadangan devisa Indonesia dinilai masih stabil, inflasi terkendali, dan sistem perbankan jauh lebih siap dibanding masa krisis 1998.
Dalam jurnal Asian Economic Policy Review disebutkan bahwa krisis nilai tukar biasanya terjadi ketika negara memiliki cadangan devisa lemah dan sistem keuangan yang rapuh. Kondisi tersebut dinilai belum terjadi di Indonesia saat ini.
Namun para ekonom tetap mengingatkan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan pasar agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam.
(Sf/Rs)