Cari disini...
Nasional
Kabut asap Karhutla di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap kualitas udara di Kabupaten Berau. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mengambil langkah perlindungan terhadap peserta didik dengan menerapkan Belajar Dari Rumah (BDR).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Berau tentang Kesiapsiagaan Terhadap Siaga Darurat Karhutla yang dikeluarkan pada Jumat (21/8/2026). Dalam SE tersebut, seluruh siswa-siswi sekolah diwajibkan melaksanakan BDR atau pembelajaran jarak jauh selama tiga hari, yakni pada 24 hingga 26 Agustus 2026.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas mengatakan, kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap anak-anak di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap.
"Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan anak-anak, seluruh siswa-siswi sekolah diwajibkan melaksanakan Belajar Dari Rumah selama 24 sampai 26 Agustus 2026," ujar Sri Juniarsih.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kabut asap tersebut terjadi seiring meningkatnya kejadian karhutla di Berau. Sejak awal Agustus 2026, tercatat sebanyak 152 kejadian Karhutla.
Sementara itu, berdasarkan data pemantauan satelit SIPONGI per Rabu (19/8/2026), terdapat 276 titik panas atau hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Berau.
"Kecamatan Pulau Derawan menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi, yakni mencapai 93 titik. Kemudian Kecamatan Segah sebanyak 64 titik, Gunung Tabur 38 titik, Sambaliung 28 titik, dan Teluk Bayur sebanyak 21 titik," tambahnya.
Dirinya menegaskan bahwa kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Hasil pemeriksaan kualitas udara dalam ruangan di sejumlah lokasi terdampak menunjukkan parameter partikel debu PM2,5 dan PM10 berada di atas ambang batas aman.
"Paparan kabut asap berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap asap," tuturnya.
Oleh karena itu, selain menerapkan BDR, Pemkab Berau mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta membatasi kegiatan di luar rumah guna mencegah bahaya heat stroke dan paparan asap, menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala sakit.
Selain itu, selama masa BDR, penyesuaian distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan bersama Kementerian Agama.
Bupati juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya sumber api baru. Apabila menemukan api yang masih berukuran kecil, warga diminta segera melakukan pemadaman.
Pengurus rumah ibadah, aparatur kecamatan, kelurahan, kampung hingga pengurus RT juga diminta aktif mensosialisasikan upaya pencegahan karhutla dan dampak kabut asap kepada masyarakat.
Sri menegaskan bahwa seluruh pihak harus menjalankan instruksi dalam SE tersebut secara bertanggung jawab demi menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat Kabupaten Berau.
"Saya menekankan kepada seluruh pihak untuk dapat memperhatikan dan melaksanakan instruksi dalam SE ini dengan penuh tanggung jawab demi keselamatan dan kesehatan bersama di Kabupaten Berau," tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Nasional

Kabut asap Karhutla di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap kualitas udara di Kabupaten Berau. Kondisi ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mengambil langkah perlindungan terhadap peserta didik dengan menerapkan Belajar Dari Rumah (BDR).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Berau tentang Kesiapsiagaan Terhadap Siaga Darurat Karhutla yang dikeluarkan pada Jumat (21/8/2026). Dalam SE tersebut, seluruh siswa-siswi sekolah diwajibkan melaksanakan BDR atau pembelajaran jarak jauh selama tiga hari, yakni pada 24 hingga 26 Agustus 2026.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas mengatakan, kebijakan tersebut diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap anak-anak di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap.
"Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan anak-anak, seluruh siswa-siswi sekolah diwajibkan melaksanakan Belajar Dari Rumah selama 24 sampai 26 Agustus 2026," ujar Sri Juniarsih.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kabut asap tersebut terjadi seiring meningkatnya kejadian karhutla di Berau. Sejak awal Agustus 2026, tercatat sebanyak 152 kejadian Karhutla.
Sementara itu, berdasarkan data pemantauan satelit SIPONGI per Rabu (19/8/2026), terdapat 276 titik panas atau hotspot yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Berau.
"Kecamatan Pulau Derawan menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi, yakni mencapai 93 titik. Kemudian Kecamatan Segah sebanyak 64 titik, Gunung Tabur 38 titik, Sambaliung 28 titik, dan Teluk Bayur sebanyak 21 titik," tambahnya.
Dirinya menegaskan bahwa kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Hasil pemeriksaan kualitas udara dalam ruangan di sejumlah lokasi terdampak menunjukkan parameter partikel debu PM2,5 dan PM10 berada di atas ambang batas aman.
"Paparan kabut asap berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap asap," tuturnya.
Oleh karena itu, selain menerapkan BDR, Pemkab Berau mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta membatasi kegiatan di luar rumah guna mencegah bahaya heat stroke dan paparan asap, menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala sakit.
Selain itu, selama masa BDR, penyesuaian distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan bersama Kementerian Agama.
Bupati juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya sumber api baru. Apabila menemukan api yang masih berukuran kecil, warga diminta segera melakukan pemadaman.
Pengurus rumah ibadah, aparatur kecamatan, kelurahan, kampung hingga pengurus RT juga diminta aktif mensosialisasikan upaya pencegahan karhutla dan dampak kabut asap kepada masyarakat.
Sri menegaskan bahwa seluruh pihak harus menjalankan instruksi dalam SE tersebut secara bertanggung jawab demi menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat Kabupaten Berau.
"Saya menekankan kepada seluruh pihak untuk dapat memperhatikan dan melaksanakan instruksi dalam SE ini dengan penuh tanggung jawab demi keselamatan dan kesehatan bersama di Kabupaten Berau," tandasnya.
(Sf/Rs)