Cari disini...
Liputan Khusus
Ketiban rezeki, warga Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, mendulang emas di tepian Sungai Mahakam, saat air surut karena kemarau. (FOTO: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Musim kemarau tahun 2026 ini membawa pemandangan tak biasa di Kutai Kartanegara (Kukar). Di tengah kepulan asap dan cuaca panas menyengat yang dikeluhkan tak hanya oleh warga Indonesia, tapi juga Malaysia, Singapura, Brunei bahkan Tailan, nyatanya tepian Sungai Mahakam mendadak riuh oleh kehadiran warga. Bukan karena asap, bukan karena kebakaran.
Warga di RT 01 dan 02, Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, tengah sibuk dan berkumpul memilah material pasir dan tanah. Mereka memanfaatkan kondisi air sungai yang menyusut drastis untuk mencari kepingan logam berwarna kuning yang diyakini sebagai emas. Fenomena langka ini sontak membangkitkan ingatan kolektif warga pada kejadian serupa puluhan tahun silam.
Warga menunjukkan hasil dulangan, berupa partikel kuning berkilau yang diyakini sebagai emas. (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Etah siapa yang pertama memulai, namun berbekal peralatan seadanya seperti wajan dan sekop, warga telaten menyusuri tepian sungai sejak matahari terbit. Aktivitas tradisional ini dengan cepat menjadi rutinitas harian yang menjanjikan harapan baru di tengah kemarau.
“Sudah semingguan kami mendulang emas di sini karena kondisi Sungai Mahakam sedang surut, dimulai sejak pagi sampai Magrib,” ujar warga RT 02 Desa Embalut, Alus, kepada awak redaksi Seputar Fakta, yang menyambangi lokasi pada Kamis (10/9/2026) lalu.
Hasil dari kerja keras di bawah terik matahari ini cukup beragam. Sebagian pendulang beruntung bisa mengumpulkan hingga setengah gram emas dalam sehari, sementara beberapa lainnya harus rela pulang dengan tangan kosong. Kepingan berharga yang terkumpul kemudian dikelola sesuai kebutuhan masing-masing individu.
“Ada warga yang menyimpan emasnya dan ada juga yang langsung menjualnya,” terangnya.
Untuk memudahkan transaksi, para pembeli tak segan datang langsung menghampiri lokasi pendulangan. Nilai jual yang ditawarkan pun terbilang sangat menggiurkan bagi perekonomian masyarakat setempat.
“Harganya Rp1,5 juta per gram karena pembelinya ngambil ke sini. Tapi kalau di Samarinda, harga yang ditawarkan tembus Rp1,8 juta untuk satu gramnya,” paparnya.
Menyusutnya debit air Sungai Mahakam hingga batas ekstrem ini merupakan momen yang sangat jarang terjadi. Alus menguraikan bahwa kondisi lingkungan sedemikian rupa terakhir kali disaksikan warga pada era sembilan puluhan.
“Kalau kondisi seperti ini, seingat saya pernah terjadi sekitar 1997. Memang tidak setiap tahun air surut sampai seperti sekarang,” ungkapnya.
Syukurnya, geliat ekonomi dadakan ini mendapat lampu hijau dari pemerintah desa. Kepala Desa Embalut, Yahya, menegaskan pencarian kepingan logam tersebut sah-sah saja dilakukan oleh masyarakat selama mempertahankan metode tradisional.
“Selama belum ada larangan karena masih dilakukan secara manual, kecuali menggunakan alat berat,” jelas Yahya.
Dukungan selaras datang dari Bhabinkamtibmas Polsek Tenggarong Seberang, BRIPKA Andar Sumaidi. Ia menekankan aparat kepolisian membolehkan warga mencari peruntungan, asalkan tetap menjauhi penggunaan alat berat yang berpotensi merusak ekosistem sungai, salah satunya mesin alkon penyedot.
“Kebanyakan warga hanya mendulang di bagian bibir sungai, bukan di dinding atau bagian yang bisa menyebabkan kerusakan. Kalau dari kami, silakan saja selama tidak merusak lingkungan. Yang penting warga menjaga keselamatan diri masing-masing dan jangan menggunakan alat yang dapat merusak,” tandasnya.
Kehebohan pendulangan di Desa Embalut turut memancing perhatian dari kalangan akademisi. Benda berwarna kuning yang ditemukan dalam berbagai bentuk fisik memunculkan tanda tanya besar mengenai asal-usul aslinya.
Kepala Prodi S1 Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Fajar Alam, menilai struktur formasi geologi kawasan tersebut belum cukup mendukung untuk memproduksi endapan emas secara mandiri.
“Secara geologi, di daerah Embalut itu, bahkan kalau ke hulunya sampai wilayah kampung-kampung tua, kondisi geologinya belum memungkinkan adanya temuan emas sebagai hasil proses geologi,” ujar Fajar Alam.
Dalam disiplin ilmu geologi, kemunculan emas alami sangat bergantung pada proses mineralisasi yang spesifik. Proses pembentukan ini membutuhkan interaksi batuan pada zona tertentu atau adanya aktivitas magmatik, seumpama peristiwa batu gamping yang mendapat terobosan dari batuan magmatik. Karakteristik alamiah semacam ini memiliki peluang lebih besar untuk ditemukan jauh di arah barat, tepatnya di kawasan kaki pegunungan wilayah perbatasan antara Kukar dan Kutai Barat. Material primer dari hulu sungai sejatinya memiliki kemungkinan terbawa arus air beserta proses pelapukan dan erosi hingga ke hilir, kendati peluangnya menipis untuk bisa menumpuk dalam jumlah masif di satu lokasi.
“Kalau ditanya apakah aliran sungai memungkinkan membawa butiran emas dari daerah sumber sampai ke Embalut, jawabannya mungkin saja. Tapi membutuhkan proses yang panjang,” terang Fajar Alam.
Kewaspadaan ekstra sangat diperlukan saat mengamati kepingan kuning kemilau tersebut. Fajar Alam mengingatkan keberadaan mineral besi sulfida dengan rumus kimia FeS₂ yang akrab disapa pirit. Kandungan sulfur serta besi di dalamnya memunculkan warna dan kilap logam yang sangat identik dengan wujud emas murni.
“Pirit itu kadang disebut emas palsu karena kilapnya seperti logam dan menyerupai emas,” jelasnya. Identifikasi secara langsung kemudian menjadi langkah mutlak guna memastikan apakah temuan warga adalah emas asli, pirit, atau sekadar jenis mineral lain yang memiliki rupa serupa.
Seandainya kepingan logam tersebut terbukti valid sebagai emas, terdapat sebuah hipotesis arkeologi yang sangat memikat. Dokumentasi warga memperlihatkan benda-benda kuning itu sekilas menyajikan wujud fisik menyerupai kail, jarum, hingga perhiasan liontin. Bentuk spesifik semacam ini menjadi indikator kuat keterlibatan campur tangan peradaban manusia.
“Kalau ada temuan emas di wilayah itu, saya menduga jangan-jangan ada bentuk atau kesan tertentu yang merupakan hasil objek budaya manusia,” katanya.
Sebuah artefak berbahan emas peninggalan era lampau amat rentan mengalami kerusakan wujud seiring berjalannya waktu. Saat benda tersebut bersemayam di ekosistem aliran sungai, benturan konstan dengan material keras maupun bebatuan akan memecahnya, mengubahnya menjadi partikel-partikel halus seukuran butiran pasir.
“Bisa saja memang itu emas, tapi merupakan hasil tumbukan atau hancuran dari benda yang dibuat manusia, misalnya perhiasan, kail, jarum atau benda lainnya yang berbahan emas,” ungkap Fajar Alam. Kesimpulan geologisnya turut memberi penegasan mengenai asal-muasal material temuan ini. “Kalau di Embalut, dugaan saya bukan seperti itu, melainkan sudah merupakan hasil budaya manusia,” tuturnya.
Kawasan Desa Embalut dan sekitarnya memang menyimpan rentetan riwayat historis yang amat panjang. Jauh sebelum kemerdekaan tahun 1945, bentang wilayah ini telah menaungi sebuah denyut peradaban. Bukti otentik sejarah kawasan bisa ditelusuri langsung ke wilayah Pulau Yupa yang menyimpan makam-makam tua beserta kepingan cerita mengenai eksistensi tokoh petinggi kampung masa silam.
“Artinya, kawasan tersebut merupakan wilayah yang sudah memiliki peradaban sejak masa lampau,” ujarnya.
Gaya rancang bangun hunian masyarakat terdahulu turut menyumbang penjelasan logis atas teori penyebaran benda ini. Hunian tradisional tempo dulu umumnya berdiri sebagai rumah kolong atau rumah panggung berlantai papan kayu. Celah-celah renggang pada lantai inilah yang memberikan jalan bagi barang berukuran mini untuk merosot jatuh ke permukaan tanah. Paparan aliran air, perubahan lingkungan, serta siklus pasang surut kemudian menggerakkan benda-benda tersebut secara perlahan hingga bermuara ke dasar badan sungai terdekat.
“Kalau kita membayangkan kampung-kampung tua dahulu, model rumahnya mungkin rumah kolong atau rumah panggung. Sangat mungkin ada bagian lantai yang renggang, sehingga barang-barang kecil bisa jatuh dari atas melalui celah lantai,” nyatanya.
Rekam jejak historis ini memiliki kemiripan dengan peristiwa penemuan koin-koin era pemerintahan Hindia Belanda di dasar kolong rumah warga kawasan Air Putih, Samarinda. Fakta empiris ini membuktikan barang peninggalan sanggup bertahan di sekitar lokasi permukiman hingga melampaui ratusan tahun. Kehadiran benda-benda berharga di habitat sungai terjadi sepenuhnya murni akibat unsur ketidaksengajaan.
“Intinya, benda itu bisa saja jatuh secara tidak sengaja. Apalagi kalau berupa barang-barang kecil. Tidak mungkin orang sengaja membuang emas,” ucapnya.
Mengingat signifikansi nilai sejarah dari temuan material spesifik ini, langkah penelusuran serta observasi mendalam amat ditekankan. Fajar Alam mengimbau warga agar bersikap proaktif melaporkan barang temuan berwujud tertentu kepada kepala desa maupun jajaran Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kalimantan Timur yang bermarkas di Jalan H.A.M. Rifaddin, Samarinda. Pelaporan ini diproyeksikan untuk memfasilitasi pengukuran detail dari kacamata kebudayaan sekaligus menelisik identifikasi geologinya.
“Kalau ada temuan seperti itu, sebaiknya dilaporkan ke kepala desa, kemudian bisa juga dilaporkan ke BPK Kaltim,” tuturnya.
Warga yang menemukan pun tidak perlu merasa risau akan kehilangan barangnya ketika melapor. Seluruh tahapan observasi dan pendataan dipastikan berjalan aman sembari tetap menghargai hak sang penemu atas benda peninggalan tersebut.
“Biar bisa diukur, diobservasi. Barangnya bisa tetap ada di tangan penemu, sependek yang saya tahu,” tandasnya.(Sf/Rs)
Cari disini...
Liputan Khusus

Ketiban rezeki, warga Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, mendulang emas di tepian Sungai Mahakam, saat air surut karena kemarau. (FOTO: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Musim kemarau tahun 2026 ini membawa pemandangan tak biasa di Kutai Kartanegara (Kukar). Di tengah kepulan asap dan cuaca panas menyengat yang dikeluhkan tak hanya oleh warga Indonesia, tapi juga Malaysia, Singapura, Brunei bahkan Tailan, nyatanya tepian Sungai Mahakam mendadak riuh oleh kehadiran warga. Bukan karena asap, bukan karena kebakaran.
Warga di RT 01 dan 02, Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, tengah sibuk dan berkumpul memilah material pasir dan tanah. Mereka memanfaatkan kondisi air sungai yang menyusut drastis untuk mencari kepingan logam berwarna kuning yang diyakini sebagai emas. Fenomena langka ini sontak membangkitkan ingatan kolektif warga pada kejadian serupa puluhan tahun silam.
Warga menunjukkan hasil dulangan, berupa partikel kuning berkilau yang diyakini sebagai emas. (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)
Etah siapa yang pertama memulai, namun berbekal peralatan seadanya seperti wajan dan sekop, warga telaten menyusuri tepian sungai sejak matahari terbit. Aktivitas tradisional ini dengan cepat menjadi rutinitas harian yang menjanjikan harapan baru di tengah kemarau.
“Sudah semingguan kami mendulang emas di sini karena kondisi Sungai Mahakam sedang surut, dimulai sejak pagi sampai Magrib,” ujar warga RT 02 Desa Embalut, Alus, kepada awak redaksi Seputar Fakta, yang menyambangi lokasi pada Kamis (10/9/2026) lalu.
Hasil dari kerja keras di bawah terik matahari ini cukup beragam. Sebagian pendulang beruntung bisa mengumpulkan hingga setengah gram emas dalam sehari, sementara beberapa lainnya harus rela pulang dengan tangan kosong. Kepingan berharga yang terkumpul kemudian dikelola sesuai kebutuhan masing-masing individu.
“Ada warga yang menyimpan emasnya dan ada juga yang langsung menjualnya,” terangnya.
Untuk memudahkan transaksi, para pembeli tak segan datang langsung menghampiri lokasi pendulangan. Nilai jual yang ditawarkan pun terbilang sangat menggiurkan bagi perekonomian masyarakat setempat.
“Harganya Rp1,5 juta per gram karena pembelinya ngambil ke sini. Tapi kalau di Samarinda, harga yang ditawarkan tembus Rp1,8 juta untuk satu gramnya,” paparnya.
Menyusutnya debit air Sungai Mahakam hingga batas ekstrem ini merupakan momen yang sangat jarang terjadi. Alus menguraikan bahwa kondisi lingkungan sedemikian rupa terakhir kali disaksikan warga pada era sembilan puluhan.
“Kalau kondisi seperti ini, seingat saya pernah terjadi sekitar 1997. Memang tidak setiap tahun air surut sampai seperti sekarang,” ungkapnya.
Syukurnya, geliat ekonomi dadakan ini mendapat lampu hijau dari pemerintah desa. Kepala Desa Embalut, Yahya, menegaskan pencarian kepingan logam tersebut sah-sah saja dilakukan oleh masyarakat selama mempertahankan metode tradisional.
“Selama belum ada larangan karena masih dilakukan secara manual, kecuali menggunakan alat berat,” jelas Yahya.
Dukungan selaras datang dari Bhabinkamtibmas Polsek Tenggarong Seberang, BRIPKA Andar Sumaidi. Ia menekankan aparat kepolisian membolehkan warga mencari peruntungan, asalkan tetap menjauhi penggunaan alat berat yang berpotensi merusak ekosistem sungai, salah satunya mesin alkon penyedot.
“Kebanyakan warga hanya mendulang di bagian bibir sungai, bukan di dinding atau bagian yang bisa menyebabkan kerusakan. Kalau dari kami, silakan saja selama tidak merusak lingkungan. Yang penting warga menjaga keselamatan diri masing-masing dan jangan menggunakan alat yang dapat merusak,” tandasnya.
Kehebohan pendulangan di Desa Embalut turut memancing perhatian dari kalangan akademisi. Benda berwarna kuning yang ditemukan dalam berbagai bentuk fisik memunculkan tanda tanya besar mengenai asal-usul aslinya.
Kepala Prodi S1 Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Fajar Alam, menilai struktur formasi geologi kawasan tersebut belum cukup mendukung untuk memproduksi endapan emas secara mandiri.
“Secara geologi, di daerah Embalut itu, bahkan kalau ke hulunya sampai wilayah kampung-kampung tua, kondisi geologinya belum memungkinkan adanya temuan emas sebagai hasil proses geologi,” ujar Fajar Alam.
Dalam disiplin ilmu geologi, kemunculan emas alami sangat bergantung pada proses mineralisasi yang spesifik. Proses pembentukan ini membutuhkan interaksi batuan pada zona tertentu atau adanya aktivitas magmatik, seumpama peristiwa batu gamping yang mendapat terobosan dari batuan magmatik. Karakteristik alamiah semacam ini memiliki peluang lebih besar untuk ditemukan jauh di arah barat, tepatnya di kawasan kaki pegunungan wilayah perbatasan antara Kukar dan Kutai Barat. Material primer dari hulu sungai sejatinya memiliki kemungkinan terbawa arus air beserta proses pelapukan dan erosi hingga ke hilir, kendati peluangnya menipis untuk bisa menumpuk dalam jumlah masif di satu lokasi.
“Kalau ditanya apakah aliran sungai memungkinkan membawa butiran emas dari daerah sumber sampai ke Embalut, jawabannya mungkin saja. Tapi membutuhkan proses yang panjang,” terang Fajar Alam.
Kewaspadaan ekstra sangat diperlukan saat mengamati kepingan kuning kemilau tersebut. Fajar Alam mengingatkan keberadaan mineral besi sulfida dengan rumus kimia FeS₂ yang akrab disapa pirit. Kandungan sulfur serta besi di dalamnya memunculkan warna dan kilap logam yang sangat identik dengan wujud emas murni.
“Pirit itu kadang disebut emas palsu karena kilapnya seperti logam dan menyerupai emas,” jelasnya. Identifikasi secara langsung kemudian menjadi langkah mutlak guna memastikan apakah temuan warga adalah emas asli, pirit, atau sekadar jenis mineral lain yang memiliki rupa serupa.
Seandainya kepingan logam tersebut terbukti valid sebagai emas, terdapat sebuah hipotesis arkeologi yang sangat memikat. Dokumentasi warga memperlihatkan benda-benda kuning itu sekilas menyajikan wujud fisik menyerupai kail, jarum, hingga perhiasan liontin. Bentuk spesifik semacam ini menjadi indikator kuat keterlibatan campur tangan peradaban manusia.
“Kalau ada temuan emas di wilayah itu, saya menduga jangan-jangan ada bentuk atau kesan tertentu yang merupakan hasil objek budaya manusia,” katanya.
Sebuah artefak berbahan emas peninggalan era lampau amat rentan mengalami kerusakan wujud seiring berjalannya waktu. Saat benda tersebut bersemayam di ekosistem aliran sungai, benturan konstan dengan material keras maupun bebatuan akan memecahnya, mengubahnya menjadi partikel-partikel halus seukuran butiran pasir.
“Bisa saja memang itu emas, tapi merupakan hasil tumbukan atau hancuran dari benda yang dibuat manusia, misalnya perhiasan, kail, jarum atau benda lainnya yang berbahan emas,” ungkap Fajar Alam. Kesimpulan geologisnya turut memberi penegasan mengenai asal-muasal material temuan ini. “Kalau di Embalut, dugaan saya bukan seperti itu, melainkan sudah merupakan hasil budaya manusia,” tuturnya.
Kawasan Desa Embalut dan sekitarnya memang menyimpan rentetan riwayat historis yang amat panjang. Jauh sebelum kemerdekaan tahun 1945, bentang wilayah ini telah menaungi sebuah denyut peradaban. Bukti otentik sejarah kawasan bisa ditelusuri langsung ke wilayah Pulau Yupa yang menyimpan makam-makam tua beserta kepingan cerita mengenai eksistensi tokoh petinggi kampung masa silam.
“Artinya, kawasan tersebut merupakan wilayah yang sudah memiliki peradaban sejak masa lampau,” ujarnya.
Gaya rancang bangun hunian masyarakat terdahulu turut menyumbang penjelasan logis atas teori penyebaran benda ini. Hunian tradisional tempo dulu umumnya berdiri sebagai rumah kolong atau rumah panggung berlantai papan kayu. Celah-celah renggang pada lantai inilah yang memberikan jalan bagi barang berukuran mini untuk merosot jatuh ke permukaan tanah. Paparan aliran air, perubahan lingkungan, serta siklus pasang surut kemudian menggerakkan benda-benda tersebut secara perlahan hingga bermuara ke dasar badan sungai terdekat.
“Kalau kita membayangkan kampung-kampung tua dahulu, model rumahnya mungkin rumah kolong atau rumah panggung. Sangat mungkin ada bagian lantai yang renggang, sehingga barang-barang kecil bisa jatuh dari atas melalui celah lantai,” nyatanya.
Rekam jejak historis ini memiliki kemiripan dengan peristiwa penemuan koin-koin era pemerintahan Hindia Belanda di dasar kolong rumah warga kawasan Air Putih, Samarinda. Fakta empiris ini membuktikan barang peninggalan sanggup bertahan di sekitar lokasi permukiman hingga melampaui ratusan tahun. Kehadiran benda-benda berharga di habitat sungai terjadi sepenuhnya murni akibat unsur ketidaksengajaan.
“Intinya, benda itu bisa saja jatuh secara tidak sengaja. Apalagi kalau berupa barang-barang kecil. Tidak mungkin orang sengaja membuang emas,” ucapnya.
Mengingat signifikansi nilai sejarah dari temuan material spesifik ini, langkah penelusuran serta observasi mendalam amat ditekankan. Fajar Alam mengimbau warga agar bersikap proaktif melaporkan barang temuan berwujud tertentu kepada kepala desa maupun jajaran Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kalimantan Timur yang bermarkas di Jalan H.A.M. Rifaddin, Samarinda. Pelaporan ini diproyeksikan untuk memfasilitasi pengukuran detail dari kacamata kebudayaan sekaligus menelisik identifikasi geologinya.
“Kalau ada temuan seperti itu, sebaiknya dilaporkan ke kepala desa, kemudian bisa juga dilaporkan ke BPK Kaltim,” tuturnya.
Warga yang menemukan pun tidak perlu merasa risau akan kehilangan barangnya ketika melapor. Seluruh tahapan observasi dan pendataan dipastikan berjalan aman sembari tetap menghargai hak sang penemu atas benda peninggalan tersebut.
“Biar bisa diukur, diobservasi. Barangnya bisa tetap ada di tangan penemu, sependek yang saya tahu,” tandasnya.(Sf/Rs)